Tertawa di Masa Kolonial Bersama Tjamboek Berdoeri

Rehal

Tjamboek Berdoeri adalah nama pena yang dipilih oleh Kwee Thiam Tjing ketika menjadi kolumnis di Pewarta Soerabaja pada 1924. Namanya terdengar menakutkan, dan anehnya sekaligus memesona. Akan tetapi, membaca tulisannya yang dikumpulkan oleh Ben Anderson dalam buku Mendjadi Tjamboek Berdoeri, persepsi atas namanya yang begitu garang, akan luruh. Buku ini adalah hasil dari proses pencarian Ben, setelah dia terpesona dengan buku Indonesia dalam Api dan Bara, laporan jurnalistik Thiam Tjing seputar kota Malang pada masa sekitar Revolusi.

Butuh 40 tahun bagi Ben untuk menemukan pewaris Thiam Tjing. Seperti yang diberitakan Tempo, pertemuan Ben dengan cucu Thiam Tjing, Kwee Hing Sian, terjadi secara tidak sengaja. Kebetulan tukang pijat Ben yang mendengar keluh kesahnya, mengenal langsung cucu dari Kwee Thiam Tjing. “Dia sangat peduli dengan keadaan Indonesia. Kalau menurut saya, buat apa dia yang seorang profesor di Amerika begitu cintanya dengan indonesia, kepada buku itu, kepada ayah saya…” Kata Hing Sian tentang Ben.

Tulisan di dalam buku ini pertama kali terbit di Indonesia Raya pimpinan Mochtar Lubis pada 22 Juli 1971. Setelah itu muncul secara berkala hingga 28 Juli 1973. Menurut Arief W. Djati selaku penyusun, kumpulan Thiam Tjing ini memang diniatkan untuk terbit, seperti yang dijanjikan Mochtar Lubis. Namun entah mengapa, hal tersebut tidak juga terwujud. Satu tahun setelah tulisan terakhirnya terbit, tepatnya pada 28 Mei 1974, Kwee Thiam Tjing meninggal dunia.

Jikalau anda sedang luang dan butuh hiburan dan pengetahuan, saya akan langsung merekomendasikan buku Tjamboek Berdoeri. Buku ini penting untuk melihat Indonesia masa Kolonial secara kecil, dalam artian, melihat dinamika masyarakat lapisan menengah ke bawah, melalui kehidupan yang dituliskan oleh si Tjamboek Berdoeri. Saya pikir cara melihat seperti itu yang akan membuat kita tidak memandang sejarah secara hitam putih.

Ketika pengantar penyunting mengatakan bahwa buku ini tetap mempertahankan keaslian tulisannya (termasuk ejaan dan juga beberapa kata yang hilang), saya nyaris khawatir tidak akan bisa menikmati isinya. Tebakan saya salah, adegan demi adegan digambarkan laiknya komedi. Sejenak saya membayangkan, Thiam Tjing adalah pemuda usil dan nyinyir yang awas terhadap kondisi sekitarnya.

Bagian pertama buku bercerita tentang kenangan masa lalu Thiam Tjing pada masa kolonial. Salah satu isinya berupa kepingan cerita ketika dia dimasukkan penjara. Ngenes-kah nasibnya? Tidak juga. Justru yang ada adalah serentetan kekonyolan. Seperti ketika dia menjahili tetangga selnya karena terus-menerus menangis, atau nyaris membuat bangsal sel lain ngamuk karena dia memenuhi penjara dengan asap untuk menghilangkan nyamuk!

Cerita jenaka tidak berhenti hanya di situ. Tengoklah cerita Thiam Tjing ketika menjadi anggota Stadswatch (organisasi penjaga keamanan kota yang anggotanya berasal dari berbagai ras), “Bagaimana hendak bendung gelombang serdadu Djepang dengan tjuma kekuatan enam Lee Enfield [senapan modern masa itu]  dan satu parabellum [pistol setaraf, bikinan Jerman], ini tjuma Tuhan yang tahu. Kalau saja bayangkan kembali itu semua rasanja seperti lagi main ketoprak sadja.” (Hal.16)

Thiam Tjing bekerja sebagai jurnalis di koran Soeara Poeblik. Pada artikelnya di Wild Wes Djournalism yang terbit pada rentang waktu 25-28 Februari 1972, baginya orang-orang yang bekerja dalam pers dengan tingkat solidaritas rendah, biasanya masuk dalam golongan kelas nol. “…paling-paling cuma bisa isi ruwangan kabar kota dengan kantor polisi sebagai sumbernja” (hal. 62). Sebagai orang yang masuk keluar penjara, dia merasakan sokongan moral maupun material dari banyak kawan jurnalis lain, sehingga perilaku tidak berbagi adalah hal yang aneh baginya.

“Ia tidak ada bakat mendjadi djurnalis. Tetapi ja, apa mau dikata? Ini wapenbroeder [kawan seperjuangan] terlalu bangga dengan ia punja perskaart [kartu pers].” Melihat bagaimana dia menggambarkan kehidupan jurnalis masa itu yang bahkan tidak memusingkan kesejahteraan rumah tangga, saya pikir Thiam Tjing sedang mengejek para jurnalis yang miskin wacana.

Oh iya, dari buku ini saya juga sadar bahwa profesi jurnalis memang disegani kalangan birokrat. Ketika tidak sengaja Thiam Tjing dijadikan satu blok sel dengan orang-orang komunis yang ditangkap setelah persitiwa 1926, salah satu pejabat birokrat marah betul. Tidak lain karena dikhawatirkan Thiam Tjing akan ikut menghasut. Lucunya, si Thiam Tjing ini senang ketika akhirnya dipindah dari blok komunis tersebut. Tidak lain karena komunis yang ditangkap sedang merencanakan mogok makan!

Thiam Tjing juga masih mendapat bacaan. Sekalipun koran yang diberikan sudah basi dua bulan, tetapi dia diperbolehkan membaca buku anak-anak, seperti Dik Trom, Hein Stav East, Mustang, serta het wonderpaard van Winnetou. Buku yang terakhir adalah seri Winnetou dari pengarang terkenal, Karl May. Ceritanya banyak menjadi bagian dari masa kecil penulis-penulis hebat.

Ada banyak hal lain yang dibicarakan Thiam Tjing, tetapi yang paling membuat saya tertarik adalah sikapnya ketika melihat manusia lain. Hindia-Belanda pada masa 1930-an tidaklah diisi oleh ras tunggal. Ada Tionghoa, Indo, Eropa, dan juga Inlander. Atau gampangnya begini, Nederlander en niet Nederlander. Perbedaan perlakuan yang diterima tiap orang dipenjara menjadi kejengkelan Thiam Tjing.

Urusan makan dan juga fasilitas penjara bisa jadi sangat berbeda. Ketika salah seorang Profesor mengunjungi selnya, dengan niat untuk mengajak dia ikut ke dalam kelas yang mengajarkan hidup baik, Thiam Tjing dengan tegas menolak. Dia tidak membenci kolonial, karena sebagain teman karibnya juga berasal dari ras yang berbeda. Tapi yang dia benci adalah perbedaan perlakukan bagi tiap-tiap ras. “Bisakah diuruk hal tersebut?” Tanya Thiam Tjing. Kira-kira begini jawab si Profesor “Akan membutuhkan biaya yang besar, Kandjeng Gubernur tidak memiliki banyak uang.”

Buntut perbedaan ras ini membuat Thiam Tjing harus pula menegaskan nasionalismenya. “…Saja dengan djelas terangkan bahwa saja ini orang Indonesia keturunan Tionghoa. Sudah tudjuh turunan keluarga saja ada disini, lahir disini, djadi dewasa, anak beranak, tua, mati dan dikubur di sini djuga… Kalau mondok selama tudjuh turunan, itu sudah tidak bisa disebut mondok lagi, bukan?”

Membaca buku ini rasanya gatal untuk tidak menuliskan ulang cerita-cerita yang ditulis oleh Thiam Tjing. Ringan dan jenaka. Tentu saja buku ini tidak akan menjadi rujukan di kelas perkuliahan ketika membahas sejarah Indonesia masa kolonial. Padahal saya berharap, cerita-cerita kecil seperti ini akan membawa gambaran yang lebih terang tentang kehidupan orang-orang pada mas itu. Bagi saya, Tjamboek Berdoeri berhasil memberikan sedikit pengalaman bagaimana hidup di masa kolonial.

Ketika buku ini terbit, selayaknya kita haturkan terima kasih kepada Ben Anderson (dan juga Arief W. Djati tentu saja!) yang dengan susah payah membuat kumpulan tulisan ini terbit. Jika mencari infromasi di internet perihal Tjamboek Berdoeri atau Kwee Thiam Tjing, bisa dipastikan nyaris sebagian besar informasi diambil dari cuplikan memoar yang disusun oleh kedua orang tersebut.

Oleh karena itu, mengapa tidak jadikan buku ini sebagai teman di akhir pekan?