Sitti Nurbaya 1992

Novel Pustaka

Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai, siapa yang tak kenal karya tersebut. Rasanya semua yang pernah mengenyam pendidikan formal di negeri ini pasti mengenal atau setidaknya pernah mendengarnya. Saya sendiri ingat pertama kali mendengarnya pada bangku SMP. Sitti Nurbaya muncul pada pembahasan tentang periodisasi sastra. Karya tersebut merupakan wakil terkemuka dari angkatan 1920 atau angkatan Balai Pustaka.

Masih dalam ingatan dan pemahaman saya dari bangku sekolah, Sitti Nurbaya merupakan karya sastra yang bertema kawin paksa. Kala itu saya tidak pernah benar-benar membacanya. Hanya kilasan-kilasan yang tertangkap dari penjelasan guru. Apa yang muncul dalam pikiran saya adalah Nurbaya dipaksa kawin oleh orang tuanya demi adat dan harta. Terbayang setiap anak yang hanya mendengar Sitti Nurbaya tanpa pernah membacanya sendiri sangat mungkin akan berpandangan seperti itu juga. Lebih dari sepuluh tahun kemudian baru saya membaca hingga selesai karya tersebut dan menyadari soalnya tidak sesederhana itu.

Saya memberi judul tulisan ini Sitti Nurbaya 1992. Padahal karya tersebut ditulis jauh sebelum itu. Alasannya sederhana, karena buku yang ada di tangan saya adalah edisi cetakan 1992. Pada bagian pengantar dituliskan bahwa penerbitan kembali ini dengan tanpa mengubah isi dan gaya bahasa. Tentang ejaan tidak disinggung namun bisa dipastikan bahwa telah disesuaikan dengan tata bahasa ejaan yang disempurnakan. Pada mulanya saya percaya dan bahagia. Sebuah karya yang dengan demikian bisa dikatakan otentik telah ada di tangan. Belakangan ada kecurigaan apakah benar sama sekali tidak ada perubahan.

Sitti Nurbaya yang ada di tangan saya terdiri dari XVI bab dan 271 halaman. Kisahnya membentang dari masa Nurbaya masih duduk di bangku sekolah hingga sepuluh tahun setelah kematiannya. Nama Nurbaya selalu muncul tanpa tambahan Sitti. Memang hanya Nurbaya saja namanya sedangkan Sitti adalah panggilan umum untuk anak gadis di Padang. Mengapa ceritanya bergerak sangat jauh hingga sepuluh tahun setelah kematian Nurbaya. Ternyata kisahnya tidak berakhir sebelum terbalaskan dendam dengan tumpasnya Datuk Meringgih di tangan Letnan Mas.

Nurbaya anak gadis semata wayang saudagar Baginda Sulaiman berkawan karib dengan Samsulbahri (Sam) putra semata wayang penghulu Sutan Mahmud. Telah bergaul sejak kecil layaknya saudara perlahan timbul benih cinta di hati mereka berdua. Kisah cinta mereka berdua lah yang menjadi tulang punggung jalannya cerita Sitti Nurbaya. Kisah cinta yang sayangnya seperti telah diterangkan di anak judul “Kasih Tak Sampai”.

Pada malam menjelang keberangkatan ke “Jakarta” Sam diselenggarakan acara perpisahan di rumahnya yang disertai jamuan anggur dan pesta dansa. Terlihat jelas dalam karya ini mempertontonkan modernitas dan gaya hidup barat. Sejak awal pun pada bab I telah digambarkan Nurbaya dan Sam berseolah di sekolah barat dan berpakaian ala barat. Seterusnya modernitas dan pertentangannya dengan tradisi khsususnya adat Minang terasa kuat. Pada beberapa bagian diuraikan panjang lebar masalah tersebut. Terutama kaitannya dengan masalah pendidikan, kedudukan perempuan dan perkawinan. Aspirasi modern jelas ditampilkan oleh tokoh-tokoh protagonis. Kita bisa menemuinya pada dialog-dialog antara Sutan Mahmud dengan saudaranya Putri Rubiah (bab II) dan Ahmad Maulana dengan istrinya Alimah (bab XII)

Sejujurnya saya kaget dengan munculnya penyebutan Jakarta. Lebih jauh pada bab III Samsulbahri telah menyebutnya sebagai Ibu negeri Indonesia. Apakah itu semata kesalahan ketik. Kiranya tidak karena sampai akhir kisah penyebutan Jakarta konsisten. Berbeda dengan penyebutan Indonesia yang belakangan muncul sebagai tanah Hindia pada bab XV dalam dialog Residen Bukit Tinggi. Pada bagian ini pula terlihat jelas bahwa struktur pemerintahan yang ada adalah struktur kolonial. Wajar mengingat setting waktu dari Sitti Nurbaya adalah akhir 1800an terihat jelas pada tahun surat Samsulbahri kepada ayahnya tertanggal Jakarta, 13 Juli 1879 pada bab XIII.

Jakarta sebagai ibukota Indonesia muncul ketika Batavia sebagai pusat Hindia Belanda telah tidak dipergunakan. Melihat setting tahun Sitti Nurbaya jelas penyebutan Jakarta dan Indonesia sangat tidak wajar. Penyebutan Indonesia baru mulai populer di kalangan pergerakan pada 1900-an. Ditambah lagi Sitti Nurbaya adalah terbitan Balai Pustaka yang disokong pemerintah kolonial yang berusaha mempertahankan penyebutan Batavia dan Hindia Belanda. Maka besar kemungkinan Sitti Nurbaya edisi 1992 telah mengalami perubahan dari versi awalnya. Sayangnya saya tidak memiliki edisi terbitan 1922 yang merupakan cetakan pertama.

Bagian akhir karya ini juga sangat mengejutkan. Betapa tidak, Samsulbahri yang gagal bunuh diri berganti nama menjadi “Mas” dan masuk tentara. Tentu saja tentara kolonial. Kerinduannya untuk menjemput ajal yang merupakan alasan utamanya masuk tentara berbuah lain. Dia berhasil mendapat pangkat letnan dan berbagai penghargaan karena keberanian dan kemenangannya di medan perang. Terkenal ia sebagai “Letnan Mas”.

Pada bab XIV semua cukup gamblang dijelaskan dalam dialog Letnan Mas dengan rekannya Letnan Van Sta. Dikisahkan pula beberapa pertempuran yang pernah dilaluinya sebagai komanda Marsose di Aceh. Nyata bahwa imajinasi nation Indonesia sama sekali belum nampak. Letnan Mas tidak merasa keberatan berperang dengan rakyat Aceh. Ia baru merasa berat karena harus memerangi bangsanya sendiri ketika turun perintah menumpas pemberontakan di Padang. Tugas itu pun tetap diterima juga dan sama sekali tidak ada ekspresi kebencian kepada pemerintah kolonial. Menariknya tugas inilah yang mengantarkannya kembali berhadapan denga musuh lamanya. Siapa lagi kalau bukan Datuk Meringgih. Saudagar kaya yang telah merenggut Nurbaya dari pelukannya. Datuk Meringgih yang juga merupakan pemuka kaum pemberontak akhirnya tumbang ditembus peluru pistol Letnan Mas. Tidak berselang lama Letnan Mas pun gugur akibat parang Datuk Meringgih yang sempat menyambar kepalanya. Tentu terasa janggal dalam pandangan kita yang hidup sekarang bahwa antagonis ada di kubu pejuang bumiputra sedangkan protagonis di kubu kolonial Belanda. Namun itulah kenyataannya.

Sumber Gambar: link