PONTIANAK BUKAN KUNTILANAK

Kondang

Alkisah berdirilah sebuah kota di tepian sungai yang posisinya tepat di pertemuan antara Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Kota itu didirikan oleh Syarif Abdurrahman Al-Qadrie. Uniknya, selama perjalanan menyusuri Sungai Kapuas untuk membuka perkampungan baru, Ia diganggu oleh hantu kuntilanak. Untuk mengusir hantu kuntilanak yang menganggu itu, ia terpaksa melepaskan tembakan meriam di geladak kapalnya. Dari situ lah asal usul nama kota Pontianak terbentuk.

Demikianlah kiranya penggalan kalimat di atas tentang asal usul Kota Pontianak, yang dituturkan turun temurun dari generasi ke generasi sehingga sejarah pendirian kota ini lekat dengan mitos dan legenda. Kisah demikian telah menjadi suatu pendapat umum di kalangan masyarakat Pontianak, bahkan tidak sedikit yang mempercayainya.

Narasai sejarah semestinya bersifat logis dan menjauhkan bahkan meninggalkan segala bentuk sumber-sumber yang tidak obyektif seperti mitos. Sejarah harus bersifat ilmiah yang dibuktikan dengan metode-metode sejarah. Akan tetapi hingga saat ini belum banyak ditemukan sumber-sumber sejarah yang kredibel terkait pendirian Kota Pontianak.

V.J Verth, Sejarawan Belanda, dalam bukunya Borneos Wester Afedeling, menuliskan bahwa Syarif Abdurrahman adalah seorang peniaga dan pelaut yang cukup ulung. Verth menuliskan Belanda (VOC) mulai masuk di Pontianak pada tahun 1773. Saat itu usia kota tersebut baru dua tahun, pada 1771 Syarif Abdurrahman mencoba mendirikan pemukiman di tepian Sungai Kapuas yang bercabang dengan Sungai Landak. Ia berhasil mendirikan pemukiman itu dan mengembangkannya menjadi pusat perdagangan yang makmur. Dalam buku Verth tersebut sama sekali tidak dibahas atau tidak ditemukan pernyataan bahwa Pontianak dibangun dengan lebih dulu mengusir hantu kuntilanak.

Paska kemerdekaan Indonesia, penelitian-penelitian terkait asal usul Kota Pontianak mulai dilakukan oleh berbagai kalangan. Pada 1971, mulai ada titik terang terkait asal usul Kota Pontianak. Menurut Gusti Muhammad Jimmy Ibrahim sebagaimana dikutip oleh sejarawan Kalimantan Barat, Syafaruddin Usman dalam buku Kota Pontianak Doeloe-Kini-Sekarang (2016), bahwa mengaitkan pendirian Pontianak dengan hantu kuntilanak perlu diluruskan.

“Kejadian yang sebenarnya ialah di dalam perjalanan menyusuri Sungai Kapuas ia berperang dengan bajak laut (perompak-lanun) yang waktu itu menjadikan persimpangan tiga Sungai Landak dan Sungai Kapuas, di mana sekarang Kota Pontianak terletak, sebagai basis operasi atau markas pembajakannya. Dalam dongeng kuno dikatakan para bajak laut ini, (mungkin karena ditakuti layaknya hantu) disebut sebagai Hantu Pontianak (Kuntilanak) yang sebenarnya adalah bajak laut yang ditembaki dengan meriam-meriam.” Demikian keterangan Gusti Muhammad Jimmy Ibrahim, dalam buku 200 Tahun Kota Pontianak yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Kota Pontianak tahun 1971.

Gusti Muhammad Jimmy Ibrahim sendiri merupakan Putra Mahkota Kesultanan Mempawah yang seharusnya menggantikan ayahnya, Sultan Muhammad Accamudin yang diculik Jepang dan menjadi korban Peristiwa Mandor pada tahun 1944. Mempawah sendiri merupakan kesultanan yang masih memiliki tali pertautan erat dengan Kesultanan Pontianak.

Syarif Abdurrahman yang merupakan pendiri Kesultanan Pontianak ia memperistri Utin Tjandramidi yang merupakan putri Opu Daeng Menambon, pendiri Kesultanan Mempawah. Pada perkembangannya Mempawah akhirnya tunduk dan menjadi bagian dari Kesultanan Pontianak yang berstatus panembahan.

Sayangnya, meskipun fakta sejarah yang lebih logis sebenarnya sudah diketahui namun hal ini belum tersebar luas. Kisah-kisah yang disampaikan secara turun temurun seperti di atas belum dapat digantikan dan terus menjadi pendapat umum dalam masyarakat Pontianak. Di sini dapat dilihat bagaimana kisah-kisah yang berbau mitos ini tetap terpelihara. Hal itu menjadi bukti berhasilnya usaha meletigimasikan sosok Syarif Abdurrahman sebagai tokoh penting berdirinya Pontianak.

Sumber Gambar: link