Warkop: Komedi Para Pengkritik

Sosial Budaya

“…lahirlah apa yang disebut oleh Warkop sebagai “anak singkong”. Anak yang prosesnya seperti menanam singkong. Asal menancapkan batang, langsung tumbuh jadi anak singkong.”

(Warkop-Anak Singkong dan “The Baby Boom”)

Suatu hari di tahun 1973, tiga orang mahasiswa Universitas Indonesia (UI) tidak sengaja bertemu di Cibodas. Ketiganya merupakan peserta kegiatan  camping Mahasiswa Pecinta Alam UI dari Kampus Rawamangun. Kasino dan Nanu Mulyono dari Fakultas Ilmu Sosial. Satu lagi yaitu Rudi Badil dari Fakultas Sastra jurusan Antropologi.

Pertemuan yang tidak disengaja ini nantinya akan tercatat dalam sejarah dunia komedi dan hiburan Indonesia. Bagaimana tidak, pertemuan ini adalah tonggak awal lahirnya grup komedi paling legendaris di Indonesia yaitu Warkop. Sebuah grup komedi yang aktif mengocok perut jutaan pemirsa di tanah air dari tahun 1970-an hingga akhir 1990-an. Warkop bahkan menjadi pemantik munculnya grup-grup lawak modern seperti Bagito, Patrio, hingga Padhayangan Grup.

Warkop atau Warung Kopi pada awalnya adalah nama sebuah acara di Prambors, sebuah stasiun radio yang hits di kalangan kawula muda Jakarta dekade 70-an. Warkop dikemas dalam bentuk obrolan santai dengan topik-topik disekitar kehidupan masarakat biasa. Agar terasa seperti di warung kopi sungguhan, maka para pengisi acara yaitu Kasino, Badil, dan Nanu sering memerankan karakter yang berbeda-beda. Kasino yang pintar menirukan logat daerah sering berperan menjadi Uda (Padang), Acong (Tionghoa), dan Bli Ketut (Bali). Badil sering memerankan karakter Bang Holil dan Mr. James, sedangkan Nanu sering berperan menjadi perempuan dengan nama Tukinah atau orang Batak dengan nama Poltak.

Obrolan di Warung Kopi Prambors yang mengudara setiap malam Jumat ternyata disukai oleh banyak orang. Apalagi setelah bergabungnya Wahyu Sardono dari Jurusan Sosiologi FIS UI dan Indrojoyo Kusumonegoro dari Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila. Warkop menjadi semakin ramai dan ngehits dimana-mana. Bahkan akhirnya Warkop juga menjadi langganan acara offair dari panggung ke panggung. Tidak hanya di sekitar Jakarta, namun juga sampai ke pulau seberang macam Palembang dan Banjarmasin.

Naiknya pamor Warkop sebagai grup lawak papan atas di Indonesia tidak terlepas dari bentuk suguhannya yang segar dan merakyat. Materi-materi yang digunakan sebagai bahan candaan sangatlah dekat dengan masyarakat. Bahkan bisa dikatakan mereka sering menertawakan ironi-ironi kehidupan. Sebagai contoh dalam sebuah rekaman audio yang berjudul Pengen Melek Hukum, Warkop menceritakan ironi tentang ketidakpahaman orang-orang desa terhadap hukum dengan guyonan disertai sindiran-sindiran terhadap para penegak hukum.

Humor-humor yang berisi satir politik memang menjadi ciri tersendiri dari Warkop. Baik rekaman audio maupun film dari Warkop selalu berupa kritik terhadap kondisi yang ada. Misalkan saja tentang masyarakat Jakarta yang mulai materialistis dan  berbondong-bondong membeli barang dengan sistem kredit demi menjaga gengsinya. Fenomena yang terjadi menjelang dekade 80-an ini oleh Warkop diilustrasikan melalui dua buah filmnya yaitu ”Gengsi Dong” dan “Setan Kredit”.

Salah satu kritik paling terkenal dari Warkop adalah ketika mereka menyindir Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), dalam bentuk berita cuaca.

”…Angin akan berhembus sepoi-sepoi basah kalau di taman ada orang pacaran, tapi angin akan berembus kencang sekali kalau banyak orang main layangan. Namun angina hanya berani bertiup tidak lebih dari 5 kilometer perjam kalau lewat Kompleks ABRI.”

 

Melalu scene berita cuaca ini Warkop menyindir bagaimana galak dan menyeramkannya ABRI. Siapapun termasuk yang bertemu ABRI harus sopan dan hormat jika tidak ingin terkena hukuman.

Kritik tentang kondisi masyarakat tidak hanya disampaikan melalui sindiran. Warkop banyak membuat istilah-istilah yang sebenarnya sangat mengkritisi fenomena yang terjadi di masyarakat. Sepeti misalnya istilah BTL (Batak Tembak Langsung). Istilah ini melekat pada orang-orang yang ketika kuliah langsung ke Jakarta tanpa adanya pengenalan dan adaptasi terlebih dahulu terhadap kota besar. Ada lagi istilah yang sampai sekarang masih dipakai yaitu ”Anak Singkong”. Istilah anak singkong mengacu pada anak-anak kelas menengah yang lahir setelah berakhirnya masa perang. Orang tua mereka yang sebelumnya sibuk karena adanya perang berubah jadi pengangguran sehingga untuk mengisi waktu kebanyakan hanya “membikin anak”. Akhirnya lahirlah apa yang disebut oleh Warkop sebagai “anak singkong”. Anak yang prosesnya seperti menanam singkong. Asal menancapkan batang, langsung tumbuh jadi anak singkong.

Sepanjang hampir 25 tahun aktif dalam dunia komedi di Indonesia, Warkop banyak sekali melontarkan sindiran-sindiran. Budiarto Shambazy dalam buku Warkop: Main-main Jadi Bukan Main menyebutnya sebagai sebuah “satir politik”. Dari puluhan hingga ratusan satir politik tersebut, mungkin ada satu sindiran yang paling melegenda dan membekas diingatan. Sindiran ini selalu muncul di akhr film berbunyi “Tertawalah Sebelum Tertawa Itu di Larang”. Konon, menurut Indro, slogan ini adalah sindiran terhadap Orde Baru yang sering kali melakukan pelarangan dan pembatasan di berbagai sendi kehidupan. Mulai dari pelarangan kritik terhadap pemerintah, pelarangan berkumpul dan berdiskusi, hingga pelarangan bicara. Maka Warkop menganjurkan kepada masyarakat agar tertawa sebelum tertawa itu dilarang oleh penguasa (Orde Baru).