Serat Sekar Kumpeni

Cerpen Sastra

Musim dingin telah berakhir di Hirado. Kuncup perlahan tumbuh dari ranting-ranting yang kemarin beku. Sayang engkau tidak hadir di sini untuk menyaksikannya Carolina. Maafkan kami yang tidak bisa berbuat banyak. Hanya pagoda kecil ini yang mampu kami persembahkan sebagai pengingat. Tentang seorang anak yang berbakti kepada orang tua dan tanah kelahirannya. Hirado tidak akan melupakanmu.

Bersama Hannah di usia yang masih belia engkau telah direnggut dari pelukan ibundamu. Ditarik kedalam genggaman tuan-tuan putih yang saleh lagi kaya. Berlayar ke tempat asing nun jauh di sana. Tempat yang bukan tanah air ibundamu juga ayahmu. Batavia. Setidaknya tempat itulah yang mulanya diimpikan ayahmu untuk mengadu nasib. Namun takdir menggariskan lain. Bahwa kemudian ayahmu tertambat di Hirado hingga ajal menjemput.

Carolina kami tidak akan melupakanmu meski yang kami punya hanya kenangan masa kecil, surat-surat dan hadiah darimu. Alangkah bahagianya jika kami bisa melihat dengan mata kepala sendiri engkau yang tumbuh dewasa. Tentu engkau menjadi gadis yang cantik. Mewarisi wajah dan mata ibumu tetapi kulit ayahmu. Juga anakmu. Betapa bagus pasti rupa mereka.

….

Terima kasih tiada terkira kepada yang mulia Shogun. Atas kebijaksanaannya kami yang terpisah jauh di tanah seberang tidak menjadi terputus dengan keluarga di Jepang. Juga kepada pejabat di Nagasaki yang telah memberikan pengabdiaannya yang tulus. Sehingga kami bisa berkirim surat juga hadiah-hadiah kecil.

Kepada Handa Geimon

Saya turut bahagia mendapat kabar bahwa ibunda tidak lagi sendiri. Terima kasih telah berkenan menjadi pendamping ibunda kami yang menjadi sebatang kara sepeninngalan ayah dan kepergian anaknya ke negeri bawah angin. Mohon di lanjutkan kepada ibunda Surhisia.

Kepada ibunda tercinta

Betapa hati ini lega mendapat kabar bahwa ibunda dalam keadaan sehat adanya. Terlebih ibunda tiada lagi hidup sendiri di Hirado. Kami juga dalam keadaan baik. Saya tidak lagi menjadi tinggal di rumah yatim piatu. Puterimu telah dewasa ibu. Saya telah menikah dan menjadi tanggung jawab serta tinggal dengan suami. Harap ibu jangan khawatir. Dia seorang Belanda yang bekerja di kongsi dagang seperti ayah. Orang yang baik dan penyayang. Bersama surat ini saya kirim beberapa hadiah untuk Handa Geimon, nenek dan tentu saja ibunda. Mohon diterima. Saya tunggu kabar dari ibunda.

Carolina Knok

Batavia 1652, 25 bulan ke sembilan

……

Kepada ibunda tercinta

Surat dan hadiah-hadiah dari ibunda sudah sampai di tangan saya. Semuanya dalam keadaan lengkap dan baik. Tiada kurang suatu apapun. Syukurlah bahwa keadaan ibunda dan seluruh keluarga di Hirado baik-baik saja.

Betapa hati ini bergemuruh dan hampir-hampir tangan gemetaran tiada sanggup menulis. Engkau telah menjadi nenek ibu. Puterimu ini telah menjadi ibu. Ternyata begini rasanya menjadi ibu. Sulung seorang lelaki tampan seperti ayahnya. Kami menjadi keluarga kecil yang makin lengkap. Beruntung Batavia mulai bisa berdamai dengan raja-raja pribumi di pulau ini. Hingga keadaan di luar benteng di tepian kota semakin aman. Kami beranjak dari tengah kota yang terlalu penuh sesak, Pindah ke lebih ke dalam pulau yang lebih sehat alamnya.

Kepindahan kami sebenarnya juga karena tugas baru yang diemban suami saya. Dia menjadi perwira pada angkatan bersenjata serikat dagang. Ibunda kiranya jangan khawatir. Sekali lagi, perdamaian dengan raja-raja Jawa telah semakin mantap. Mereka perlahan memaklumi bahwa permusuhan yang terus-menerus sama sekali tidak membawa kebaikan. Jadilah pangkat dan tugas militer yang diemban suami saya tinggal sebuah kehormatan saja.

Carolina Knok

Batavia 1662, 15 bulan kedua

Kepada Ibunda tercinta

Pertama mohon maafkanlah saya jika terlalu lama tiada mengirim kabar. Keadaan di sini penuh kesibukan. Ibu apakah telah menjadi takdir di keluarga kita untuk harus merasakan ditinggal oleh suami. Betapa berat rasanya. Betapa saya juga baru tersadar seperti apa kiranya duka lara yang dahulu dirasakan ibunda ketika ditinggal ayah. Iya ibu suami saya telah terlebih dahulu berpulang ke pangkuan Bapa.

Hanya ibu jangan terlalu gusar juga. Saya tidak benar-benar sendirian. Masih ada putera-puteri buah cinta kami. Juga keadaan keuangan sama sekali tidak buruk. Suami saya seorang pekerja keras. Dia telah mencapai posisi yang tinggi dengan kesibukan luar biasa. Saudagar Kepala. Sayangnya sifat dan kedudukan itu pula yang menjadikan dia lupa pada badannya sendiri. Juga alam di sini yang begitu lain dengan di Eropa. Semuanya membuatnya roboh dalam sakit yang berat.

Carolina Knok

Batavia 1672, 17 bulan dua belas

…..

Onze Vader, die in de hemelen zijt

Uw naam worde geheiligd

Uw koninkrijk kome

Uw wil geschiede, gelijk in den Hemel

Also ook op de aarde

……,

Madiun, 9 Desember 2017

sumber gambar