TVRI: Warisan Asian Games 1962

Sosial Budaya

Indonesia kembali menjadi tuan rumah perhelatan olahraga se-Asia atau Asian Games yang akan dilaksanakan di Jakarta dan Palembang tahun ini. Ini adalah kali kedua Indonesia menjadi tuan rumah, setelah sebelumnya menjadi tuan rumah pada tahun 1962 di Jakarta.

Ketika ditunjuk pertama kali menjadi tuan rumah, Sukarno langsung membenahi wajah Jakarta sebagai kota tuan rumah. Tujuannya untuk menunjukan bahwa Indonesia adalah bangsa modern yang memiliki fasilitas memadai. Untuk itu, dibangunlah beberapa fasilitas mulai dari Stadion Utama Gelora Bung Karno, fasilitas penginanpan Hotel Indonesia (hotel berbintang dan bertaraf internasional pertama di Indonesia, perbaikan jalan juga tidak luput dari pembangunan.

Proyek besar ini sering disebut sebagai “Politik Mercusuar” dari Sukarno. Sampai saat ini, fasilitas-fasilitas tersebut masih bisa kita gunakan. Salah satu “warisan” faslitas lainnya dari persiapan Asian Games 1962 adalah Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Adalah Maladi, Menteri Penerangan tahun 1959-1962 yang mengusulkan kepada Sukarno agar Indonesia membangun stasiun televisi. Maladi percaya bahwa siaran olahraga melalui televisi akan membangkitkan nasionalisme dan kebanggaan bangsa yang sempat dikacaukan berbagai gejolak pada awal kemerdekaan Indonesia.

Persiapan Mepet hingga Pelatihan ke Luar Negeri

Persiapan pendirian TVRI dimulai sejak tahun 1961, yang digerakkan oleh panitia pendirian televisi. Panitia secara formal diundang rapat melalui keputusan menteri penerangan pada tanggal 25 Juli 1961. Panitia digerakkan di bawah arahan langsung Menteri Penerangan.

Melalui Keputusan Menteri Penerangan Nomor 20/SK/M/ 61 tanggal 25 Juli 1961, dibuatlah struktur Pembentukan Panitia Persiapan Televisi (P2TV).  M. Sutarto, Direktur Perusahaan Film Negara ditunjuk sebagai ketuanya. P2TV dalam menjalankan tugasnya bertanggung jawab dan mengikuti arahan Menteri penerangan. Beberapa ketentuan teknis yang harus diperhatikan oleh P2TV adalah:

  1. Stasiun TV yang dibangun harus dapat menyiarkan acara-acara Asian Games IV, minimal satu even setiap hari;
  2. Tinggi menara pemancar tidak boleh lebih dari 60 meter dan bersifat darurat karena menara TV yang permanen akan dibangun Pemerintah Pusat;
  3. Untuk sementara studio TV tidak dibangun dan akan dipikirkan setelah Asian Games IV selesai;
  4. P2TV tidak dibenarkan menentukan merek peralatan dan dari negara mana akan dibeli;
  5. Pembangunan sarana dan prasarana dilaksanakan oleh PN Adhi Karya dan PN Sabang Merauke dibawah pengawasan KUPAG (Komando Urusan Pembangunan Asian Games).

Sejak dibentuk, P2TV hanya memiliki waktu persiapan selama 10 bulan. Salah satu tugas P2TV adalah melakukan penelitian lokasi studio maupun pemancar. Setelah melalui penelitian lapangan, diputuskan pembangunan studio di Senayan, yang tadinya merupakan Kompleks Akademi Penerangan Indonesia.

Stasiun pemancar awalnya disarankan dibangun di atas Hotel Indonesia, dengan pertimbangan letaknya di tengah kota dan menara yang diperlukan cukup setinggi 45 meter. Usul lain disarankan didirikan di bekas Gedung Perfini, Jl. Tendean, karena pertimbangan dengan daya pancar sepuluh kilowatt dapat menjangkau hingga wilayah Bogor. Namun, keputusan akhirnya ditetapkan di lokasi TVRI, bersebelahan komplek Gelanggang Olah Raga yang dekat dengan kompleks berlangsungnya Asian Games IV.

Philip Kitley dalam bukunya Konstruksi Budaya Bangsa Di Layar Kaca menjelaskan bahwa untuk menciptakan tenaga penyiaran televisi, Maladi membentuk tim teknis berjumlah 20 orang. Tim tersebut diambil dari Pusat Perfilman Negara (PFN) dan Radio Republik Indonesia (RRI). Teknisi tersebut pada awal tahun 1962 dikirim keluar negeri untuk mempelajari tata cara penyiaran televisi selama tiga bulan. Sebanyak 16 orang dikirim untuk dilatih oleh tim NHK di Jepang. Sisanya mengikuti pelatihan di Inggris oleh tim BBC.

Siaran Pertama TVRI

Satu minggu sebelum pembukaan Asian Games, atas permintaan Presiden Soekarno, tim siaran TVRI memperlihatkan keahlian baru mereka dalam meliput acara. Kegiatan pertama yang mereka liput adalah Upacara Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 17 di Istana Negara. Acara ini berlangsung sekitar tiga setengah jam.

Puncaknya, tanggal 24 Agustus 1962 TVRI menyiarkan acara pembukaan Asian Games pada pukul 14.30. Setelahnya, tiap harinya menyiarkan peristiwa-peristiwa olahraga Asian Games selama minumun satu setengah jam. Waktu siaran ini meningkat sejak tanggal 1 September 1962 menjadi lima belas jam perharinya.

Menurut Kitley, siaran Asian Games merupakan panggung bagi Indonesia untuk mewujudkan diri sebagai bangsa yang modern kepada bangsa lain. Pada zamannya, di Asia hanya beberapa negara yang mempunyai siaran televisi. Negara tersebut adalah Jepang (1953), Filipina (1953), dan Thailand (1954). Karena dilakukan pada 56 tahun yang lalu, siaran liputan Asian Games adalah peristiwa televisi yang sungguh modern.

Penayangan televisi meskipun peristiwa besar bagi Indonesia, namun masih tidak jelas siapa yang mampu menikmati siaran ini. Keberadaan televisi masih sedikit di Indonesia. Rakyat Indonesia hanya mampu melihat gambar-gambar hitam putih pertandingan pada televisi yang disediakan untuk umum oleh Pemerintah Jakarta dan yang disediakan oleh perusahaan Gobel di lokasi strategis kota.

Menjelang Asian Games, Koran-koran mulai mengiklankan pesawat televisi bermerk Sharp berlayar 4 inci dan Grundig berlayar 23,5 inci. Perusahaan Philips, Ralin, dan Gobel memasarkan sekitar 5.000 pesawat televisi di Indonesia. Penjualan pesawat televisi meningkat ketika Asian Games berlangsung.

Pemerintah Indonesia sendiri memborong sekitar 10.000 pesawat televisi  yang kemudian dibagikan kepada beberapa pegawai negeri di berbagai departemen. Pesawat televisi merupakan barang baru dan mahal di Indonesia. Harga pesawat televisi mencapai dua puluh kali lipat gaji pegawai negeri di masa itu. Alhasil, akan sangat sulit bagi warga biasa untuk membeli alat tersebut.

Penyebaran pesawat televisi kepada pegawai negeri sendiri bertujuan agar dapat dipakai bersama-sama dengan para tetangga, sehingga lebih banyak warga yang dapat menyaksikan Asian Games. Dengan demikian, warga biasa yang tidak memiliki pesawat televisi tetap dapat menikmati tayangan Asian Games melalui layar kaca.

Siaran Asian Games terus berlangsung hingga tanggal 12 September 1962. TVRI berhenti sementara mengudara sejak tanggal tersebut. Ketika ditanyai alasannya, Sumartono salah satu anggota P2TV mengatakan bahwa TVRI belum ada program acara, “Belum terpikirkan program apa yang akan diberikan setelah Asian Games!”

 

Sumber gambar: link