Sejarah Kaum Terpelajar

Politik

Sudah rahasia umum bahwa kemajuan pendidikan bangsa Indonesia dimulai sejak munculnya kebijakan politik etis. Kebijakan politik etis memang memberikan ruang pendidikan bagi bangsa Indonesia, meskipun penuh dengan ciri khas diskriminasi yang kental. Pendidikan barat yang kemudian memiliki tujuan memperadabkan bangsa Indonesia kemudian menjadi buah simalakama bagi pemerintah jajahan.

Tokoh-tokoh besar lahir dan menuntut keadilan yang harus tegak berdiri di Indonesia. Salah satu tokoh besar yang menuntut keadilan itu adalah Mohammad Hatta. Hatta memiliki berbagai pengalaman menarik yang dapat kita jadikan sebagai pembelajaran. Hatta yang menempuh pendidikan di negeri Belanda dan bergabung dengan Perhimpunan Indonesia sering kali mengalami kesulitan ekonomi. Di tengah kesulitan yang melanda, pemerintah Belanda menekan setiap anggota Perhimpunan Indonesia dengan mengeluarkan ultimatum. Ultimatum tersebut berisi “setiap pegawai negeri pemerintah Hindia Belanda yang memiliki anak dan sedang menempuh pendidikan di Belanda tidak diperkenankan untuk bergabung dengan Perhimpunan Indonesia, jika tergabung akan diberikan sanksi pemecatan.” (Hatta, 2011:226)

Kebetulan pada saat itu, seorang anggota Perhimpunan Indonesia yang bernama Arnold Mononutu diberikan surat dari ayahnya yang merupakan pegawai pemerintah jajahan. Surat tersebut berisi agar “Arnold tidak lagi ikut dalam aktivitas politik Perhimpunan Indonesia, jika masih ikut serta maka Arnold tidak akan dikirimkan uang.” (Hatta, 2011:227) Perhimpunan Indonesia mengatasi permasalahan tersebut dengan cara iuran dan memberikan tumpangan untuk tidur dan makan bagi setiap anggotanya. Empati yang muncul lahir dari rasa satu tujuan, yaitu kemerdekaan Indonesia.

Kaum pelajar Indonesia yang juga disebut sebagai elit modern pesaing bangsawan memberikan banyak pelajaran bagi generasi selanjutnya. Bangsawan dan sekaligus elit modern bangsa Indonesia adalah Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara rela melepaskan baju bangsawannya demi mendekatkan diri dan mencerdaskan kawulanya (rakyatnya). Ki Hajar bersusah payah membangun sekolah swasta yang dibangun melalui uangnya sendiri. Ki Hajar bahkan berani dan sanggup meninggalkan kemewahan istana, dimana setiap keinginannya dapat terpenuhi tanpa dengan bersusa