Peter Kasenda, Soekarno, dan Narasi Alternatif Sejarah Indonesia

Tokoh

Senin, 9 September 2018, para pegiat sejarah di seluruh Indonesia berduka. Peter Kasenda, salah seorang sejarawan produktif, telah berpulang. Hemat penulis, di generasi sekarang tidak ada orang yang paling mengenal Bung Karno selain beliau.

Peter Kasenda, seorang peneliti cum dosen Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta kerapkali didengar oleh mereka yang menyenangi sejarah.  Namanya juga sering menghiasi poster-poster diskusi, entah sebagai pembicara atau ketika ada acara yang membahas buku karyanya. Tidak salah apabila kita menyebut beliau sebagai salah satu sejarawan yang produktif.

Pak Peter, begitu beliau biasa disapa, memang gemar mengkaji salah satu tokoh nasional yang begitu sentral di Indonesia, Soekarno. Jika ditelisik lebih jauh, karya Peter Kasenda mengulas proses pendewasaan pemikiran Soekarno (Soekarno Muda: Biografi Pemikiran 1926-1933 , Komunitas Bambu, 2010), hingga kisah wafatnya sang Pemimpin Revolusi tersebut (Hari-Hari Terakhir Sukarno, Komunitas Bambu, 2013).

Oleh karena itu penulis memberi label Peter Kasenda sebagai teman dekat namun berbeda generasi dari Bung Karno.

Sejak muda, Pak Peter kerapkali menulis sejarah dari sudut pandang yang berseberangan dengan narasi besar rezim Orde Ba(r)u. Seperti yang kita ketahui, produk sejarah yang diterbitkan oleh Orde Baru begitu diskriminatif. Sejarah yang seharusnya dapat menguatkan identitas nasional, acapkali dipergunakan untuk mendiskriminasi beberapa kelompok yang dianggap subversif. Meminjam istilah McGregor, sejarah pada masa itu merupakan sejarah yang berseragam.

Peter Kasenda mempunyai andil yang begitu besar terhadap perkembangan historiografi Indonesia. Salah satu media kritis bagi akademisi saat itu ialah Jurnal Prisma. Sebuah jurnal kritis yang kerap mengangkat tema soal politik  a la akademisi pada era Orde Baru. Pak Peter turut menyumbang tulisan untuk jurnal tersebut. Bagi penulis, banyak diantara tulisannya mempunyai pesan lebih daripada sekadar memperkenalkan siapa itu Soekarno.

Meski dalam sebagian besar buku ia menjadikan Soekarno sebagai subyek penelitian, namun ada hal yang lebih penting daripada itu: sebuah alternatif historiografi Indonesia. Ia berusaha menjadikan seorang tokoh Bung Karno sebagai sudut pandang utama untuk menjelaskan sejarah menurut ideologi dan keyakinan politik panglima revolusi itu. Ini yang menjadikan karya Peter Kasenda begitu menarik untuk dibaca.

Salah satu buku terbaik Peter Kasenda menurut hemat penulis adalah Soekarno, Marxisme dan Leninisme  (Komunitas Bambu, 2014). Di buku ini penulis menarik kesimpulan bahwa Pak Peter merupakan sejarawan yang begitu tekun dan ulet. Dapat dibayangkan, gagasan dan perdebatan yang dimulai sejak awal 1999 setelah reformasi hingga tahun 2008 terangkum dengan baik dengan analisis yang tajam.

Dalam buku itu, Soekarno ditampilkan sebagai manusia sekaligus menjadi tokoh penentu kebijakan sesuai kondisi objektif yang tergambar dengan baik dalam buku tersebut. Sebagai seorang nasionalis sejati, Pak Peter mencoba mundur selangkah dan melihat peristiwa utamanya gerakan 30 September sebagai suatu peristiwa politik yang mengorbankan banyak jiwa, yang harus dibahas melalui narasi kritis.

Buku itu juga berupaya mengklarifikasi pandangan umum masyarakat mengenai kedekatan tokoh PKI D.N. Aidit dengan Soekarno. Keyakinan umum saat ini hanya mendasari argumentasinya dengan langkah kebijakan Soekarno yang menguntungkan bagi PKI. Peter Kasenda berusaha mengingatkan bahwa argumentasi tersebut tidak sepenuhnya benar. Pak Peter memberikan ilustrasi mendetail terkait figur Soekarno yang ingin menjadi seorang‘bapak’ yang mengayomi semua anak-anaknya (termasuk di dalamnya Angkatan Darat). Hal tersebut dibuktikan dengan kerja sama kompak antara Soekarno dan AD untuk menggalang dukungan terhadap Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959. Juga mendukung langkah SOBSI untuk menasionalisasi aset perusahaan Belanda di Indonesia pada periode 1957-1958.

Keberhasilan tentara dalam menumpas gerakan kontra revolusioner PRRI/Permesta membuat posisi tawar mereka menjadi tinggi. Dukungan tentara untuk membubarkan Dewan Konstituante dan penguasaan akar rumput basis massa oleh PKI membuat peta politik semakin kompleks. Hal ini yang menjadikan Soekarno sebagai sosok penting pengambil kebijakan. Meski kedua PKI dan Angkatan Darat memiliki kekuatan yang berpengaruh dalam percaturan politik dalam negeri, Soekarno berusaha membuat keputusan yang tidak menguntungkan salah satu pihak.

Di sisi lain, Peter Kasenda juga mengkritik langkah kebijakan Soekarno yang nasionalis namun menaruh lebih menitik beratkan pada Jawa. Soekarno membentuk daya tariknya dengan menggunakan suatu gambaran yang menimbulkan pengabdian yang mendalam di segala lapisan masyarakat, terutama golongan abangan Jawa dengan konsep Nasakom.

Modernisasi di tingkat struktur politik dan kesadaran ideologi yang beragam turut mewarnai periode sejak demokrasi liberal hingga demokrasi terpimpin. Disini, Peter mengkriti soal keberpihakan nasionalisme Soekarno yang seolah hanya berlaku untuk salah satu golongan (re: Jawa).

Setelah meletus peristiwa tragedi malam 1 Oktober 1965 dan disusul oleh pembunuhan massal yang ditujukan kepada orang yang dianggap komunis, kondisi bangsa kita begitu sengkarut-marut. Seperti yang John Roosa tuliskan, beberapa orang kepercayaan Soekarno ditahan, dihilangkan, bahkan diasingkan.

Soekarno sebagai pahlawan, founding father, dan simbol Indonesia didiskreditkan oleh Orde Baru dengan hanya memberi gelar sebagai ‘sang proklamator’. Identitasnya diburamkan, perjuangan yang dirintis sejak muda seolah pudar, bahkan menjadi bahan cacian mahasiswa pada tahun 1966. Penggelapan sejarah dan adanya fabrikasi fakta non faktual inilah yang menjadi dasar pemikiran kritis Peter Kasenda.

Peter Kasenda menjadi salah satu sejarawan yang paling mengenal Soekarno. Selain ia harus  mendebat argumentas sejarah sejarawan orde baru, ia juga mesti melakukan counter wacana terhadap tulisan peneliti asing. Sejarawan asing tersebut diantaranya Lambert Giebels dalam bukunya Pembantaian yang ditutup-tutupi, Victor Miroslav Fic, dan yang paling serius yakni Antonie C.A Dake dengan karyanya Soekarno File dan In the Spirit of The Red Banteng, Indonesian Communists Between Moscow and Peking.

Ketiga sejarawan di atas sudah mendapat kritik keras dari sejarawan Indonesia yakni Asvi Warman Adam mengenai fabrikasi data yang tidak faktual. Akan tetapi apabila kita membaca ulang karya Peter Kasenda, semua karyanya (entah disengaja maupun tidak) merupakan anti tesis terhadap narasi sejarah yang sengaja untuk mendiskreditkan Bung Karno.

Sebagai kader Marhaenis yang pernah terlibat aktif dalam Gerakan Mahasiswa Republik Indonesia (GMNI) ia mencoba menggali ulang data dan fakta mengenai sejarah Putra sang Fajar. Narasi yang dibangun olehnya juga tidak terputus dan hanya terfokus pada satu peristiwa, narasinya lengkap, bersambung, dan faktual. Ia kerap menjadi narasumber dalam acara-acara yang membahas tentang Soekarno. Bahkan menjadi rujukan utama para wartawan, apabila terdapat seorang politisi yang termakan oleh narasi besar Orde Baru. Seperti waktu Joko Widodo menyebut bahwa Soekarno lahir di Blitar.

Meskipun begitu, Peter Kasenda tetaplah manusia yang tak luput dari kesalahan. Tanggung jawabnya sebagai akademisi dengan memproduksi tulisan-tulisan yang berkualitas seolah menjadi ‘suri tauladan’ bagi generasi sejarawan era sekarang. Sumbangsih historiografinya selalu menarik untuk dikaji, terlebih beliau selalu menggunakan bahasa yang ringan untuk dipahami.

Selamat jalan Peter Kasenda, tulisanmu akan abadi dan dikenang oleh penerus bangsa ini.

 

Sumber foto: Dokumentasi pribadi oleh FX Domini B.B Hera ketika di Malang, 4 Mei 2018.