Petualangan Don Quixote

Rehal

Judul Novel  : Petualangan Don Quixote

Penulis         : Miguel De Cervantes

Penerjemah : Muajib

Penerbit       : Immortal Publisher

Jumlah         : 124 halaman

Petualangan Don Quixote merupakan sebuah karya fenomenal seorang novelis, penyair, seklaigus dramatis Spanyol abad 16 yang bernama Miguel de Cervantes Saavedra. Miguel de Cervantes lahir di Alcala de Henares pada tahun 1547 dan meninggal tahun 1616. Ayahnya merupakan seorang ahli bedah miskin, sedangkan ibunya merupakan keturunan Yahudi.

Selama hidupnya, Miguel de Cervantes telah melewati sejumlah hal-hal yang menarik. Mulai dari hidup yang berpindah-pindah, menjadi tentara angkatan laut dalam pertempuran Lepanto, menjadi seorang tawanan, hingga menjadi seorang penulis. Sebagai seorang penulis, Miguel de Cervantes telah menghasilkan sejumlah karya, antara lain: La Galatea (1585), El ingenioso hidalgo don Quijote de la Mancha I (1605), Novelas ejemplares (1613), Segunda parte del ingenioso caballero don Quijote de la Mancha (1615), Los trabajos de Persiles y Segismunda, historia septentrional (1617)

Petualangan Don Quixote secara garis besar menceritakan petualangan yang penulis lebih suka menyebut petualangan gila, seseorang yang tinggal di sebuah desa di distrik La Mancha Spanyol bernama Alonzo Quinjano, selanjutnya terkenal sebagai Don (ksatria) Quixote. Petualangan-petuangan hebat yang dilalui oleh Don Quixote merupakan gabungan antara realita dengan imajinasinya sendiri. Don Quixote di satu sisi dikisahkan memang benar-benar melakukan pengembaraan ke berbagai tempat. Sementara pada saat yang bersama di sisi lain dalam pengembaraan tersebut Don Quixote tenggelam dalam imajinasinya sendiri, menganggap dirinya sebagai seorang ksatria yang bertugas membela kaum lemah. Sehingga di dalam cerita tersebut terciptalah sebuah peristiwa-peristiwa tak terduga, atau lebih tepatnya peristiwa konyol, yang menimpa Don Quixote.

Don Quixote dalam petualangan tersebut ditemani oleh kudanya yang dia beri nama Rozinante dan seorang pengikut setianya yang bernama Sancho Panza. Karakter Sancho Panza semakin menambah unsur kekonyolan dengan sifatnya yang polos namun setia pada tuannya. Keduanya kemudian mengalami sejumlah peristiwa-peristiwa unik, aneh, serta penuh kepalsuan. Mulai dari penyerangan sejumlah kincir angin (yang menurut Don Quixote merupakan raksasa jahat), penyerangan sejumlah pendeta (yang menurut Don Quixote merupakan anak-anak setan), penyerangan terhadap segerombolan domba (yang menurut Don Quixote merupakan pertempurang besar antara pasukan Ali Fanfaron melawan pasukan Pentapolin), pembebasan para tahanan, hingga perkelahian melawan ksatria cermin dan ksatria bulan (yang sejatinya adalah Samson Carrasco, orang dekat Don Quixote sendiri).

Petualangan-petualangan tersebut dikisahkan Miguel de Cervantes dengan bahasa yang ringan hingga membuat para pembacanya masuk dalam ilusi gila Don Quixote. Miguel de Cervantes mencoba memberikan suatu pembaharuan dalam karya sastra dengan menampilkan sebuah kisah pahlawan kesiangan dengan imajinasi-imajinasi konyol sebagi reaksi atas kisah-kisah kuno tentang pahlawan-pahlwan pengembara yang begitu membosankan serta mampu meracuni pemikiran para pembacanya. Kisah tersebut juga tidaklah lepas dari sejumlah peristiwa yang dialami oleh Miguel de Cervantes sendiri, dalam hal ini dampak dari renaisans serta penaklukan kerajaan-kerajaan Eropa terhadap wilayah di sekitarnya. Satu hal yang penulis tangkap dari kisah petualangan Don Quixote yaitu humanisme. Ketetapan hati serta pengorbanan sebuah cinta kasih yang begitu tulus akan tetap relevan dengan realita yang tengah kita hadapi di abad 21 ini.

Saat ini kita sering dihadapkan dengan kemunafikkan sejumlah pejabat negara, politisi, bahkan pemuka agama yang ingin tampil sebagai pahlawan dan mendapat pujian dari banyak orang. Namun usaha-usaha mereka tidak lebih dari apa yang pernah dilakukan oleh Don Quixote pada masanya. Orang-orang tersebut lantas terjebak dalam ilusi, atau semacam kekeliruan yang cerdas, sehingga menodai setiap pemikiran dan tindakan mereka sendiri di abad modern ini.

Kita tapi toh juga jangan terlalu kaku dan konservatif dalam melihat serta menyikapi segala hal. Penulis tetap lebih suka novel Petualangan Don Quixote sebagai pelipur lara serta pengisi kekeringan pemikiran dengan kekonyolan-kekonyolan yang kerap disuguhkan. Perjuangan cinta Don Quixote terhadap Dulcinea del Toboso mengingatkan penulis akan kisah cinta remaja era ini, mungkin juga termasuk penulis sendiri. Terkadang seorang pria ingin tampil begitu keren, maskulin, serta “wah” di mata sang pujaan hati, meskipun mungkin si pria sudah tahu bahwa si wanita tidak pernah meliriknya sekalipun. Pada bagian dari akhir dari tulisan ini, rasanya kita sebagai pembaca perlu kiranya untuk tetap menyampaikan kisah-kisah seperti di atas untuk generasi-generasi yang akan datang. Bukan sekedar kisah seorang pahlawan yang mengalahkan musuhnya dengan segala kekuatan supernya, tetapi kisah seorang biasa dengan segala keterbatasannya dalam meraih cita-citanya.

Sumber Gambar: Link