SAREKAT ISLAM MADURA

Satwika

       Sarekat Islam (SI), menurut Sartono Kartodirdjo dalam buku Pengantar Sejarah Indonesia Baru jili II: Sejarah Pergerakan Nasional dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme merupakan organisasi pertama dalam sejarah Indonesia (saat itu masih Hindia Belanda) yang mampu memobilisasi massa secara besar-besaran baik di kota maupun desa. Mobilisasi tersebut menimbulkan pergolakan yang mengganggu stabilitas kekuasaan pemerintah kolonial di Hindia Belanda. Oleh karena itu, Pemerintah kolonial berusaha membatasi kekuatan SI dengan jalan hanya mengizinkan SI lokal.

       Delegasi SI sebagai upaya mendapatkan izin, menemui gubernur jenderal Idenburg pada 29 Maret 1913. Sebagai tokoh politik etis Idenburg menaruh simpati kepada SI. Akan tetapi banyak orang Belanda terutama pemilik perusahaan besar dengan banyak buruh merasa khawatir dengan perkembangan SI yang semakin besar.

     Idenburg memainkan strateginya. Sembari menunda keputusan tentang status hukum SI dia memacu aparat pemerintah untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi mengenai SI. Maka pada 30 Juni 1913 pemerintah memutuskan mengakui SI tidak sebagai satu kesatuan melainkan hanya setiap cabangnya secara terpisah. Pemerintah berdalih SI yang sangat besar akan mustahil dikendalikan oleh suatu pengurus pusat. Parakitri T Sibolon dalam bukunya Menjadi Indonesia menyatakan alasan sebenarnya adalah ketakutan. Pemerintah berusaha agar dapat mengendalikan SI.

       SI dengan terpaksa menerima keputusan pemerintah. Maka setiap “cabang” SI dialihkan menjadi SI “lokal”. Sebagai upaya memilihara kerja sama antar SI lokal dibentuklah pengurus pusat baru yang terkenal dengan nama Centrale Sarekat Islam (CSI). Meski berusaha dibendung oleh pemerintah kolonial SI sampai batas-batas tertentu mampu berkembang.

       SI lokal tumbuh di berbagai tempat layaknya cendawan di musim penghujan. Madura adalah salah satu daerah di luar Jawa tempat SI pernah berkembang. Kuntowijoyo dalam bukunya Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura 1850-1940 secara lengkap mengulas perkembangan SI Madura sejak awal berdiri hingga keruntuhannya.

       Madura secara geografis sangat dekat dengan Jawa. Namun demikian memilki kebudayaan yang berlainan dengan Jawa. Menurut Kuntowijoyo ada kaitan yang kuat antara masyarakat Madura dengan ekologinya yang didominasi tegal. Berbeda dengan Jawa yang cenderung ke sawah. Pemerintah kolonial sendiri beranggapan bahwa tidak mungkin timbul gerakan sosial di Madura. Pandangan tersebut muncul akibat keengganan masyarakat yang mengikuti pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan pemerintah kolonial sehingga muncul asumsi bahwa solidaritas sosial masyarakat telah menurun. Maka kehadiran dan perkembangan SI di Madura merupakan sebuah kejutan.

       SI Madura pertama kali lahir pada tahun 1913 di Sampang. Bukan sebuah kebetulan jika Sampang menjadi tempat bermulanya organisasi pergerakan di Madura. Pada masa tersebut Sampang merupakan kota dagang yang makmur. Para pedagang pribumi memiliki pengaruh dominan dalam masyarakat manakala pengaruh tradisi bangsawan tidak terlalu menonjol.

          Pendiri SI pertama di Madura adalah Mas Gondosasmito alias Haji Syadzili. Mulanya Haji Syadzili adalah seorang mantri guru di sekolah umum pemerintah, namun dipecat sekembalinya dari menunaikan ibadah haji. Haji Syadzili kemudian mengadu nasib sebagai pedagang beras setelah belajar bisnis dari istrinya yang merupakan seorang perempuan pedagang yang sukses.

       Haji Syadzili tertarik dengan SI. Dia bersama temannya Pak Munah pergi ke Surabaya untuk menjadi anggota SI. Mereka sementara waktu tinggal bersama Tjokroaminoto untuk belajar ideologi SI. Sekembalinya ke Sampang mereka berdua dengan mudah mengumpulkan 64 orang yang bersedia menjadi anggota SI. Jauh melebihi jumlah minimal untuk satu cabang yaitu 25 orang. Pada April 1913 tiga orang perwakilan CSI yang dipimpin Kyai Mansur datang ke Madura untuk membentuk cabang dan mengambil sumpah para anggota.

       Reaksi keras terhadap SI justru muncul dari para pejabat pribumi. Sementara Residen Madura awalnya tidak menunjukkan permusuhan dengan SI. Meski demikian semakin nampak Belanda di Madura tidak senang dengan pertumbuhan pesat SI. Keberadaan SI Madura bagaimana pun tidak luput dari peran penasihat Masalah Bumi Putra G.A.J Hazeu. Dia berjasa mendorong pemerintah kolonial memberi kesempatan SI untuk berkembang di Madura. Pemerintah akhirnya memberikan pengesahan kepada lima cabang SI di Sampang, Sumenep, Pamekasan, Duko dan Bangkalan pada 3 April 1915.

       SI Madura mengklaim berhasil menggerakkan kemajuan penduduk. Sebuah laporan dalam surat kabar Pantjaran Warta edisi 4 Juni 1917 menyatakan kesadaran agama meningkat sejak berdirinya SI. SI juga memberikan pengaruh terhadap pendidikan umum serta bangkitnya kesadaran berorganisasi. Semangat SI mendorong berdirinya Persarekatan Guru Hindia Belanda (PGHB) Madura di Sumenep pada 30 April 1913.

       Para pemimpin SI Madura juga berhasil mendapat posisi di pentas nasional.  Pada tahun 1916 Haji Syadzili diangkat sebagai salah satu penasihat agama SI oleh Kongres Nasional Pertama SI di Bandung. Sedangkan Sayid Hasan bin Semit diangkat sebagai ahli keuangan dalam SI. SI Madura mencapai puncak aktivitasnya pada tahun 1918.

       Memasuki tahun 1919 SI Madura mulai menunjukkan penurunan. Haji Syadzili mengeluhkan anggota SI Madura menurun dari 46.000 menjadi tinggal sedikit, meskipun kenyataannya setiap rapat dihadiri 400 orang. Salah satu sebab kemunduran adalah SI Madura berbicara bertele-tele dari satu tema ke tema yang lain tanpa tujuan politik yang jelas.

      Tejadi pula konflik antar generasi yang menyebabkan di SI Sumenep terjadi pergeseran jabatan presiden dari Haji Zainal Arifin ke R.A. Condrosisworo seorang bangsawan yang masih saudara bupati berkuasa. Keruntuhan SI Madura semakin kentara pada 1921. Semakin sering terjadi rapat dibatalkan karena tidak seorang pun anggota yang hadir. Berhentinya surat kabar terbitan SI Oetoesan Hindia dan jatuhnya Tjokroaminoto menjadi pukulan terakhir. SI Madura perlahan lenyap dan menjadi tidak dikenal.

       Residen Madura, yang menyaksikan kematian SI kembali pada pendapat lamanya, bahwa orang Madura tidak matang berpolitik. Namun menurut Kuntowijoyo pernyataan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Bagaimana pun SI Madura adalah prestasi luar biasa. Orang Madura untuk pertama kalinya membuktikan diri mampu bekerja sama mengatasi individualisme dan parokialisme mereka. Kesadaran berorganisasi dan berpolitik telah hadir. Madura telah mengalami perubahan besar dan tidak lagi bisa disamakan dengan Madura sebelum kehadiran SI.

Kulon Progo, 22 Juli 2018

Sumber gambar: link