SILUET KARL MARX

Buku

Judul               : Karl Marx: A Nineteenth-Century Life

Penulis             : Jonathan Sperber

Penerbit           : W. W. Norton, New York

Tahun terbit     : 2013

Tebal               : 512 hlm

Jonathan Sperber terkenal sebagai sejarawan yang berfokus kepada sejarah Jerman abad 19, khususnya ihwal ‘Gerakan Rhineland’. Buku-bukunya yang telah terbit yaitu: Rhineland Radicals: The Democratic Movement and the Revolution of 1848-1849, Property and Civil Society in South-Western Germany, 1820-1914, The Kaiser’s Voters: Electors and Elections in Imperial Germany, dan The European Revolutions, 1848-1851. Maka tidak mengherankan jika Sperber kemudian menulis tentang kisah hidup Karl Marx (1818-1883).

Pertanyaannya mengapa harus menyangkut tanah kelahiran Karl Marx dan kehidupan awalnya? Jawabannya ada pada subjudul buku Sperber ini: “Kehidupan Abad Kesembilan Belas”. Biografi ini berusaha menempatkan Marx secara tepat dalam konteks sejarah. Bagi Sperber, nama Karl Marx berkelindan dengan pengalaman sosialisme abad 20. Buah pikirannya telah bergumul selama lebih dari satu dekade. Dia silih berganti ditahbiskan (dipuja atau dikutuk) sebagai “seorang nabi” komunisme abad ke-20.

Apa yang membedakan buku baru Sperber ini, dari karya penulis biografi Marx lainnya? Karya Sperber laiknya sebuah lukisan. Sperber lebih menyoroti Marx sebagai manusia abad ke-19 yang menunjukkan betapa sulitnya figur ini untuk ditarik dari fenomena sosial-politik kontemporer. Sperber menggarisbawahi-mungkin secara berlebihan bahwa kita perlu memahami Marx sebagai manusia sejarah dari abad ke-19, dan nyatanya hampir tidak memiliki hubungan dengan, versi komunisme yang kelak diwujudkan dalam negara Uni Soviet.

Sperber menghamparkan tujuan penelitiannya, “Pandangan Marx sebagai ide kontemporer yang membentuk dunia modern telah mengalir begitu saja dan sudah saatnya bagi penerokaan anyar tentangnya sebagai sosok tokoh sejarah dari masa lampau, salah satu yang semakin jauh dari kita sendiri: usia Revolusi Perancis, filsafat Hegel, dari tahun-tahun awal industrialisasi Inggris, dan ekonomi politik yang berasal dari hal ihwal itu. Bahkan mungkin, bahwa Marx lebih berfaedah jika dimengerti sebagai sosok yang melihat ke belakang, dalam rentang waktu paruh pertama abad kesembilan belas, dan diproyeksikannya ke masa depan, …” (hlm. xiii). Tujuan Sperber adalah untuk menegaskan kenyataan bahwa, “Bahkan setelah berakhirnya rezim yang paling komunis pada 1989 sekalipun, pandangan Marx sebagai filsafat kontemporer kini tetap eksis” (hlm. xii).

Salah satu kebaruan pendekatan Sperber adalah dia menyadari inovasi terbaru dalam historiografi untuk studi periode ini, dan mendedahkan tafsirannya atas kisah kehidupan Marx. Revisi penulisan sejarah ini telah secara sadar mengecilkan dampak dari periode revolusi industri, dan lebih menyoroti agama sebagai faktor yang jauh lebih sentral dari asumsi sebelumnya. Selain itu, karya ini juga menyebutkan adanya pelbagai revisi atas sejarah pemikiran sosialis. Sejarawan intelektual macam: Gareth Stedman Jones, Douglas Moggach, Warren Breckman, dan David Leopold, telah mencoba untuk memperbaiki generalisasi historiografi Marxis klasik, lewat studi-studi rinci mengenai Marx dan filsuf sosialis sezamannya. Upaya mereka laksana cahaya penerang bagi  kompleksitas ide-ide mereka yang berpendar di masa lalu. Gareth Stedman Jones, misalnya, menyoroti sifat Marx muda yang sangat religius saat meniti jalan sebagai filsuf sosialis.

Elemen baru lainnya dalam proyek intelektual ini adalah pemanfaatan data yang cukup maksimal atas koleksi berbagai sumber historis yang melimpah. Seperti diketahui, proyek MEGA (Marx Engels Gesamt-Ausgabe) yang menghimpun kumpulan karya-karya Marx dan Engels, dimulai tahun 1920, lalu sempat vakum selama puluhan tahun, kemudian dilanjutkan kembali pada 1975, dan akhirnya kini proyek itu hampir rampung. Ini berarti hampir semua karya yang pernah ditulis oleh Karl Marx (termasuk catatan hariannya), kini telah tersedia bagi sidang pembaca.

Sperber menuturkan, “Sumber-sumber baru ini bukanlah mesiu, karena tak ada dokumen tunggal yang benar-benar dapat mengubah pemahaman kita akan Marx, tetapi pelbagai sumber ini dapat membawa cahaya atas ratusan detail kecil nan halus, dan mampu mengubah potret kita tentang Marx” (hlm. xiv). Sperber juga telah menyediakan terjemahan baru dari banyak bagian kunci atas tulisan Marx yang sebelumnya telah disalahtafsirkan, karena karya terjemahan yang berkualitas buruk.

Kekuatan utama buku ini tentu saja terletak pada nuansa-nuansa dan berbagai detail. Karl Marx: A Nineteenth-Century Life penuh dengan fakta-fakta yang sangat menarik dan anekdot karikatural, yang ditempatkan bersama-sama, sehingga membuat lanskap kehidupan Marx menjadi begitu indah dan melankolis. Buku ini, dengan narasi halus seperti dongeng modern, menonjolkan aksesibilitasnya, kejelasan, dan gambaran yang kaya dengan `protagonis. Sepanjang halaman, Sperber mendedah sejelas mungkin mengenai telatah Marx, dan terutama sebagai figur yang dapat kita akses dan mengerti. Pada saat yang sama, Sperber secara kritis memeringatkan, bahwa Marx juga seorang manusia. Ia salah satu dari kita. Akan tetapi, apakah pesan utama buku ini adalah bahwa Karl Marx itu berbeda dari kita?

Sperber sangat prihatin untuk mengungkapkan kebenaran tentang sisi manusiawi Marx yang telah lama dielu-elukan para pemujanya. Memang, kita banyak belajar dari Sperber, tapi ia juga penuh kejutan. Perihal Karl Marx dalam karya ini misalnya: bahwa dia adalah seorang pembicara publik yang buruk, bahwa kekasihnya (yang calon istrinya itu) sangat romantis, bahkan untuk standar percintaan masa kini sekalipun, dan bahwa lebih dari kaum borjuis sejagat, Marx sangat membenci Monarki Prusia dan Tsar Rusia.

Buku ini dipenuhi oleh kejujuran yang lugas. Sperber ingin mengungkap Marx dan untuk melakukannya, dia mengacu pada segala macam informasi rinci dan wawasan para ahli. Pengetahuan medis, misalnya, digunakan di seluruh buku untuk menjelaskan fakta-fakta, seperti sifat yang tepat dari kondisi kulit Marx, seiring dengan berlanjutnya usia. Tanpa tedeng aling-aling, buku ini melebar ke cerita yang sangat intim mengenai hubungan Marx dengan istrinya, dan rincian seperti misalnya, apakah mereka pernah menggunakan kontrasepsi dalam bersanggama? Kegamblangan ini adalah keelokan utama dari karya Sperber. Namun, fakta-fakta dari proyek demistifikasi sang penulis, tidak membuat kecemerlangan sosok Marx pun memudar –tentu ini sebuah prestasi bagi seorang sejarawan yang sangat terampil.

Karya ini dibagi menjadi tiga bagian, masing-masing setebal hampir 200 halaman. Bagian pertama, ‘Shaping’ berkisah perihal latar belakang keluarga Marx, jejak langkahnya, dan perkembangan pemikiran intelektualnya sampai dengan akhir 1846. Yang kedua, ‘Struggle’, dimulai dengan keterlibatan Marx dalam revolusi 1848 dan selanjutnya saat pengasingan London-nya hingga 1871, dan pengalaman ala Komune Paris, suatu peristiwa yang kemudian membawa Marx tiba-tiba begitu masyhur di seluruh dunia. Bagian ketiga dan terakhir, ‘Legacy’, selain menggambarkan fase 12 tahun terakhir kehidupan Marx, termasuk bab tematik yang bertutur secara lebih detail dan cerkas tentang aspek pemikiran, dan menawarkan refleksi pada hidup Marx secara holistik.

Pada permulaan buku ini kita diajak memahami ‘Society of Orders’ di masa kanak-kanak Marx. Sperber melukiskan akar perilaku membangkang dalam diri Marx dan tingkah polah ini kemudian larut sepanjang hidupnya. Sperber meneroka bahwa perihal itu merupakan dampak dari berbagai peraturan Prusia yang diterapkan di Rhineland, dan dia juga memaparkan kaitannya terhadap peristiwa penting yang lain, yakni keputusan ayah Karl, Heinrich Marx, yang semula adalah seorang Yudaisme yang kemudian berpindah ke agama Protestan pada 1810-an.

Memasuki bab kedua kita tahu, mengapa cerita cinta Marx dengan Jenny von Westphalen adalah salah satu aspek yang paling radikal dalam hidupnya. Awal keterlibatan keduanya, jauh sebelum Marx berada dalam posisi untuk memiliki penghasilan yang stabil, bagi seorang perempuan empat tahun lebih tua darinya, tanpa mas kawin, berani untuk menantang konvensi budaya yang begitu kuat di Barat abad ke-19.

Sperber meyakinkan kita, bahwa Marx dan Jenny yang digambarkan sebagai kisah romansa sejati, dan deskripsinya perihal hubungan Marx dan istrinya ini adalah salah satu sorotan dari bukunya. Begitu banyak penjelasan: mereka benar-benar saling mencintai dan berkomitmen satu sama lain. Meskipun kondisi kehidupan rumah tangga mereka teramat kacau dan tak stabil; juga kegagalan Marx yang berlarut-larut dalam mensejahterakan keluarganya, Jenny tetap setia kepada Marx. Jenny aktif mendorong dan mengapresiasi proses kreatif dan buah karya suaminya, dan ia selalu siap membela Marx, bahkan dalam masalah paling sepele sekalipun, seperti banyak perselisihan Marx dengan rival-rival politik dan filsafatnya.

Bab-bab berikutnya membahas ihwal Marx sebagai Hegelian Muda dan aktivitas jurnalistiknya untuk kantor berita Rheinland. Sperber bukan hanya menuturkan kembali aspek yang lebih akrab dalam kehidupan Marx, seperti awal dari persahabatannya dengan Engels, tetapi juga menguraikan isu-isu yang sebelumnya yang kusut-masai. Misalnya, Sperber menekankan peranan Karl Grün, karakter yang hanya sepintas lalu, jika tidak benar-benar absen dari biografi-biografi Marx sebelumnya. Grün saat ini hampir tidak dikenal, tapi dia adalah salah satu saingan Marx yang paling penting pada 1840-an. Seperti Marx, ia menemukan ide-ide sosialis di awal 1840-an, dan kemudian mereka mempromosikan gagasannya itu di dalam Konfederasi Jerman namun, pasca pengusirannya, sebagai pekerja Jerman di pengasingan Paris.

Sperber mendedahkan tentang pelembagaan gerakan radikal periode sebelum Revolusi 1848, di mana Marx memainkan peranan utama dalam Institusi Liga Komunis. Saat inilah, Marx dan Engels menulis karya penting berjudul Manifesto Komunis. Sperber mengambil secara terpisah unsur Manifesto Komunis itu –yang sekarang menjadi salah satu karangan Marx yang paling terkenal– dan menjelaskan asal-usul keduanya dalam biografi intelektual Marx hingga publikasinya pada awal 1848. Proyek utama Marx dalam fase 1848-49, ketika dia kembali ke Rhineland dari pengasingan di Brussels, adalah untuk bekerja sebagai editor New Rhineland News. Sperber menunjukkan bahwa banyak argumen yang disajikan dalam koran yang hanya dibidani oleh Marx secara singkat ini,  dapat digambarkannya sebagai “sangat tidak marxis”. Marx kala itu, misalnya, tidak menganjurkan perjuangan kelas, bahkan sebenarnya menentang hal itu.

Pada akhir musim panas 1849, Marx terpaksa melarikan diri dari Jerman dan hijrah ke pengasingannya di London. Marx menetap di Inggris hingga akhir hayatnya. Akan tetapi, seperti yang ditunjukkan oleh Sperber, Jerman tetap menjadi fokus penting bagi pemikiran politiknya. Dia menulis, “Rencana Marx pasca 1859 untuk terjun kembali ke dunia politik, hanya berpusat pada Jerman, pada isu-isu nasionalisme Jerman” (hlm. 557). Marx secara serius memertimbangkan kembali ke Jerman tahun 1861. Namun saat itu, isteri dan anak perempuan remajanya, telah betah hidup di London.

Tiadanya pendapatan yang menentukan menjadikan kondisi ekonomi Marx di London memburuk. Topik ini Sperber eksplorasi panjang-lebar, dan mengharukan. Dikisahkan pernah suatu ketika putra Marx yang berusia enam tahun, yang melindungi ayahnya dari kreditur, ketika mereka muncul di rumah mereka (hlm. 256). Edgar, putera Marx itu, akhirnya menjadi korban kemiskinan dari “marxisme”. Dia meninggal di usia delapan tahun pada 1855. Sebuah tragedi yang kemudian sangat menghantui keluarga ini selama bertahun-tahun.

Periode awal kehidupan Marx di London juga dibayangi oleh kelahiran anak haram hasil hubungan dengan pengurus rumahnya, Helene Demuth. Demuth melahirkan seorang putra yang diberi nama Frederick pada 1851. Sang sahabatlah, Engels-meskipun dia belum menikah yang kemudian mengaku sebagai bapak dari Frederick. Engels melakukannya untuk menyelamatkan reputasi intelektual dan bahtera pernikahan Marx. Kisah Marx sebagai ayah adalah contoh penceritaan, bagaimana cara biografi telah menjadi medan perang kepentingan politik. Pada biografi Marx lainnya, karya Paul Thomas (yang berkualitas payah), telah meragukan kebenaran cerita ini. Thomas menyoroti bahwa kisah ini pertama kali termasuk dalam biografi Marx pada 1960, saat di mana iklim politik sangat bergema. Dia juga menunjukkan bahwa laporan itu didasarkan pada satu sumber tunggal: sebuah surat yang ditulis oleh istri dari filsuf sosial demokrat Karl Kautsky (1898), yang belum pernah bertemu Marx.

Sumber pembuktiannya adalah surat yang menceritakan, bahwa saat dipenghujung hidupnya, Engels mengungkapkan ihwal ayah biologis yang sebenarnya dari anak Helene Demuth itu. Tidak ada sumber lain yang pernah disebutkan dalam cerita, dan sang penerima surat, August Bebel, juga tidak pernah membawanya. Ketidaktersediannya bukti, seperti rumor yang beredar di sekitar waktu kelahiran Frederick Demuth itu sendiri, ketika banyak lawan politik Marx di London, akan melahap setiap kesempatan untuk bergosip ria tentang dirinya. Sperber, bagaimanapun, memosisikan diri untuk membela fakta bahwa Frederick merupakan anak biologis Marx, meskipun hanya dengan bukti laporan kronologis (hlm. 262). Apakah seseorang dapat memercayai fakta versi Thomas atau Sperber? Masalah ini menunjukkan bahwa rincian kehidupan Marx tetaplah kontroversial.

Tahun 1850-an, Marx mendedikasikan sebagian besar waktunya kepada dunia jurnalistik. Sebuah fakta yang tidak diketahui oleh sebagian besar publik adalah bahwa potongan-potongan berita itu merupakan sebagian dari tulisan-tulisan Marx. Di antaranya adalah apa yang diakui menjadi bagian yang paling brilian, misalnya The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte, di mana Marx menganalisis Kudeta Napoleon Bonaparte pada Desember 1851.

Tahun 1850 juga, Marx mulai berharap kepada munculnya krisis ekonomi yang akan mengakhiri kedigdayaan kapitalisme. Keterlibatan politiknya yang aktif sebelumnya, sementara dipindahkan ke balik layar. Arkian, gelora di dalam diri Marx ini hanya bisa dihidupkan kembali oleh Ferdinand Lassalle, yang mengunjungi Marx di London tahun 1860. Dan dia pada tahun berikutnya, hampir meyakinkan Marx untuk kembali ke Jerman, dalam rangka untuk terlibat dalam gerakan buruh yang baru di sana. Nyatanya, Marx lebih memilih untuk tetap tinggal di Inggris dan sebaliknya, sejak 1864, menjadi terlibat dalam kegiatan organisasi (yang membosankan) bernama Asosiasi Buruh Internasional, yang membuncah dalam konflik yang terkenal dengan Mikhail Bakunin, era awal 1870-an.

Kehidupan Marx sejauh ini diceritakan dalam dua bagian pertama buku Sperber, sebagai hamparan narasi yang menawan dan kaya. Bagian ketiga dari buku ini mencakup dekade terakhir kehidupan Marx dan beberapa tema menyeluruh yang agak kurang koheren. Beberapa bab tematik yang lebih berhasil dari yang lain. Bab ‘theory’ yang melukiskan konfrontasi Marx dengan kelompok positivisme pada paruh kedua abad ke-19 ialah yang menarik. Peristiwa itu adalah pertemuannya dengan Charles Darwin. Sperber berupaya  untuk menekankan sejauh mana kebenaran perihal Karl Marx tetap istiqomah sebagai seorang Hegelian. Bahwa Marx secara gigih membela Hegel dari serangan Charles Darwin, dan cerita bahwa Marx berencana untuk mendedikasikan modalnya kepada Darwin diungkapkan sebagai mitos. Bahkan dalam kacamata Sperber, tulisan-tulisan ekonomi Marx memiliki struktur ‘Hegelian’ yang mencolok.

Sayangnya, menurut saya, dalam dua bab berikutnya Sperber kurang berhasil. Sebuah bab (agak teknis) yang bertujuan untuk memberikan pengenalan pemikiran ekonomi Marx secara langsung, dan tiba-tiba, kemudian diikuti oleh satu bab yang mengulangi karakternya sebagai sosok pribadi dan menilai seberapa jauh Marx sepaham dengan “pandangan maskulinitas Victorian”. Hal ihwal ini mengulangi banyak informasi yang disajikan di awal buku dan menambahkan sedikit argumen. Pada akhir karyanya, dalam sebuah bab yang didedikasikan untuk “ikon” Marx, Sperber menjelaskan bagaimana Karl Marx hadir untuk menjadi populer dalam sepuluh tahun terakhir hidupnya dan di mana dan bagaimana istilah ‘marxis’ berasal (Marx terutama menjauhkan diri dari itu). Sperber memberikan penjelasan pendek dari peristiwa setelah kematian Marx pada 1883, yang menyebabkan dia melejit sebagai ikon abad ke-20.

Akhirnya, dengan membaca buku Sperber ini saya seperti berhayal sedang berjabat tangan erat dengan Karl Marx: sepintas berkenalan, namun meninggalkan kesan yang kuat dan tajam. Setidaknya, Karl Marx: A Nineteenth-Century Life adalah salah satu biografi Karl Marx terbaik yang pernah saya baca.