Pahit Nasib Buruh Tani Perkebunan Kopi

Rehal Sastra

Judul                                             : Babad Kopi Parahyangan

Penulis                                          : Evi Sri Rezeki

Penerbit                                        : Marjin Kiri

Tahun terbit                                  : Februari 2020, cet. I

Tebal halaman                              : x + 348

Sebab kita bersukacita bukan karena memotong padi; kita bersukacita karena memotong padi yang kita tanam. Dan jiwa manusia bukan tumbuh karena upah, tapi karena kerja yang membikin ia berhak untuk menerima upah” (hlm. 272).

Simpulan atas novel Babad Kopi Parahyangan bisa diringkus pada halaman 239, bahwa novel ini tidak “mengajak pembacanya hanyut pada dunia di seberang samudera atau dunia antah-berantah. Akan tetapi, pembaca diundang menjelajah negerinya sendiri, terpancang teguh di jantung negeri.” Karya Evi Sri Rezeki ini juga tak melulu bicara ihwal kopi belaka, tetapi juga orang-orang dibalik minuman yang pernah agung dengan sebutan “secangkir Jawa” itu. Merekalah, yang dipinggirkan, yang bertungkus lumus dengan kopi; para petani dan buruh perkebunan kopi.

Melalui Karim, si tokoh utama, kita diajak bertualang. Sejak keputusan tualang Karim dari darek-nya di Pantai Barat Sumatra, ia mencecap banyak pengetahuan, mengunyah “didihan darah sekaligus kegetiran” Karim jadi titik kisah tentang keringat dan darah yang mengucur bersama tumbuhnya kopi di bumi Parahyangan.

Riwayat Kopi di Parahyangan

Kopi bukanlah tanaman yang haus petualangan. Namun, ia menginang pada tangan-tangan manusia untuk mengembara. Sebermula ialah Khaldi, kisah Evi, penggembala kambing di Ethiopia. Ethiopia-tepatnya adalah tempat bernama Khaffa, sejarawan berkonsensus tempat asalnya kopi. Suatu kali Khaldi mendapati domba-dombanya kegirangan usai mengunyah buah dari belukar. Kecil nan merah buah itu. Itulah kopi. Khaldi penasaran dan ikut memamahnya. Sekejap, sama-sama giranglah kawanan domba dan lelaki itu.

Dikisahkan, seorang sufi diam-diam memperhatikan Khaldi yang penasaran akan efek buah itu. Ia merebus buah itu dan menenggak rebusan buah kopi sebagai teman mengaji kitab. Ternyata ampuh betul khasiatnya. Sang sufi terjaga dari kantuk. Konon, sejak itu kopi jadi primadona di kota-kota seperti Kairo dan Mekkah.

“Kopi tak kemaruk, ia meleburkan diri bersama manusia melahirkan anak-anak peradaban,” begitu lanjut Evi. Kisah Khaldi usai. Kopi kelewat menjejak peradaban di Istanbul, dan mengakar di budaya Parsi, India serta Afrika Barat. Kopi dicecap, diniagakan. Lagi-lagi hanyalah konon, di Turki pula terdapat kedai kopi perdana.

Belanda yang beroleh izin berdagang kopi dari kekaisaran Ottoman, Turki, lantas berlayar ke timur mencari tempat yang tepat bagi budidaya si hitam, jauh hingga sampai ke Jawa. Pada 1677 Parahyangan menjadi wilayah pertama yang dikuasai Belanda di Jawa. Di sanalah Belanda membuka kebun-kebun kopi perdana. Hal itu dikarenakan iklim Parahyangan cocok untuk menumbuhkan dua komoditas Belanda yang dipaksakan -dikenal sebagai Preanger-stelsel yakni kopi dan teh.

Penduduk lokal yang mulanya bertani dipaksa untuk menyerahkan lahan berserta tenaganya untuk bekerja di perkebunan kopi. Belanda tak mau tangannya kotor oleh simbah keringat dan darah. Penguasa lokal yang jadi boneka. Orang-orang Sunda dituduh sebagai perusak alam dan pemalas. Mereka perlahan dikikis dari adat istiadat, didikte mana yang beradab dan tidak, demi sebuah tujuan: memanfaatkan mereka sebagai tenaga kerja yang mudah diatur bila terkumpul dalam koloni, (hlm. 189). Sejak itu, Belanda mulai menancapkan kuku-kuku yang kian dalam di Tanah Para Dewa, Tanah Parahyangan.

Warsa 1712 adalah tahun pertama bagi kopi Jawa diniagakan di pasar dunia oleh Belanda. Pada 1725, si hitam Jawa berhasil melempar Yaman, kampiun penghasil kopi dari niaga dunia. Selang beberapa warsa, Belanda telah mampu mengendalikan 50%-75% niaga kopi dunia. Kompeni-kompeni itu kian terhipnotis oleh kejayaan, oleh gelimang kekayaan. Mereka memonopoli perdagangan kopi. Semua hanya boleh menjalin hubungan niaga dengan Belanda.

Namun, prahara yang pecah di abad selanjutnya-Belgia yang memisahkan diri Belanda dan neraka lima tahun di Jawa, Perang Jawa (1825-1830)-telah membikin kas Belanda kerontang. Kejayaan yang diisap dari Parahyangan tak mampu menutupi kerugian perang. Didatangkanlah Van Den Bocsh sebagai Gubernur Jendral menggantikan Brurggraf du Bus de Gisignies untuk mencari akal bagaimana bisa menambal kas. Sejak itu, sistem tanam di Parahyangan diperluas menjadi cultur-stelsel yang diorkestrasi oleh Bosch. Berlahan di seluruh Jawa, sistem itu mendatangkan mala bagi rakyat Jawa.

Peminggiran Petani Tipar

Sebelum kongsi dagang berdiri, para petani ini, petani tipar, masih bisa dijumpai di daerah Parahyangan. Jan Breman mengatakan, ada satu fase petani yang lebih dahulu ketimbang petani tipar ini, yakni apa yang disebut Jalma Burung, Manusia Burung, yang merujuk pada cara hidup mereka yang berpindah-pindah. Jalma Burung, sebutan bagi petani nomaden dari para pemilik tanah, mendiami tanah yang seusai dua-tiga kali panen lekas ditinggalkan. Mereka mendiami rumah yang amat sederhana, terbuat dari ranting dan dedaunan. Perpindahan mereka sebetulnya bisa dimaknai sebagai kesempatan alam untuk meregenerasi tanahnya menjadi subur kembali. Terbukti, setelah beberapa tahun para petani ini akan kembali ke tanah semula yang sudah kembali seperti sedia kala.

Namun, para petani ini dijinakkan oleh para kolonialis dan elite feodal yang saling kelindang. Sukar bagi para elite mendominasi bila para petani tercerai-berai. Maka jalan keluarnya adalah pembagian lahan-lahan yang dibuka oleh para penguasa lokal, berharap para petani berpindah ini mau menempati tanah-tanah yang mereka sediakan. Mereka mengobral jabatan kepada para penduduk yang sudah jadi petani tetap. Mereka diberi nama baru, jabatan, disematkan sebagai keturunan baik-baik. Kata “baik-baik” sejatinya ambigu, karena menjadi petani tipar dan tak tersangkut-paut dengan priayi atau raja-raja berarti berasal dari keturunan tidak baik. Menurut Evi, pemberian gelar itu hanya akal-akalan untuk membuat para petani terpecah.

Padahal, perpindahan para petani tipar yang berlahan di tanah kering ini juga bisa digunakan sebagai cara meloloskan diri dari dominasi penguasa. Sebab bila mereka mengambil tawaran penguasa, pada tiap kali panen mereka akan dibebankan pajak yang kian melambung atas dasar biaya yang telah dikeluarkan para penguasa. Maka itu, “Menjadi petani tipar bukan saja sebagai sikap hidup juga pilihan menolak penguasaan,” (h. 186).

Kompeni juga memberi stigma kepada orang Sunda yang diangggap pemalas. Padahal, bagi Evi, orang Sunda tidak perlu dipaksa-paksa buat kerja. Mereka hanya mengambil sesuatu hari dari alam secukupnya. Namun, “prinsip itu diputarbalikkan sedemikian rupa oleh Kompeni sehingga orang-orang memercayainya, bahkan orang Sunda sendiri,” (hlm. 297).