Sang Raja Baru

Cerpen Sastra

Di dalam Istana kerajaan, kerabat kerajaan sedang dilanda kegelisahan.
Bukan karena sang Raja yang menderita sakit parah. Melainkan karena sang putra mahkota,
belum berhasil memanah satupun singa saat berlatih perburuan, guna penahbisan dirinya
sebagai pengganti sang raja.

Di kerajaan Lion Arrow, seorang putra mahkota diharuskan menjalani upacara penahbisan
dengan melakukan perburuan singa di dalam hutan. Perburuan itu dilakukan oleh sang putra
mahkota seorang diri. Dengan menunggang kuda dan dibekali senjata, sebuah busur panah
dan sembilan buah anak panah diberi nama Lion Arrow.

Lion Arrow adalah sebutan untuk anak panah yang dipergunakan untuk berburu singa, yang
menginspirasi dalam pemberian nama dari Kerajaan itu sendiri.

Tabib kerajaan memberikan pernyataan pada sang ratu, dan penasehat kerajaan serta para
menteri kerajaan seusai memeriksa kondisi kesehatan sang raja. Bahwa sang raja usianya tak
kurang dari tujuh hari saja. Kerajaan harus segera mengadakan upacara penahbisan sang raja
baru, jika tidak ingin kerajaan dalam keadaan vacuum of power.

Sang putra mahkota mau tak mau harus menjalani perburuan itu. Hal itu membuat sang ratu
nampak makin sedih. Di samping karena kondisi sang raja, sang ratu harus rela melepas sang
putra mahkota ke dalam hutan yang dipenuhi oleh singa seorang diri. Melepas buah hati
satu-satunya, buah cintanya bersama sang raja.

“Kita harus segera, Yang Mulia”, ucap seorang penasehat kerajaan kepada sang ratu.
Sang ratu hanya terpaku, kedua matanya berkaca-kaca, hingga jatuhlah air mata sang ratu di
hadapan para pejabat kerajaan dan sang tabib. Baru kali ini sang ratu dihadapkan pada posisi
sebagai pembuat keputusan. Keputusan yang sangat penting untuk keberlangsungan kerajaan. Dan harus merelakan anak satu-satunya yang belum genap tujuh belas tahun masuk
ke dalam hutan, berburu singa.

Sang ratu dipaksa sejenak menutup mata hatinya sebagai seorang ibu.
Suasana dalam istana hening, sang ratu beranjak dari duduknya. Sang ratu berdiri dan
berbicara di depan para pejabat kerajaan serta sang tabib. Keputusan telah diambil oleh sang
ratu.

Esok hari saat matahari menampakkan sinarnya di sisi timur, sang putra mahkota harus sudah
keluar dari gerbang kerajaan dan masuk ke dalam hutan.

“Aku putuskan, esok pagi saat matahari terbit, putra mahkota harus melaksanakan perburuan
singa.”
“Dan hanya boleh kembali dengan membawa seekor singa jantan dewasa.”,
“Segera persiapkan segala perlengkapannya, siapkan kuda terbaik untuknya”,
“Panggil putra mahkota untuk menghadapku sekarang juga.”, titah sang ratu.
Seketika para pejabat kerajaan tadi bergerak mempersiapkan segala keperluan untuk sang
putra mahkota.
Sang putra mahkota pun segera dicari untuk diminta segera menghadap sang ratu.
“Ada apa Ibu memanggilku?, apakah sudah tiba waktunya bagiku?”, tanya putra mahkota.
“Esok pagi, saat matahari terbit, kau harus sudah keluar dari gerbang istana.”,
“Kembalilah dengan membawa seekor singa jantan dewasa dengan Lion Arrow yang
tertancap tepat di jantungnya.”, sang ratu memberi perintahnya.
“Baik Ibu, berkati aku dengan doa”, ucap sang putra mahkota.

Sinar pertama matahari mulai terbit di sisi timur kerajaan. Gerbang kerajaan terbuka sedikit
untuk keluar sang putra mahkota. Dengan menunggang kuda kesayangannya, bukan
menunggang kuda terbaik kerajaan yang telah dipilihkan sebelumnya. Sang putra mahkota
bersama kudanya berlari kencang, cepat saja masuk hutan dan hilang dari pandangan. Pun
sang ratu dengan berat hati, mengamati pergerakan keluarnya sang putra mahkota, memasuki
medan laga sebenarnya.

Sang putra mahkota kini berada di dalam hutan seorang diri.
Suara semak dedaunan yang seperti diinjak oleh kaki binatang, menggetarkan hatinya.
Empat ekor singa jantan dewasa muncul beriringan di depannya. Tak diduga sebelumnya
oleh sang putra mahkota, akan secepat ini ia bertemu dengan singa-singa penghuni hutan.

Keempatnya perlahan mendekat. Kuda tunggangan pun ketakutan, tak tenang, membuat sang
putra mahkota kesulitan mengendalikan.

Sang putra mahkota bingung, tak tahu harus berbuat apa. Saat latihan berburu, hanya satu
singa yang dihadapi dan belum sekalipun ia berhasil. Dan kini, empat ekor singa sekaligus
yang dihadapinya. Otaknya berpikir keras, bagaimana caranya bisa berlari menghindar.
Jika dipanahnya salah satu singa, ia khawatir singa lainnya akan menerkamnya secara
bersamaan. Jika ia berlari menghindar, kearah mana ia harus mengarahkan kuda
kesayangannya berlari. Terlebih juga jika berhasil menghindar, ia ragu kudanya mampu
berlari jauh lebih kencang daripada singa-singa itu. Jika hanya diam, ia hanya menunggu
waktu untuk diterkam oleh keempat singa itu.

Lalu harus bagaimana?

Sang putra mahkota mulai memberanikan diri.
Dengan tenang diambilnya tiga buah Lion Arrow, kemudian ia merogoh tas berisi bekal
makanan. Diambilnya tiga lembar roti gandum. Ditancapkannya roti-roti gandum tadi pada
ujung masing-masing Lion Arrow. Ketiga Lion Arrow dengan roti gandum tadi disiapkannya
utuk dipanah, mengarah ke depan jauh.

Rencana sang putra mahkota adalah membuat umpan agar singa-singa itu berlari mengejar
roti-roti gandum yang terlontar dari busur panahnya. Ketika singa-singa itu berlari mengejar
roti gandum itu, ia bersama kuda kesayangannya akan mengikuti berlari, mengejar keempat
singa tadi. Singa-singa itu akan merasa, bahwa kini merekalah yang diburu.
Akan disejajari olehnya singa yang berlari paling belakang, dibidiknya tepat di jantung
singa, dan dilepaskanlah Lion Arrow yang nomor empat miliknya.

Sang putra mahkota memperlambat laju lari kuda kesayangannya. Tiga singa lainnya sudah
hilang dari pandangan mata. Kuda berhenti dan ia menegok ke belakang. Seekor singa jantan
dewasa tersungkur. Masih bernyawa, terlihat masih bernafas. Namun Lion Arrow yang tepat
menancap di jantungnya membuat darah mengalir deras. Merah segar membasahi tanah di
sekitar singa. Sang putra mahkota mendekati singa yang kini tinggal menanti waktu
kematian.

Turunlah ia dari kudanya, menginjakkan kaki untuk yang pertama kali di hutan yang dipenuhi
oleh kawanan singa. Hutan yang merupakan wilayah kekuasaan dari kerajaan Lion Arrow.
Setelah dipastikan tak bernyawa, dibawalah singa jantan dewasa itu pulang ke kerajaan.

Beberapa kilometer dari hutan, perasaan hati orang-orang di kerajaan bertolak belakang
dengan perasaan senang dan lega dari sang putra mahkota.

Senyum semringahnya dalam perjalanan pulang, beriringan dengan duka dan tangis di
kerajaan sebab sang raja telah mangkat.

Sang ratu berduka seraya berdoa agar sang buah hati mampu menuntaskan tanggung
jawabnya dan kembali ke kerajaan sebagai raja baru.

 

Gambar Link