Namanya Dara

Cerpen Sastra

Dara, kutahu namanya saat dia ambil bagian dalam menyambut Dies Natalis Fakultas. Dia mahasiswi jurusan akuntansi semester lima.
Dara, tak butuh waktu yang lama untuk aku dapat mengetahui nama dan sedikit informasi tentangmu.
Pun, tak banyak waktuku yang terbuang untuk memikirkan dan membayangkan dirimu.
Pada awalnya kupikir Tuhan sedang berbaik hati padaku dan memudahkan anganku.

Hari itu sebenarnya aku masuk kuliah jam satu siang.

Hanya saja karena aku belum mengerjakan tugas, aku menuju kampus sedari pagi dan menyelesaikan tugas di perpustakaan fakultas.
Perpustakaan masih sepi pengunjung. Mahasiswa yang datang ke kampus pasti saja telah masuk kelas di jam pertama.

Waktu berlalu cepat, karena diriku yang terlarut dalam soal-soal berjawab esai. Jarum jam pun menunjuk pada pukul sebelas lebih empat puluh menit, tugasku selesai dan rasa lapar baru terasa. Kurapikan kertas-kertas lembar jawaban serta buku-buku referensi, siap bergegas menuju kantin.

Di saat itulah, saat aku beranjak berdiri dari kursi aku melihatnya untuk yang pertama kalinya. Tidak lama memang, hanya sebentar. Namun, wajah dan senyum yang dia sungging untuk ibu petugas perpustakaan, terekam sempurna oleh memori hatiku.

“Ah cantiknya dia, siapakah namanya?”, gumamku.

Dia kemudian berlalu, kuikuti dari jauh dibelakang. Dia menuju ke halaman depan, seperti beranjak pulang.
Sejenak aku merasa kecewa karena tak dapat mendekatinya, meski hanya untuk melihatnya lagi atau mungkin mengajaknya berkenalan. Kubalikkan badanku dan berjalan menuju kantin, bersama bayang-bayang wajah dan sebuah tanya tentangnya.

Di kantin aku bertemu dengan teman-teman satu kelas. Obrolan-obrolan ringan, sesekali dibumbui dengan saling mengolok yang memicu gelak tawa teman lainnya. Aku pun masih saja penasaran dengan mahasiswi tadi. Ada keinginan untuk menjadikannya topik obrolan saat itu, namun aku mengurungkannya karena pasti menjadi bahan olokan balik untukku.

Jam menunjukkan pukul da belas lebih lima puluh menit, aku dan teman-temanku pun beranjak dari meja lingkar kantin menuju ruang kuliah.

Sesi perkuliahan selesai, jam dinding kelas menunjuk pukul tiga sore. Tugas resume didapat sebagai bekal yang tak diinginkan. Hari itu hanya satu kelas saja. Masih banyak waktu yang kumiliki sore itu. Teman-teman kelas bergegas kembali menuju kantin. Aku pun tak lepas dari ajakan mereka. Namun aku tak mengiyakan. Aku berdalih ada tugas dari BEM yang belum kuselesaikan. Di satu sisi, karena akhir bulan dan penghematan uang saku perlu mendapat perhatian khusus. Sebelum menuju sekretariat, aku mampir sebentar di perpustakaan fakultas, mencari buku referensi untuk bekal resume tadi.

Di dalam sekretariat, sudah ramai akan orang. Aku pun hanya berdiri di depan pintu. Kak Bima, kakak senior yang juga ketua divisiku, menarik badanku agar bisa masuk ke dalam ruangan.

Sambil berlalu dia memberitahuku bahwa akan ada rapat pengurus harian BEM dengan pengurus harian Himpunan Jurusan.
Mendengar itu, aku pun langsung balik kanan dan mendekati teman-teman BEM lain yang bukan pengurus harian. Aku dan yang lainnya nongkrong di bangku-bangku taman depan sekretariat.

Fakultas tempatku menimba ilmu sedang punya hajat. Kurang dari waktu satu bulan lagi usia Fakultas menginjak pada angka lima puluh tahun. Tak pelak, BEM dan Himpunan Jurusan turut direpotkan oleh perayaan Dies Natalis Fakultas.

Dan, saat itulah aku kembali melihat mahasiswi di perpustakaan Fakultas pagi tadi. Jaket jeans warna biru terang dan paras cantik wajahnya masih kuingat dengan jelas.

Dia pun masuk, bersama beberapa orang temannya ke dalam ruangan sekretariat BEM.

”Oh, siapakah dia?, dari Jurusan apa dia?”,batinku.

Ahh, bunga warna-warni bermekaran kembali di hatiku. Api harapan yang tadinya padam, menyala kembali. Rasa lelah dan jenuh yang menghinggapi badan dan pikiran pun sirna seketika. Aku pun bersemangat menanti rapat antar pengurus harian itu selesai meskipun baru saja dimulai. Aku minta sebatang rokok dari teman, hatiku bahagia dan betapa indahnya sore itu.

Rapat antar pengurus harian selesai. Aku sudah bersiap, duduk di depan bangku taman yang dekat dengan pintu sekretariat BEM.
Satu per satu peserta rapat keluar, kucari-cari dia yang tlah lama kunanti sepanjang waktu jalannya rapat.

Pikirku, selepas keluar dari ruangan BEM dia pasti akan menuju sekretariat Himpunannya. Dan di saat itulah aku bergerak untuk melancarkan rencanaku.

Dia pun keluar, aku berdiri-bersiap untuk mendekati dan mencoba mengajaknya berkenalan.

Namun, apa yang selanjutnya terjadi diluar dari rencanaku sebelumnya. Dia melambaikan tangan pada teman-teman satu pengurus himpunannya, dan berjalan menuju tempat parkir.

Aku yang masih berdiri di tempat semula, mengamati dirinya dan sekelilingnya.

Bertanya-tanya, titik mana yang akan dituju olehnya?

Dia pun berhenti di sisi sepeda motor cowok sport dengan seorang pria yang menunggang di atasnya.
Seperti tak ada dialog obrolan antara keduanya. Sang pria menyerahkan sebuah helm warna putih untuknya.
Keduanya pun melesat cepat, keluar dari tempat parkir dan lepas dari pandanganku.

Langit sore itu seakan menjadi gelap gulita, seperti mau turun hujan yang amat deras, dan disertai petir yang menjalar-jalar di sekitar sekretariat. Bunga-bunga yang tadi bermekaran rusak tergilas sepatu-sepatu mahasiswa yang berjalan tanpa melihat apa yang dilewati. Dunia tak lagi indah bagiku. Keramaian yang ada hanya menyulut api amarah dalam benakku.

Kak Bima mendekatiku dan menegurku,

“Hei, kenapa kau melamun?” tegurnya sambil menepuk bahuku
”Ehh, tak apa Kak.”, jawabku terkaget
”tadi gimana rapatnya kak, lancar?”, aku bertanya mencoba bersikap seperti biasa.
”Alhamdulillah lancar”, jawabnya
”Syukurlah”, kataku kemudian

Kak Bima mengeluarkan rokok dari sakunya dan menawarkan sebatang untukku.
”Nih kau rokok, jangan melamun saja”, ujarnya.
”Ahh iya kak, terima kasih.” ucapku.

Beberapa saat kami merokok, aku pun membeanikan bertanya pada kak Bima soal siapa mahasiswi tadi. Pasti kak Bima tahu namanya, karena kak Bima terkenal playboy di kampus.
”Kak, apa ka kenal mahasiswi cantik yang memakai jaket jeans tadi?”, tanyaku.
”Oh, Dara. Kenapa, kau suka?”, jawabnya sambil bertanya kembali padaku.
“Namanya Dara”, batinku,
”Ahh, enggak, cuma cantik aja”, jawabku.datar.
”Dia itu Dara, mahasiswi jurusan akuntansi, semester lima sepertinya”, jelas kak Bima.
”Ohh ….”, seperti aku tak peduli.
”Dia itu udah ada yang punya, cowoknya anak kedokteran”, tambahnya.
”Ehm ….”, aku mengiyakan kak Bima, dan lagi-lagi seperti tak peduli.

Dan, selang waktu berlalu. Di saat lintingan rapi tembakau yang terbakar api ini kuletakkan pada kedua bibirku. Saat itu pula, pada akhirnya aku sadari sepenuhnya bahwa memang benar, Tuhan akan  selalu berbaik hati pada umatnya.

 

Sumber gambar: link