Tentang Buku Harian

Pustaka Sastra

oleh: Joko Lelono

Aku punya beberapa buku harian. Mungkin tiga atau empat. Ada yang kutinggalkan karena halaman-halamannya telah penuh dengan tulisanku. Ada juga yang tak pernah aku memenuhinya. Jika kembali aku berusaha membaca salah satu diantaranya selalu aku tidak sanggup bertahan lama. Alangkah lucu membaca kisah yang itu nyata dan kau sendiri pemeran utamanya. Jika itu kisah orang lain apalagi fiksi terasa lebih ringan. Aku bisa menggerutu mengapa dia si tokoh utama bertingkah begini dan tidak begitu. Baru ketika membaca buku harianmu sendiri kau tahu butuh lebih dari pengetahuan untuk mengubah keadaan.

Buku-buku harian itu terpencar. Aku tidak menatanya dalam satu tempat dengan rapi. Ha, memang aku tak pernah punya bakat dalam hal kerapian. Persis sama dengan ketiadaan bakatku pada seni. Aku pernah mencoba merapikan tapi tidak bertahan lama. Sama seperti percobaanku kepada seni. Tidak pernah bertahan lama.

Kamarku kaku seperti gudang. Ruang belajarku bahkan lebih aneh lagi. Aku duduk menghadap pintu dan jendela. Anehnya di belakang sebelah kananku langsung mengarah ke pintu keluar rumah. Kau menulis sembari siap setiap saat dari belakangmu ada tamu yang datang, entah diundang atau tidak. Sebenarnya ada banyak ruang di rumah ini hanya tata letaknya yang janggal menjadikan keadaan sulit. Ruang-ruang di sini memang tak dibangun serentak. Jadilah begitu kentara banyak hasil tambal sulam sebagai pemanfaatan sisa material belaka. Dan memang begitulah kenyataannya.

Sudah dua atau tiga bulan sejak buku harian terakhirku habis. Aku belum memulai yang baru. Dari mana semua harus kembali dimulai? Buku-buku yang tak selesai atau buku baru dari toko. Lain dari itu apa yang mau ku tulis? Aku tidak punya hidup yang kisahnya menarik disimak layaknya di film atau bacaan-bacaan populer yang konon diangkat dari kisah nyata. Terlebih belakangan hidupku lebih tidak menarik lagi. Mengapa? Nanti kau akan tahu.

Tentang identitasku sepertinya juga sama sekali tidak penting. Barangkali aku memang satu individu yang unik tetapi di saat yang sama aku adalah bagian dari spesies yang populasinya telah memenuhi bumi hingga spesies lain tergusur dari habitatnya. Ya begitulah homo sapiens. Spesies yang muncul paling belakangan tetapi selalu merasa paling sempurna. Merasa sebagai mata terakhir rantai perkembangan segala mahluk hidup.

Homo sapiens selalu merasa paling berhak atas bumi dan seisinya daripada spesies lain. Semua dianggap hanya pelengkap yang adanya tidak lain adalah demi kepentingan sang homo sapiens. Pernahkan kalian berpikir rasanya menjadi pohon di hutan atau ikan di sungai? Tentu saja tidak dan tidak akan pernah. Apa pentingnya. Oh bukankah sekali lagi seluruh dunia dan seisinya ini ada untuk kita.

Hei apa yang tadi kita bicarakan. Bukankah aku tadi memulai dengan buku-buku harianku. Maka mari kita kembali kepadanya. Mari bantu aku mengingat kapan pertama kali aku kenal “buku harian”. Oh ya tentu saja di sekolah pada pelajaran bahasa Indonesia. Lalu menurutmu aku langsung akrab begitu mengenalnya? Tentu saja tidak. Aku, ku kira sama dengan kebanyakan anak sekolah di negeri ini. Apa yang dipelajari di sekolah tinggal berakhir bersama berakhirnya pelajaran itu. Bertahun-tahun kemudian baru aku coba memulai satu. Tepatnya setelah aku lulus kuliah dan mulai praktek menjadi seorang guru.

Buku harian itu pada mulanya tidak lepas dari catatan pribadiku tentang kegiatan mengajar. Mengajar lebih dari satu kelas dan satu pelajaran tentu kadang kau lupa sampai di mana pertemuan sebelumnya. Jadilah aku buat catatan kecil yang juga mencatat hal-hal tentang peserta didik. Cukup membantu setibanya di akhir semester aku harus mengerjakan penilaian kepada para siswa.

Setelah kupikir lagi apa tidak aneh bahwa pada zaman yang sekarang ini kita masih mau repot dengan buku harian. Untuk apa barang itu. Jika kau bukan orang terkenal sampai mampus juga tak kan ada yang membacanya. Lagipula dunia sudah banyak berubah. Ini era revolusi industri 4.0 Bung dan Nona. Orang sudah jadi milyarder dengan Youtube dan Instagram sedang kau masih mau kere dengan buku harian. Alangkah menyedihkan.

Masa itu barangkali sudah lewat. Masa kejayaan buku harian. Kau tidak berharap bernasib seperti Anne Frank bukan? Meraih ketenaran karena buku hariannya justru setelah kematiaannya. Dan jika menjadi orang tua apa kau masih mau menghadiahkan buku harian untuk ulang tahun ke-13 dari anakmu. Apa angka itu juga kebetulan saja. Angka tiga belas yang konon angka sial di dunia barat sana sialnya adalah juga angka tanggal kelahiranku. Oh, maaf aku telah kelepasan membeberkan satu bagian penting identitasku.

Sampai di sini aku akan mengakhiri, semoga untuk sementara.

Manduro, 27 Februari 2019

Sumber Gambar: link