Pangeran dari Timur; Orang Aneh pada Zaman yang Keliru

Rehal Sastra

Penulis            : Iksaka Banu dan Kurnia Effendi

Judul               : Pangeran Dari Timur

Kota                : Yogyakarta

Penerbit          : Bentang

Tahun              : 2020

Tebal               : x+594 halaman

Berabad silam Bangsa Eropa berlomba “menemukan” dunia baru, yang asing, yang tak dikenal. Mereka berlayar, lantas membikin peta, membuat garis-garis dengan mistar untuk mengkavling-kavling tanah bagi mereka para negeri-negeri induk. Ketika kapal-kapal mereka bertolak dari pelabuhan-pelabuhan Eropa, kebanyakan dari mereka telah berpikir bahwa Eropa adalah satu-satunya bangsa dengan peradaban paling akbar di muka Bumi. Belanda, Bangsa Eropa yang bercokol di Hindia, bahkan menamai kedatangan mereka di Hindia dengan bahasa Perancis nan elok vocation civilisatrice-misi pemberadaban.

Warga kepulauan yang Belanda sangka India itu pun harus diyakinkan bahwa kebudayaan Eropa lebih beradab dan itu kodrati. Maka sudah seharusnya Belanda memberadabkan Hindia. Dari sini kita bisa memahami mengapa Belanda merekrut generasi muda bertalenta untuk dididik dengan cara Eropa bahkan hingga merasakan langsung pendidikan di Eropa bersama anak-anak Eropa dan guru-guru Eropa.

Mereka melakukan itu-merekrut generasi muda bertalenta-bukan semata demi menyebarkan pencapaian Eropa. Namun juga diiringi keyakinan, demi kemajuan Bumiputra. Pada praktiknya tujuan utama adalah lebih pada meyakinkan Bumiputra bahwa dalam segalanya Eropa unggul dan absah jika kemudian menjadi bangsa pemerintah.

Selama ini mungkin kita sudah mengetahui hal semacam ini juga menimpa keluarga Kartini, dan keluarga Djajadiningrat. Sosok-sosok yang dielukan Belanda sebagai pencapaian tertinggi mereka, yang bertubuh Bumiputra tapi berpikiran Barat. Seolah Barat telah memberadabkan mereka, membuka keterkungkungan dari primitifnya dunia Timur. Namun apakah hanya sosok itu? Lebih jauh ke belakang, di abad ke-19, kita akan bertemu sosok “setengah Timur, separuh Barat” ini bernama Raden Saleh. Siapa dia?

Nama lengkapnya adalah Saleh Syarif Bustaman, dengan imbuhan gelar “Raden” di depan namanya. Ia lahir di Terboyo, Semarang pada 1811(-1880), dan merupakan keturunan Arab-Hadrami. Kelak, atas segala capaiannya, ia justru dipertanyakan ke-Indonesiaan-nya-yang jelas pada masa hidupnya konsep Indonesia tentu belum muncul. Ia dianggap sebagai orang Timur yang terbaratkan. Betapa tidak, ia banyak pelesir ke negara-negara Eropa, justru di saat Perang Besar yang mengubah tatanan Hindia beralangsung, Perang Jawa.

Kurang tenarnya sosok Raden Saleh, salah satunya, diakibatkan minimnya literatur tentang Raden Saleh di Indonesia. Dari yang sedikit itu, ada nama Werner Kraus-sejarawan seni asal Jerman-yang secara rinci merekonstruksi riwayat pangeran dari Jawa itu. Karya Kraus itu terbit dalam bahasa Indonesia pada 2018 lalu, Raden Saleh: Kehidupan dan Karyanya.

Menariknya, atas segala kerunyaman itulah alasan dua penulis, Iksaka Banu dan Kurnia Effendi, menulis novel sosok Raden Saleh. Mereka butuh proses selama 20 tahun untuk melahirkan novel itu. Mereka mesti berjibaku dengan literatur yang serba sedikit. Akan tetapi, tekad mereka untuk menuliskan sosok Raden Saleh tidak pernah padam. Dua puluh tahun kemudian Banu dan Effendi di sela rutinitas harian mereka sebagai seniman terus berupaya merampungkan karya tentang pangeran berjuluk le prince javanaispangeran dari Jawa itu. Kerja keras mereka terbayar pada awal 2020, sebuah novel berjudul Pangeran Dari Timur terbit.

Banu dan Effendi tidak pernah mengaku diri sebagai sejarawan dan karyanya sebagai sejarah ilmiah. Lebih dari itu, mereka juga tak hendak memaksakan penghakiman secara hitam-putih dan menempatkan Raden Saleh sebagai nasionalis atau pengkhianat. Sidang pembaca dibiarkan secara terbuka untuk menyimpulkan sendiri dari alur novel yang bersifat ganda tersebut. Mereka memang sengaja membikinnya demikian agar pembaca bisa dengan leluasa “mengadili” Si Raden dari Terboyo itu.

Novel itu terdiri dari dua alur besar, yakni; pertama bertutur riwayat hidup Si Raden; dan kedua mengisahkan bagaimana sosok Raden Saleh menjadi bahan dialog pada masa sesudahnya. Pada alur kedua inilah melalui tokoh-tokoh yang saling berdialog dan ditampilkan upaya memahami Raden Saleh. Layaknya karya reka (fiksi), kisah-kisah tentang Raden Saleh juga dibubuhi drama-drama percintaan yang memang sengaja dihadirkan sebagai pemikat agar novel tak menjadi lebih mirip karya ilmiah biografis.

Sekiranya Banu dan Effendi adalah sejarawan, barangkali mereka sudah menulis buku sejarah atau biografi. Akan tetapi, mereka adalah sastrawan yang lebih suka mengerjakan karya reka. Meskipun rekaan, bukan berarti penulis sepenuhnya bisa bebas mengetikkan apa saja. Riset panjang berupa pencarian literatur, penelusuran di dunia maya, mencari kerabat hingga studi lapangan ke Eropa pun mesti mereka lakoni. Semua demi mendapat data akurat tentang riwayat Raden Saleh. Walhasil novel yang tercipta membentang panjang sejak masa kanak-kanak hingga kematian Sang Maestro seni tersebut.

Nasionalis?

Ketika di tanah kelahirannya, Jawa, tengah berkecamuk Perang yang dikobarkan Pangeran dari Yogyakarta, Diponegoro, tetapi justru saat itu Raden Saleh menikmati hidup berkecukupan bahkan mewah di lingkungan elite Eropa, buntut pembiayaan yang ditanggung pemerintah kolonial. Bahkan, Raden Saleh hingga akhir hayatnya menampilkan diri sebagai kawula dan putera Penguasa Belanda yang setia. Apa ini artinya Raden Saleh seorang oportunis, seorang pengkhianat murni? Rasanya tidak semudah itu menyimpulkan.

Pada kemudian hari banyak ditemukan bukti bahwa Raden Saleh mengagumi perjuangan Pangeran Diponegoro dan menempatkan Sang Pangeran dalam posisi ksatria terhormat yang diringkus secara curang. Kita bisa melihat itu dengan gamblang pada karya Historische Tableau, die Gefangennahmen des Javanischen Haupting Diepo Negoro yang dilukis pada 1857-sebuah lukisan historis yang dalam bahasa Indonesia lebih dikenal sebagai “Penangkapan Diponegoro”.

Sejarawan ahli Diponegoro, Peter Carey telah dengan cermat menganalisis Lukisan Penangkapan Diponegoro itu. Lukisan tersebut jelas bukan salinan dari peristiwa asli tetapi lebih pada representasi pandangan Raden Saleh terhadap Diponegoro. Kenyataannya memang Raden Saleh tidak melihat langsung peristiwa tersebut. Banyak sejarawan meyakini lukisan itu salinan dari karya Nicolass Pieneman yang kini tergantung di Rijkmuseum, Amsterdam. Meski begitu, dalam lukisan Raden Saleh justru menambahkan gambar dirinya diantara pengikut Diponegoro dalam ekspresi menghormat takzim. Selain itu terlihat ada kesengajaan bahwa setiap melukis orang Belanda, Raden Saleh membuat kepala mereka gembung seperti ikan buntal. Jelas, ini semua adalah pemberontakan terlebih mengingat bahwa lukisan tersebut dikerjakan sebagai hadiah untuk Raja Belanda.

Namun, selang tiga tahun setelah wafatnya Raden Saleh, pada 1883, di Amsterdam diadakanlah pameran dunia yang bernama resmi Exposition Universelle Coloniale et d’Exportation Generale atau Pameran Kolonial dan Perdagangan Ekspor. Dalam pameran itu bukan hanya berisi barang-barang produk-produk ekspor negara jajahan seperti kopi atau tebu. Tetapi, juga ada kampung, rumah, serta manusia beserta aktivitasnya. Salah satu yang terpenting, adalah karya lukis Pangeran dari Timur itu. Melalui kemolekan lanskap Hindia dalam kanvas, orang-orang Eropa menganggap dunia Timur. Dan hanya itu.