Sukarno: Si Penyambung Jodoh Hatta

Tokoh

Dalam bukunya Untuk Negeriku yang terdiri dalam III jilid, Mohammad Hatta menuliskan lahir tanggal 12 Agustus 1902 di Bukit Tinggi (Fort de Kock di masa Hindia-Belanda). Namun, Hatta baru menikah di usia yang sudah terbilang tua yakni 43 tahun atau setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan. Padahal, tak ada orang yang pernah meragukan dengan kapsitas yang dimiliki salah satu proklamator bangsa ini. Hatta dikenal jujur, disiplin, sederhana, berani dan tekad yang luar biasa. Namun modal itu rupanya belum menghantarkan Hatta dengan jodohnya pada saat sebelum Indonesia merdeka. Sebenarnya, apa sebabnya? Rupanya setelah ditelisik, lewat otobiografinya tersebut Hatta menuliskan dia baru mau menikah jika Indonesia sudah mencapai atau meraih kemerdekaan Indonesia dari penjajah. Padahal jauh sebelum merdeka, Presiden Pertama RI atau sahabat karibnya, Ir. Sukarno sudah mendesak Hatta untuk segera menikah. Sukarno sendiri sudah 3 kali menikah sampai Indonesia merdeka atau 9 kali menikah sampai akhir hayatnya. Pertama, dengan anak HOS Tjokroaminoto, Siti Utari Tjokroaminoto. Kedua dengan Inggit Gnarsih dan yang ketiga dengan muridnya waktu mengajar di Bengkulu dalam pengasingannya, Fatmawati.

Dalam buku Sukarno-Hatta Bukan Proklamator Paksaan, saat Indonesia sudah merdeka, Sukarno tak jenuh mengingatkan temannya itu. “Kapan menikah?”, celetuk Sukarno. Rupanya, diam-diam Sukarno mencarikan jodoh buat Hatta. Sukarno menunjuk gadis-gadis kepada Hatta setiap mereka jalan bersama. Akan tetapi, Sukarno harus memendam kekecewaan karena selalu mendapatkan penolakan Hatta atau secara halus tak mengiyakan tawaran itu. Sukarno bingung dengan selera Hatta soal perempuan. Tapi penolakan itu tak menghentikan Sukarno untuk mencarikan jodoh untuk teman seperjuangannya itu. Bagaimana tak menyerah, Hatta saja tak menunjukkan gerak-geriknya dalam mencari jodoh. Maklum saja Sukarno sangat getol mencarikan jodoh buat kawannya itu. Mungkin ini menjadi kerisihan tersendiri bagi Sukarno di samping dalam mendirikan negara yang baru saja dibentuk dan kerisihan tersebut harus diselesaikan.

Suatu ketika keduanya sedang berkunjung ke Lembaga Pasteur di Bandung. Dalam Pasteur tersebut ada sesosok perempuan bernama Rahmi yang bekerja disitu. Pada saat melihat Rahmi, Sukarno melancarkan serangan ke Hatta lalu berbisik, “Yang itu mau?”. Hatta pun rupanya tak kuasa menolak tawaran itu. Hatta melihat kesempurnaan yang ada pada sosok Rahmi. Gadis itu memang menarik perhatian. Raut wajahnya manis, dengan aura aristokrat. Pembawaan yang kalem dan tenang. Tutur katanya lemah lembut, dengan aksen Jawa kebelanda-belandaan. Ternyata Rahmi merupakan putri dari kenalan lama Sukarno, Abdul Rachim. Rahmi dengan nama lengkap Siti Rahmiati atau biasa dipanggil dengan Yuke lahir dan dibesarkan di Bandung. Ayahnya lahir di Purworejo, Jawa Tengah dan sedangkan Ibunya, Anni Rachim Nurdin berasal dari Aceh.

Terselip ada kejadian menarik dalam peristiwa meminang Rahmi. Hatta sendiri entah malu atau kenapa, Sukarno-lah yang malah turun tangan membantu sahabatnya untuk meminang Yuke. Hatta yang notabene seorang Wakil Presiden tak turun sendiri langsung meminang Yuke. Malah, Sukarno yang seorang Presiden, sahabatnya, mewakilkan Hatta dalam meminang Yuke. Presiden mencomblangkan Wakil Presiden! Hatta pun tak berpikir lama dan membiarkan Sukarno mendatangi rumah orang tua gadis itu untuk membantu melamarnya.

Dalam buku Bung Hatta Pribadinya Dalam Kenangan, ibunda Yuke menceritakan kisah saat Sukarno datang melamar:

“Begini”, kata Sukarno, saya ingin melamar”.

“Melamar siapa?”

“Melamar Rahmi”, jawab Sukarno.

“Untuk siapa?”

“Untuk teman saya, Hatta”, kata Sukarno dengan tenang.

Pada saat acara melamar tersebut, Sukarno saat itu datang bersama dokter pribadinya, dr. Suharto. Menurut dr. Suharto, ketika ia datang bersama Sukarno, Yuke sedang bermain piano. Kepada kedua orang tua Yuke, Sukarno menyampaikan niatannya untuk melamar. Ketika itu pun Abdul dan Anni terkejut. Bagaimana nggak terkejut, Sukarno sendiri sudah punya istri dan tiba-tiba datang melamar anaknya, Yuke. Namun, Sukarno bilang bahwa dia melawar Yuke untuk sahabatnya, Hatta. Dengan pengalaman dan ketenangan seorang Sukarno dalam melamar, Rahmi pun menerima pinangan Hatta yang diwakili Sukarno. Sebenarnya saat itu, Yuke baru berusia 19 tahun dan terpaut cukup jauh 24 tahun dengan Hatta yang saat itu berumur 43 tahun. Ketika itu sebenarnya kedua orang tua Rahmi keberatan karena perbedaan usia antara keduanya. Krena usia Yuke sudah 19 tahun, kedua orang tuanya sudah menganggap dia cukup dewasa dan bisa memutuskan sendiri.

Setelah itu, Ibunda Yuke pun masuk ke kamar anaknya dan menyampaikan bahwa ada yang melamarnya.

Yuke pun bereaksi, “Mahasiswa mana yang mau melamar saya?”

Ibunya menjawab, “ Ini bukan mahasiwa! Dia orang baik. Mohammad Hatta.

Adiknya, Raharty (Titi) berkata, “Jangan mau Yu, sudah tua”.

Rahmi pun menimbang lamaran tersebut apakah ia terima atau tolak. Yuke galau, ragu-ragu karena perbedaan usia yang jauh dan orang yang mau menikahinya pun bukan orang sembarangan. Guna mengusir keraguannya, Yuke pun keluar kamar dan menemui Sukarno. Yuke berkata ke Sukarno, “Saya takut, Om”. Yuke merasa dirinya bodoh, sedangkan Hatta merupakan seorang yang sangat pandai. Sukarno pun menangkap keraguan Rahmi dan Sang Presiden pun berusaha meyakinkan Rahmi bahwa tak perlu ragu menerima lamaran Hatta. “Tidak perlu takut. Hatta adalah orang baik dan jujur”. Sukarno juga menambahkan bahwa Hatta adalah seorang pemimpin dan sahabat yang baik. Beliau juga meyakinkan Yuke bahwa dia tak perlu ragu dan takut ataupun kecewa karena Hatta adalah orang yang berbudi luhur dan mempunyai prinsip yang tegas. Rupanya, tawaran dan kata-kata yang dikeluarkan oleh Sukarno benar-benar masuk ke hati Rahmi. Dia heran dan tak terbayangkan bahwa ada orang besar sekelas Wakil Presiden, salah seorang pendiri bangsa, mau melamar gadis yang baru menginjak usia 19 tahun. Hal itu menjadi pengalaman tersendiri bagi Yuke. Menurut Raharty, Yuke sangat kagum pada Hatta, serta tertarik pada kesungguhan dan kepandaiannya.

Pada tanggal 18 November 1945 atau sebulan setelah Indonesia merdeka, Hatta dan Rahmi melangsungkan pernikahannya secara sederhana. Hatta tak ingin pernikahannya diadakan secara besar-besaran dan tidak ingin mengundang banyak orang. Maka, pesta itu pun diadakan di dekat kediaman keluarga Yuke di Bandung. Hatta memang terkenal dengan kesederhanaannya. Padahal sebagai wakil presiden dan berasal dari keluarga yang terpandang di kampungnya, Hatta bisa saja bikin pesta yang besar. Tapi, ia tak tergoda untuk menyelenggarakan pesta pernikahan yang mewah. Rahmi dan keluarganya pun juga menerima apa adanya. Bagaimana tidak, mendapat menantu seorang Penjabat Negara seorang Wakil Presiden merupakan kebanggaan tersendiri bagi Keluarga Rahmi. Pernikahan itu sendiri didampingi Sukarno dan istrinya, Fatmawati sekaligus menjadi saksi nikah.

Pada acara pernikahan, ada kejadian menarik di sini. Hatta memberi maskawin yang tak biasa ke Rahmi yaitu dengan sebuah buku karangannya yang berjudul Alam Pikiran Yunani. Melihat anaknya memberi maskawin berupa buku, ibunda Hatta, Saleha, merasa tidak senang. Sudah menjadi adat-istiadat, maskawin biasanya berupa perhiasan berharga. Hal ini jelas menyalahi kodrat dari keluarga Hatta yang notabene merupakan keluarga terpandang, keturunan saudagar besar. Ibunda berpikir, mungkin Hatta tak mampu membeli perhiasan. Lalu kemudian Ibunda pun berkata ke Hatta, “saya mempunyai beberapa uang emas yang besar-besar, berikan itu juga sebagai maskawin.” Tawaran perhiasan emas yang ditawarkan oleh Ibunda untuk diberikan sebagai maskawin ditolak oleh Hatta. Ia tetap teguh pada pendiriannya. Bagi Hatta, merupakan kebanggaan tersendiri bahwa pada hari pernikahannya, ia dapat memberikan buah pemikirannya kepada calon istrinya. Buah pemikiran yang dihasilkan tersebut berasal dari pengasingannya selama di Boven Digul. Karya tersebut menurut Hatta adalah barang mewah yang bernilai tinggi. Maka dari itu, Hatta mempersembahkan buku hasil pemikirannya sebagai maskawin. Lagi, Hatta menunjukkan kesederhanaan yang nyata.

Pernikahan Hatta dan Rahmi berlangsung dengan adat Sunda, karena Yuke lahir dan dibesarkan di Bandung. Villa di sekitar Megamendung hijau nan sejuk menjadi tempat yang pas bagi pasangan yang sedang dilanda kebahagiaan. Hatta mengenakan setelan putih dan berpeci hitam. Sedangkan Rahmi bagaikan peri hutan nan cantik dengan mengenakan sanggul rangkaian melati, kebaya kuning bertabur payet, dipadankan dengan kain batik berperada indah. Pesta yang berlangsung secara sederhana ini berujung dengan lahirnya 3 perempuan cantik, Meutia, Gemala, Halida yang disertai dengan akhiran nama ayah mereka, Hatta.

Sukarno dan Hatta merupakan dwitunggal yang bisa dikatakan hampir sempurna. Dalam politik, tentu perbedaan selalu ada dan hal biasa pada mereka berdua. Bahkan tak ayal, perbedaan ini membuat situasi hubungan panas bagi keduanya. Namun dalam hal pribadi, mereka menunjukkan kebersamaan dan simbol persahabatan yang kuat. Jadi, tak ayal jika persahabatan mereka menjadi pendingin bagi perbedaan politik mereka yang panas. Hal itu ditunjukkan sampai akhir hayat mereka. Saling melempar, menyerang dengan kritik yang tajam tak membuat persahabatan mereka putus. Politik tetaplah urusan di politik. Namun jika sudah menyangkut dengan persahabatan di keduanya, mereka bagai dua gambar mata uang yang tak bisa dipisahkan. Tertarikkah anda mengikuti jalan asmara Hatta?