SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO IX: RAJA UNIK NAN SEDERHANA

Warawirya

“….Walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap orang Jawa.”

Kutipan di atas merupakan cuplikan serangkaian pidato progresif GRM Dorodjatun dalam penobatan sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono IX di hadapan rakyat dan para pejabat Hindia-Belanda saat itu.

Hal ini jelas mengejutkan pejabat Hindia-Belanda yang hadir karena Belanda sendiri ingin menjadikan Hamengku Buwono IX sebagai alat untuk menguasai tanah Jawa.

Belanda mengira bakal mudah bernegosiasi dengan Dorodjatun karena ia merupakan bekas mahasiswa Leiden yang notabene merupakan Universitas terkemuka di Belanda. Sialnya, jalannya perundingan tak semudah yang dibayangkan. Berbagai utusan dari Belanda datang silih berganti menemui Dorodjatun (nama kecil HB IX) untuk menandatangani kontrak antara Belanda dan Kerajaan Yogyakarta. Hasilnya, nol.

Puncaknya Gubernur Belanda di Yogyakarta, Dr. Adam maju untuk bernegosiasi dengan Dorodjatun. Gubernur Adam pun juga menemui kegagalan seperti utusan-utusan sebelumnya dan mengatakan bahwa Dorodjatun mempunyai watak yang keras kepala.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, perundingan yang dilakukan Dorodjatun dan Dr. Adam tak menemui kata sepakat antara keduanya. Hal ini jelas menjadi tamparan sendiri bagi Gubernur Adam yang merupakan pejabat berpengalaman, namun tidak bisa menaklukkan calon raja yang masih muda itu. Sedangkan Dorodjatun sendiri sama sekali belum pernah merasakan beban yang sangat berat di pundaknya dan tekanan batin yang begitu meresahkan sebelumnya. Dorodjatun menyadari kalau sampai salah sedikit saja dalam mengambil keputusan, hal ini akan berdampak pada keraton dan rakyatnya. Dorodjatun tak ingin mengulangi kesalahan-kesalahan raja sebelumnya makanya ia harus hati-hati dalam mengambil keputusan yang sangat berat itu.

Dalam wawancara HB X dengan Metro TV yang dikutip Intisari pada artikel Sri Sultan Hamengku Buwana IX Mendapatkan ‘Wisik’ dalam Mimpi, menceritakan bahwa ayahnya sedang menikmati istirahat sebelum malamnya kembali berunding dengan gubernur. Hal yang tak biasa terjadi padanya yaitu mendengar suara gaib entah darimana asalnya. Suara itu berbicara dalam bahasa Jawa, “Tole, tekena wae, Landa bakal lunga saka bumi kene.” Bisikan itu membuat hati Dorodjatun gundah dan tak karuan.

Dia menimbang-nimbang bisikan itu apakah ia lakukan atau tidak. Namun, hati yang rasanya resah nan gundah itu lama-kelaman berkurang ketika hendak bertemu dengan gubernur. Malamnya saat bertemu untuk berunding, Dorodjatun pun berkata pendek pada Gubernur Adam, “Silakan gubernur menyusun kontrak politik itu. Nanti saya tanda tangani!” hal itu jelas membuat kaget Gubernur Adam yang selama 4 bulan melakukan perundingan alot dan tiba-tiba calon raja itu dengan mudahnya bilang secara tak tersirat setuju dengan kontrak yang dibuat.

Akhirnya, pada tanggal 18 Maret 1940 mulailah kontrak politik dijalankan dengan ditandai pula penobatan terhadap Dorodjatun sebagai Raja ing Ngayogyakarta.

Semenjak menjadi raja atau orang nomor satu yang paling dihormati di Yogyakarta bahkan Indonesia, Sultan HB IX tidak melakukan kehidupan bak seorang raja yang serba ada. Bahkan sebalikanya, Sri Sultan HB IX menunjukkan kehidupan yang begitu sederhana sehingga dicintai rakyatnya. Seperti yang dipertanyakan oleh Brackman, seorang wartawan Amerika masa revolusi, “Bagaimana mungkin seorang penguasa paling feodal di Indonesia, begitu tidak feodal dalam tindakan langkah dan pemikirannya? Hal itu dibuktikan dengan beberapa tokoh Indonesia yang benar-benar merasakan kesederhanaan dari seorang ngarsa dalem.

Dalam buku Tahta Untuk Rakyat, S.K. Trimurti menuliskan salah satu kejadian unik yang menunjukan kesederhanan Sultan HB IX. Saat itu ia sedang naik kereta kuda (andong) dari Jalan Malioboro menuju ke rumahnya di Pakuningratan. Saat itu ia tak sengaja melihat kerumunan orang yang menolong sosok perempuan yang pingsan. Setelah ia tanya langsung apa ke orang apa sebenarnya yang terjadi, rupanya wanita itu pingsan karena kelakuan Sultan HB IX.

Awalnya wanita itu menunggu kendaraan yang mengantarnya ke Pasar Kranggan untuk berdagang beras. Tiba-tiba ada jip dari arah Kaliurang menuju ke selatan dan seketika wanita yang berprofesi sebagai pedagang ini memberhentikan kendaraan tersebut. Sang sopir pun berhenti dan ikut membantu mengangkat barang bawaan si wanita tersebut ke dalam mobil jipnya. Ketika sampai di Pasar Kranggan, Jip pun berhenti dan sang sopir menurunkan barang dagangan wanita tersebut. Setelah selesai, wanita itu lalu memberikan upah ke sopir. Namun, sang sopir menolak upah tersebut. Wanita tersebut marah karena upahnya ditolak oleh sang sopir.. Tanpa berkata-kata, sang sopir pun kembali ke mobil dan langsung menginjak gas untuk melanjutkan perjalanannya.

Setelah jip itu lenyap, ada polisi yang sedang berada di sana dan menghampiri ke pedagang wanita dengan bertanya, “apakah mbakyu tahu siapa sopir tadi?” dalam keadaan masih marah wanita itu menjawab, “sopir ya sopir! Habis perkara. Saya tidak tahu namanya. Memang sopir ini agak aneh, tak seperti biasanya. Si polisi pun membalas, “kalau mbakyu belum tahu, saya kasih tahu sekarang. Sopir tadi adalah Sri Sultan Hamenku Buwono IX, raja ing Ngayogyakarta. Seketika itu si pedangang wanita langsung pingsan dan terjatuh di tanah. Wanita itu pun menyesali perbuatannya yang telah kasar kepada rajanya sendiri.

Selain S.K. Trimurti, ada juga dr. Halim dan A.R. Baswedan yang mengamini bahwa Sultan HB IX adalah raja yang sangat sederhana. Saat itu dr. Halim bersama Sultan HB IX sedang menuju ke Jakarta dengan kereta api. Ketika itu kereta sedang berhenti di Cikampek dan cuaca sedang panas-panasnya menyelimuti stasiun. Halim yang merasa kehausan berinisiatif untuk mencari minuman. Ia meloncat dari gerbong kereta dan berjalan untuk mencari minuman.

Aksi Halim itu rupanya dilihat oleh Sultan HB IX dan beliau pun bertanya, “Mau ke mana kau?” Halim pun menjawab, “saya mau cari minum”. Karena Halim tak berpikir bahwa seorang raja, yang berkedudukan tinggi mau ikut nongkrong cari minuman di pinggir jalan. Ternyata, Sultan pun ikut melompat juga dari gerbong kereta dan beliau berkata, “saya ikut denganmu”. Dibelakang Sultan adapula adiknya yang mengikuti, Pangeran Bintoro. “Ini bisa bikin repot karena tidak ada restoran yang dekat dengan stasiun ini tetapi saya tak bisa juga menolaknya,” pikir Halim. Mereka bertiga pun akhirnya bersama jalan kaki untuk mencari minuman untuk mengobati kehausan yang mereka alami. Setelah berjalan tak jauh dari stasiun, rupanya ada orang yang berjualan es putar dan Halim pun pura-pura tak melihat itu. Tiba-tiba Sultan berkata pada Halim, “Mengapa berjalan terus, ini kan ada es putar. Disini saja kita minum.” Kagetlah Halim karena keturunan bangsawan dan seorang raja mau minum di pinggir jalan. Mereka bertiga pun akhirnya minum es putar tersebut.

Tak beda jauh dengan apa yang dialami oleh A.R. Baswedan. Ketika sidang KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) yang pertama di Malang, Sultan merasa bosan dan kesal karena sidang bertele-tele hingga larut malam. Saat itu pula, Sultan bangun dan mendekat ke Baswedan. “Saudara Baswedan, ayo kita keluar sebentar”, kata Sultan.

Saat keluar, udara terasa dingin. Sri Sultan merapatkan mantelnya. Mereka berdua berjalan dan mampir di warung kecil pinggir jalan. Duduk di bangku kayu bercahayakan lampu sentir, minum kopi panas dan dua potong pisang goreng. A.R. Baswedan pun heran bahwa ada seorang raja yang mau nongkrong dan minum kopi di warung kecil. Selain itu, Sultan HB IX juga dikenal suka menyetir mobil dan parkir sendiri. Tidak ada sopir khusus untuk seorang raja yang hobi memasak ini.

Ada kejadian unik lagi ketika Sultan ditilang oleh polisi yang berpangkat brigadir di Pekalongan. Dalam tulisan Aryadi Noersaid di jogjakini.wordpress.com yang dikutip merdeka.com dengan judul  Kisah Sultan HB IX ditilang Brigadir Royadin menuliskan peristiwa tersebut terjadi sekitar tahun 1960an. Brigadir Polisi Royadin yang merupakan paman dari Aryadi sendiri sudah berada di posnya. Persimpangan Soko mulai ramai dilalui Delman dan Becak. Tiba-tiba sebuah sedan hitam buatan tahun 1950-an melaju pelan melawan arus. Saat itu mobil yang melintas di jalan raya sangat sedikit. Royadin segera menghentikan mobil itu. “Selamat pagi, bisa ditunjukan rebuwes,” kata Royadin. Rebuwes adalah surat kendaraan saat itu. Pengemudi mobil itu membuka kacanya. Royadin hampir pingsan melihat siapa orang yang mengemudikan mobil itu. Sinuwun Sri Sultan Hamengku Buwono IX!

Royadin mau tak mau juga harus menegakkan hukum karena memang aturannya seperti itu meskipun yang dihadapannya sekelas raja. Akhirnya, brigadir ini pun menilang sultan dan sinuwun memang mengakui kesalahannya, tak ada perdebatan antara keduanya. Royadin selalu terbayang akan perbuatan yang telah dilakukannya. Ketika apel esok harinya, Royadin pun menjadi target amuk dari komisaris. Suara amarah meledak di Markas Polisi Pekalongan. Nama Royadin diteriakkan berkali kali dari ruang komisaris. Royadin langsung disemprot sang komandan dalam bahasa Jawa kasar. “Royadin! Apa yang kamu perbuat? Apa kamu tidak berpikir? Siapa yang kamu tangkap itu? Ngawur kamu! Kenapa kamu tidak lepaskan saja Sinuwun, apa kamu tidak tahu siapa Sinuwun?”, teriak sang komisaris. Sumpah serapah diucapkan oleh sang komisaris kepada Royadin. Royadin sudah pasrah ke depannya nanti, entah dicopot, dimutasi atau apapun. Karena dia memang sudah keterlaluan apa yang telah diperbuatnya kepada pejabat negara.

Suatu saat, ada surat dari Jogja yang ditandatangani oleh Sultan. Isi surat meminta Royadin untuk dipindah tugaskan ke Jogja dan naik pangkat satu strip. Sultan terkesan dengan Royadin yang jujur dan tegas dalam bertugas. Namun, Royadin menolak karena tak mau pisah dengan kota kelahirannya, Pekalongan. Sultan pun memaklumi. Royadin diketahui wafat pada tahun 2010.

Semua kejadian unik di atas menandakan jati diri yang ada pada seorang sultan HB IX, raja ing Nagari Ngayogyakarta. Kepribadian yang sederhana ini menghantarkannya pada beberapa jabatan penting dari era Soekarno sampai orde barunya rezim Soeharto. Walaupun seorang raja, tetapi beliau ini tidak menunjukkan ciri khas seorang raja yang gemar dengan kehidupan mewah yang serba ada, menuntut pajak yang tinggi, dll, seperti era-era zaman kerajaan dahulu. Maka dari itu, raja satu ini sangat dicintai terutama oleh masyarakat Yogyakarta dan tentu saja rakyat Indonesia.

Link Gambar