Romusha

Orang Eropa di Bawah Tirani Fasis

Politik

Ketika Jepang mulai memasuki Indonesia 8 Maret tahun 1942, sebenarnya pihak Belanda sudah bersiap untuk berperang melawan guna mempertahankan kekuasaan sampai titik darah penghabisan. Namun, kebulatan tekad dari Belanda itu sirna ketika melihat keganasan militer Jepang saat menyerang mereka secara terus menerus. Ya, Belanda kalah dan takluk ke Jepang. Ada yang tertawan, ada juga yang melarikan diri ke hutan ataupun tempat terpencil yang sulit ditemukan oleh militer Jepang. Bagaimana nasib warga sipil Belanda atau Eropa yang begitu banyak ketika Jepang sudah mengalahkan Belanda?

Setelah Gubernur Jendral van Starkenborgh menyerah kepada Jepang, dia ditangkap dan ditawan. Bukan hanya Gubernur Jendral saja, namun semua orang Belanda atau Eropa pun juga ditangkap. Wanita, laki-laki, tua, muda bahkan sampai anak kecil, balita juga ikut ditawan selama 3,5 tahun lamanya sebelum akhirnya Sekutu membebaskannya. Uniknya, Jepang tak menangkap orang Jerman atau Italia yang notabene adalah sekutu perang dari Jepang saat itu. Jepang pun menghancurkan ataupun menyingkirkan semua hal-hal yang berbau barat seperti Patung, arsip, bahasa, dan sebagainya. Hal ini berfungsi untuk menyingkirkan pengaruh-pengaruh dari barat dan menegaskan bahwa Jepang merupakan saudara seperjuangan dalam perang dan penyelamat bagi Asia termasuk Indonesia sendiri. Akibat propaganda seperti itu, masyarakat Indonesia menjadi agresif dan menyerang serdadu-serdadu dan warga sipil Belanda. Untuk menyelamatkan diri, satu-satunya cara yaitu menjadi tawanan pihak Jepang.

Menurut Ricklefs dalam buku Sejarah Indonesia Modern, selama setahun lamanya perkiraan tentang jumlah seluruh tawanan Jepang sekitar 170.000 orang, 65.000 orang diantaranya adalah tentara Belanda, 25.000 orang adalah serdadu-serdadu sekutu lainnya dan 80.000 adalah warga sipil (wanita dan anak-anak). Kondisi kamp-kamp tawanan sangatlah buruk. Kurang lebih 20 persen tawanan militer Belanda, 13 persen warga sipil wanita, dan 10 persen anak-anak meninggal dunia. Hal ini menandakan bahwa Jepang benar-benar tak pandang bulu soal penyingkiran dan menghapus pengaruh dari barat.

Dalam buku Recalling The Indies, Joost Cote menjelaskan bagaimana orang-orang Belanda dan sekutunya  mengalami kesengsaraan selama menjadi tawanan di kamp-kamp. Cote dalam bukunya tersebut mewawancarai 9 orang yang semuanya merupakan wanita. Contohnya, nyonya v P yang ditulis inisial menjelaskan bahwa gadis-gadis muda Belanda dan sekutunya diambil untuk dijadikan pelacur, bekerja di restoran-restoran, untuk melayani para militer Jepang. Tepatnya, mereka dijadikan sebagai Jugun Ianfu (perempuan yang dijadikan budak seks tentara Jepang). Kamp-kamp untuk tawanan Belanda terdapat hamper di seluruh pelosok Indonesia. Kamp yang paling banyak menampung terdapat di Jakarta. Orang-orang yang berada di luar Jakarta seperti Bogor, Bandung, Depok pun dipindah di Jakarta. Dalam wawancara dengan nyonya R., ia menerangkan bahwa neneknya yang berada di Madura pun juga dipindah ke Jakarta bersama tawanan lain dengan kereta yang akhirnya meninggal di tempat kamp. Seketika itu juga Jakarta menjadi sangat ramai dan penuh sesak dengan tawanan orang Belanda dan sekutunya. Tempat-tempat yang menjadi tawanan di Jakarta itu seperti Bukit Duri, Sluisweg (kini Matraman) yang menampung sebanyak 1000-3000 orang, Penjara di Glodok (500-1500 orang), Rumah Sakit Jiwa Grogol (1200 orang), Tanjung Priok (800 orang), Kampung Makassar (2000-3000 orang), Sekolah Tionghoa di Glodok (1000 orang), dll.

Ada yang menarik di kamp-kamp tawanan ini. Laki-laki dan perempuan dipisahkan guna mencegah terjadinya hubungan seksual. “Akibatnya terjadi hubungan homoseksual dan lesbian di kamp-kamp,” tulis Joost Cote dalam Recalling the Indies. Tidak hanya itu, para pasukan Dai Nippon yang menjaga kamp juga melakukan hubungan seksual terhadap tawanan-tawanan wanita. Secara bergiliran mereka melakukan hubungan itu terus menerus di dalam kamp tersebut.

Selain itu, ada beberapa kisah kesengsaraan yang dialami oleh beberapa tawanan di kamp. Misalnya nyonya W menceritakan bahwa ayahnya mengalami penyiksaan yang menyakitkan. Penyiksaan itu didapat setelah ada laporan dari orang Indonesia yang mengatakan bahwa ayah dari W kedapatan mendengarkan siaran radio BBC. “Saya tidak akan lupa apa yang mereka lakukan pada bapak saya. Kempetei (polisi militer Jepang) menahan dia bersama kakak saya. Kakak saya harus duduk di depan bapak dan harus menyaksikan bapak ditusuk dengan tongkat merah membara yang dibungkus batok kelapa yang dibakar. Kemudian dicap di muka bapak dalam waktu yang lama,” terang nyonya W.

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, pasukan Belanda kemudian kembali lagi ke Indonesia. Mereka memberikan counter kepada pihak Jepang yang sudah luluh lantah dalam peperangan. Ketika sudah memasuki dan mengontrol kembali Indonesia, Belanda bersama Sekutu mencari teman-temannya yang ditawan selama pendudukan Jepang. Saat ditemukan, kamp-kamp yang berisi kawan-kawannya itu kondisinya begitu menyedihkan. Kebanyakan mereka kelaparan, sakit, sehingga tubuh-tubuh mereka sangatlah kurus. Selama 3,5 tahun menduduki Indonesia, Jepang tak hanya saja menyengsarakan orang Belanda dan Eropa saja tapi orang Indonesia pun juga tak bisa luput dari keganasan bala tentara Dai Nippon yang sebelumya bilang bahwa mereka adalah saudara tua bangsa Indonesia.