R. Mohammad Ali: Sejarawan Yang Hilang Ditelan Zaman

Tokoh

Riwayat R. Mohammad Ali yang berselimut misteri terutama riwayatnya pasca masa pemerintahan Sukarno kemungkinan terkait erat dengan pemikiran dan pilihan politiknya

Semenjak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dimulai upaya yang lebih hebat dalam membangun Indonesia baru. Para pendiri bangsa enggan menjadikan Indonesia hanya sekedar kelanjutan dari negara kolonial Hindia-Belanda. Muncul pula gagasan baru untuk merumuskan sejarah Indonesia. Pada era sebelumnya, wacana dalam kajian sejarah sepenuhnya dikendalikan oleh pemerintah kolonial. Pada masa awal kemerdekaan ini belum banyak sejarawan profesional Indonesia. R. Mohammad Ali adalah salah satunya. Namanya tentu masih kalah terkenal bila dibandingkan dengan kawan-kawan segenarasinya seperti Sartono Kartodirdjo, Mohammad Yamin, Soerjono Soekanto, Soedjatmoko dan sebagainya.

  1. Mohammad Ali dan karya-karyanya kurang begitu dikenal. Malahan riwayat hidup serta riwayat keluarganya masih sangat misterius. Penerbit LKiS yang menerbitkan kembali salah satu karya R. Mohammad Ali berjudul “Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia” tidak berhasil menemukan keluarga atau ahli warisnya. Walhasil buku tersebut diterbitkan LKiS pada tahun 2005 tanpa ditemukan pemegang hak ciptanya. Selain keluarga R. Mohammad Ali yang tidak dapat ditemukan, penerbit Brarata selaku penerbit pertama buku tersebut juga sudah tidak bisa dilacak lagi keberadaannya. Penerbit Brarata telah lama tidak diketahui nasibnya karena pernah mendapat cap penerbit komunis.

Kemisteriusan R. Mohammad Ali nampaknya telah dimulai sejak dirinya masih aktif menulis. Sejak berkiprah dalam Balai Pendidikan Guru, R. Mohammad Ali seringkali menerbitkan tulisan-tulisan anonim. Dikemudian hari barulah R. Mohammad Ali mengakui bahwa dialah pengarang dari tulisan-tulisan tersebut. Pengakuan tersebut ia tuliskan dalam kata pengantar edisi pertama buku “Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia” yang diterbitkan tahun 1962.

Selain “Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia” terbitan LKiS yang juga menyertakan pengantar dari terbitan pertama 1961 dan pengantar terbitan kedua 1962 ada lagi satu tulisan yang bisa menuntun kita untuk melacak R. Mohammad Ali. Tulisan Santi J.N berjudul “Mengenang Sejarawan R. Mohammad Ali” dalam situsnya, santijehanda.com yang diunggah pada 9 Maret 2014. Selebihnya nyaris tida ada keterangan lebih lanjut. Padahal pendapat R. Mohammad Ali sering dikutip terutama dalam buku-buku teks sekolah.

  1. Mohammad Ali diperkirakan lahir di Madiun pada 14 April 1912 dan meninggal tanggal 19 Juni 1974. Tidak diketahui juga apa makna huruf R di bagian depan namanya karena sejauh yang penulis temukan selalu ditulis seperti itu tanpa keterangan. R. Mohammad Ali jelas terlahir di keluarga yang cukup beruntung karena berkesempatan menempuh pendidikan formal pada masa kolonial. Dia pernah belajar di Eerste Europeesche School (sekolah dasar berbahasa Belanda) , MULO (sekolah tingkat menengah) dan HIK (sekolah guru). R. Mohammad Ali juga cukup aktif menulis sebagai penulis pemerintah di era Demokrasi Terpimpin. Dia juga bisa dikategorikan sebagai sejarawan Indonesia generasi pertama mengingat keterlibatannya dalam periode awal pergumulan kajian sejarah Indonesia termasuk pada Seminar Sejarah Pertama di Yogyakarta tahun 1957. Beberapa tulisannya dalam buku “Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia” nampak bersinggungan dengan tema-tema yang dibahas dalam Seminar Sejarah Pertama.

Riwayat R. Mohammad Ali yang berselimut misteri terutama riwayatnya pasca masa pemerintahan Sukarno kemungkinan terkait erat dengan pemikiran dan pilihan politiknya. Kita bisa sedikit menebak jika penerbit yang menerbitkan karyanya saja dicap komunis bagaimana dengan buku dan pengarangnya. Sangat mungkin cap yang sama akan turut mengikuti. Apalagi jika kita menyimak karya-karya ilmiah dan keberpihakan politiknya yang cukup rapat dengan semangat Sukarnois di era Demokrasi Terpimpin. Bahkan sejarawan Bambang Purwanto dalam sebuah seminar nasional pernah mengatakan bahwa dahulu karya-karya R. Mohammad Ali terlarang untuk dibaca.

Membaca kembali sedikit dari karangan R. Mohammad Ali memberi sedikit gambaran betapa dia seorang sejarawan yang cukup progresif pada masanya. Ia adalah sejarawan Indonesia pertama yang mencoba menerapkan pendekatan G.J. Resink dalam kajian sejarah Nasional. Saat itu di Indonesia karya G.J. Resink belum banyak dikenal. Pendekatan yang digunakan G.J. Resink sering dianggap kurang sejalan dengan semangat kaum nasionalis di awal kemerdekaan. G.J. Resink menggunakan pendekatan hukum internasional pada sejarah Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan tersebut, maka ditemukan fakta bahwa Indonesia tidak pernah dijajah selama 350 tahun. Lebih berat lagi adalah pengakuan bahwa sebelum 1945 Indonesia sama sekali bukan merupakan kesatuan yang utuh. Ada banyak kerajaan di wilayah Indonesia dan hubungan antar kerajaan tersebut bersifat internasional. Pendekatan inilah yang juga diambil oleh R. Mohammad Ali.

  1. Mohammad Ali juga sangat serius dalam mengupayakan kajian sejarah Indonesia yang ilmiah dan lepas dari doktrin nasionalis yang berlebihan. Ia berupaya menemukan titik temu diantara keduanya. Kajian sejarah Indonesia harus memiliki corak nasionalis tetapi juga tetap menjaga kaidah-kaidah keilmuan sejarah. Menarik juga bahwa R. Mohammad Ali adalah sejarawan yang berupaya menjalin benang merah antara penelitian sejarah dan pengajaran sejarah. Bagaimana keterkaitan antara sejarah sebagai disiplin ilmu di tingkat pendidikan tinggi dengan bagaimana sejarah sebagai mata pelajaran di tingkat sekolah menengah dan dasar.

Pada akhirnya menyimak R. Mohammad Ali dan kemisteriusannya menyisakan satu pertanyaan besar. Jangan-jangan kajian sejarah sendiri telah menjadi tidak menyejarah ? Jangan-jangan historiografi kita diam-diam menjadi ahistoris.

 

Belu NTT, 14 Juni 2017

Sumber Gambar: https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/buku/sejarah/4g4mdh-jual-pengantar-ilmu-sedjarah-indonesia-r-moh-ali