Untuk Apa Sejarah?

Rehal

Judul               : Apa Guna Sejarah?

Penulis            : A.L. Rowse

Tahun terbit    : 2015

Penerbit          : Komunitas Bambu

Tebal               : xii + 244 halaman

 

Belakangan kita begitu sering mendengar istilah Revolusi Industri 4.0. Banyak seminar, dialog atau hal-hal lain semacamnya yang diselenggarakan guna  menghadapi Revolusi Industri 4.0. Anehnya sedikit saja yang mau terlebih dahulu mengkaji apa sebenarnya Revolusi Industri 4.0. Satu hal yang pasti bahwa semua aspek kehidupan harus siap memasukinya. Termasuk dunia pendidikan tinggi. Belakangan bergulir wacana dari Kemenristekdikti agar perguruan-perguruan tinggi di Indonesia mengurangi jurusan kependidikan dan soshum (sosial humaniora) karena dianggap hanya lebih banyak menghasilkan pengangguran. Perguruan tinggi hendaknya memperbanyak jurusan yang langsung bisa diserap oleh dunia industri saat ini. Jurusan pendidikan dan soshum dengan demikian dianggap kurang relevan bagi perkembangan dunia industri khususnya Industri 4.0.

Apakah pandangan demikian itu benar? Lalu sebenarnya apa guna studi kependidikan dan soshum? Pertanyaan tersebut sebenarnya tidak baru dan sah-sah saja diajukan. Bukankah manusia adalah mahluk yang rasional. Sudah sewajarnya manusia mempertanyakan manfaat dari apa yang dikerjakannya. Hanya seringkali pertanyaan tersebut di Indonesia tidak mengarah kepada pergumulan yang membangun tetapi lebih ke ejekan belaka. Saya dan kita semua yang sejak SMA mengambil jurusan soshum lalu kuliah di jurusan soshum juga pasti sangat memahaminya. Saya di sini tidak bermaksud menjawab semua pertanyaan tersebut tetapi mencoba menunjukkan salah satu buku menarik yang akan menjawab untuk apa sejarah?

A.L. Rowse, sejarawan dan satrawan terkemuka dari Oxford Inggris menulis sebuah buku berjudul The Use of History yang pada versi Indonesia diterjemahkan menjadi “Apa Guna Sejarah?”. Sebuah judul yang sama sekali tanpa basa-basi. Buku tersebut terdiri dari pengantar, pendahuluan dan VIII bab isi yang membuktikan bahwa pertanyaan “apa guna sejarah?” tidak berhenti sebagai ejekan saja. Meski ditulis dalam konteks Inggris dan Amerika tahun 1960-an, sebagaimana dijelaskan sendiri oleh penulis dalam pengantarnya namun kiranya tidak mengurangi maknanya bagi kita. Bagaimana pun pertanyaan yang kita hadapi masih sama.

Gejala meninggikan ilmu eksakta dibanding ilmu soshum nyatanya bukan sesuatu yang khas Indonesia. A.L Rowse menyaksikan bahwa yang demikian terjadi pula di Inggris. Dia lalu membuat pertanyaan tandingan yang menarik. “Bagi saya sendiri, saya sangat meragukan manfaat dari saat-saat membosankan yang saya habiskan di laboratorium fisika dan kimia. Apa gunanya, saya pikir, membuat bebauan yang mengerikan, menimbang zat yang sulit diolah, dan mengingat rumus-rumus yang tak terhingga jumlahnya?” (halaman 1-2). Sepintas terkesan sebagai sekedar ejekan balik. Akan tetapi jika kita cermati lebih dalam ada upaya untuk menunjukkan bahwa orang cenderung menyanksikan bahkan memandang rendah hal-hal yang mereka tidak memahaminya.

Kita juga bisa sekaligus melihat bahwa tuduhan sejarah sebagai ilmu hafalan karena kecenderungan pembelajaran tertentu yang hanya menekankan pada model kronik (rangkaian waktu, tempat dan pelaku peristiwa besar tanpa ada penafsiran) juga bisa dikenakan pada ilmu alam. Saya pribadi ketika SMA pernah dihukum karena gagal menghafalkan tabel periodik unsur Kimia. Sejak saat itu saya kehilangan minat untuk melanjutkan studi di jurusan ilmu alam.

Jika sejarah diajarkan juga di sekolah maka tentu saja belajar sejarah sama manfaatnya dengan sekolah. Menyiapkan diri untuk masa depan yang lebih baik. Tentu jawaban yang terlalu teoritis. Maka A.L Rowse menunjukkan bahwa sejarah juga memiliki manfaat praktis misalnya menjanjikan jenjang karir tersendiri sebagai pendidik sejarah dan sejarawan. Selain itu sejarah banyak membantu berbagai profesi lain seperti bidang budaya, pustakaan, juru arsip, sekretaris, dan berbagai profesi lain sesuai tren yang berkembang.  Profesi seperti jurnalis, pamong praja terlebih diplomat juga akan lebih menguntungkan jika mereka yang menekuni memiliki pemahaman sejarah yang baik.

Menarik bahwa kemudian kegunaan sejarah diperlihatkan pada pengalaman Inggris sendiri dalam mengahadapi keadaan genting. Mengapa Inggris bisa melewati dua perang dunia dengan selamat sementara negara seperti Jerman tidak. Bagi A.L Rowse jawabannya adalah karena Inggris mau belajar dari sejarah. Kenyataannya Perdana Mentri Inggris pada masa PD II adalah Sir Winston Churchlill yang juga seorang sejarawan. Winston Churchill dengan kebijakan Grand Alliace (Persekutuan Agung) berhasil membawa Inggris selamat kelar dari Perang Dunia II. Berbeda dengan Hitler yang tidak belajar dari sejarah Jerman dan negara lain di Eropa yang pernah pula menjadi agressor seperti Prancis di bawah Napoleon.  Kalau kita cermati puncak kesalahan Hitler juga nyaris persis dengan yang pernah dilakukan Napoleon yaitu melakukan serangan besar ke Rusia.

Semua pemaparan tersebut dituliskan A.L. Rowse pada Bab I yang judulnya sama dengan judul buku itu sendiri. Maka pada dasarnya jika tujuannya adalah hanya menyediakan jawaban praktis dari pertanyaan apa guna sejarah, tujuan tersebut telah tercapai cukup dengan BAB I saja. Namun demikian bab-bab selanjutnya bergerak lebih jauh ke masalah lain yang tidak kalah menarik. Masalah apakah sejarah adalah ilmu atau seni, pemikiran sejarah, sejarah dan pendidikan, dan banyak contoh biografi (yang bagi A.L Rowse adalah pendekatan terbaik untuk mendalami sejarah) lalu ditutup dengan bab belajar sejarah secara otodidak.

“Apa Guna Sejarah?” dengan demikian mengukuhkan diri sebagai buku yang layak disimak oleh siapapun. Terutama mereka yang tak ingin pertanyaan apa guna sejarah hanya berhenti sebagai ejekan. Namun demikian ada juga hal yang menyulitkan. Kenyataan bahwa buku tersebut ditulis dengan tujuan pembaca Inggris dan Amerika membuat pembaca Indonesia akan sedikit kesulitan. Akan lebih baik jika ada prolog dan mungkin juga epilog dari sejarawan Indonesia yang secara khusus dibuat sebagai jembatan bagi pembaca Indonesia. Buku tersebut semoga juga bisa memacu sejarawan Indonesia untuk menulis buku serupa yang memang khusus ditujukan bagi pembaca Indonesia.

 

Sumber Gambar: Dok. Pribadi