Tomegoro “Arif” Yoshizumi

Tokoh

Tomegoro Yoshizumi dikirim oleh dinas militer Jepang ke Hindia Belanda pertama kali pada tahun 1932. Tomegoro diberikan tugas untuk memata-matai Hindia Belanda di tengah krisis ekonomi dunia. Tomegoro ketika itu menyamar sebagai pedagang kelontong dan seorang jurnalis. Strategi intelijen Jepang menyebar banyak agen ke wilayah selatan merupakan sebuah langkah untuk merebut Hindia Belanda.

Dalam pidatonya di sidang dewan rakyat yang terhimpun dalam Algemeene Beschouwingen in den Volksraad op 13 Juli 1934, M.H. Thamrin menyampaikan jika seorang pengamat militer negara jajahan yang ditugaskan oleh pemerintah Jepang bernama Takekoshi mengatakan bahwa “bangsa jang diperintah Pemerentah Belanda itoe tiadalah dapat madjoe lagi, karena dia mengetahoei keadaan Indonesia jang tertindas dan mengetahoei ketjerdasan otak bangsa Indonesia itoe.” Keyakinan pengamat militer tersebut bukanlah sebuah gertakan semata. Kalimat yang dilontarkan oleh analis militer Jepang yang juga menyamar sebagai penulis di Hindia Belanda tersebut berasal dari data-data yang diberikan oleh agen intelijen yang disebar oleh pemerintah Jepang.

Hindia Belanda kemudian jatuh ke tangan Jepang pada tahun 1942. Pemerintah Jepang yang berkuasa atas Hindia Belanda mengangkat Tomegoro sebagai penasihat militer dan sekaligus kepala intelijen Jepang dibawah pimpinan Tadashi Maeda. Jepang berkuasa dibumi nusantara hanya tiga tahun. Kekuasaan tersebut diserahkan kepada Belanda setelah kota Hiroshima dan Nagasaki dihancurkan oleh bom atom sekutu. Akan tetapi tokoh-tokoh Jepang yang masih mengingat tujuan perang asia timur masih ingin terus membantu bangsa Indonesia. Menurut Wenri Wanhar dalam buku Jejak Intel Jepang: Kisah Pembelotan Tomegoro Yoshizumi, tujuan awal perang itu menurut Jendral Araki adalah “menyerukan misi suci bangsa Jepang, yaitu mengikuti jalan kaisar (imperial way) untuk mengangkat bangsa Yamato dan dunia.”

Beberapa tokoh Jepang yang memihak kepada kemerdekaan Indonesia menganggap bahwa perang ini bukanlah perang antara Jepang dengan Belanda atau Indonesia dengan Belanda. Akan tetapi perang ini adalah perang bangsa Asia melawan bangsa Eropa. Di sisi lain, bergabungnya tokoh Jepang bagi kemerdekaan Indonesia dikarenakan adanya kebingungan di dalam hati mereka untuk pulang ke Jepang yang telah mengalami kegagalan.

Tomegoro Yoshizumi memutuskan bahwa ikut bergabung berjuang bersama bangsa Indonesia. Untuk itu, Tomegoro dan sahabatnya yaitu Shigetada Nishijima bertemu dengan Tan Malaka di kediaman Ahmad Subardjo. Pertemuan tersebut mendiskusikan berbagai macam hal terkait pelarian Tan Malaka, ideologi Marxisme, dan meruncing kepada curahan hati kedua tokoh Jepang tersebut.

Kedua tokoh Jepang tersebut mengungkapkan isi hatinya agar dapat menjadi seorang Indonesia. Pernyataan tersebut disambut oleh Tan Malaka dengan memberikan nama Indonesia “Arif” kepada Tomegoro Yoshizumi dan “Hakim” kepada Shigetada Nishijima. Peristiwa tersebut menjadikan kedua tokoh militer Jepang tersebut menjadi bagian dari bangsa Indonesia, bukan lagi bangsa Jepang. Oleh sebab itu, keduanya menyediakan markas kaigun bukanfu bagi pergerakan kemerdekaan Indonesia khususnya bagi persembunyian Tan Malaka yang merupakan buronan nomer wahid kempetai.

Menurut Wenri Wanhar, Tomegoro, Shigetada, Ahmad Subardjo dan Tadashi Maeda melangkah lebih jauh lagi pada bulan oktober 1944. Mereka berunding untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia yang telah dijanjikan oleh Jepang. Perundingan tersebut melahirkan sebuah lembaga dengan nama Asrama Indonesia Merdeka. Nama tersebut diperjuangkan oleh Tomegoro yang menentang usul Tadashi Maeda yang menginginkan lembaga yang didirikan harus menggunakan bahasa Jepang. Akan tetapi Tomegoro mengatakan bahwa “jika Maeda menyukai nama Yosei Juku biarlah. Tapi sebaiknya kita menggunakan nama Indonesia.”

Asrama Indonesia Merdeka didirikan untuk mempersiapkan pemuda-pemuda Indonesia agar dapat menerima kemerdekaannya dan segera membangkitkan bangsa Indonesia. Tokoh-tokoh penting bangsa Indonesia bahkan bergabung di dalamnya untuk memberikan pendidikan. Tokoh-tokoh bangsa Indonesia yang terlibat, menurut Wenri Wanhar antara lain “Sukarno mengajar sejarah gerakan nasionalis, Hatta mengajar gerakan koperasi, Subardjo mengajar hukum Internasional, Sjahrir mengajar prinsip-prinsip nasionalisme dan demokrasi, Iwa Kusuma Sumantri mengajar tentang perburuhan, Wikana memberi materi gerakan pemuda, Yoshizumi dan Nishijima memberikan materi perang gerilya dan pertanian.”

Tomegoro sangat aktif dalam pergerakan menuju kemerdekaan bangsa Indonesia. Tomegoro bahkan mampu membangun kelompok-kelompok gerilya di berbagai daerah. Tomegoro juga membantu merebut senjata pasukan Jepang yang ada di Bali untuk digunakan oleh pejuang kemerdekaan. Pengabdian tomegoro bagi bangsa Indonesia berakhir pada tanggal 10 Agustus 1948. Tomegoro gugur ketika ikut serta bergerilya bersama bangsa Indonesia di wilayah Gunung Sengon. “dia dimakamkan di makam angkatan darat sekitar Blitar.” tulis Wenri Wanhar. Saat ini makamnya dapat dijumpai di Taman Makam Pahlawan Raden Widjaja, Blitar.