MENGENAL OMAH LAWA, MENGENAL SIE DHIAN HO

Kondang

Ketika melintas di Jalan Slamet Riyadi, tepatnya di sepanjang Purwosari aroma kotoran kelelewar tak lagi terendus. Rupanya ‘markas batman’ atau yang sering disebut masyarakat Solo, Omah Lawa, sedang direnovasi. Rumah kuno tersebut dibenahi mulai dari atap hingga beberapa perubahan fisik. Rencananya, bangunan tersebut bakal difungsikan lagi sebagai showroom produk Batik Keris dan pusat kuliner.

Dikabarkan, Omah Lawa dulunya adalah tempat untuk peristirahatan dikenal dengan nama Villa Liberty. Tak lama, bangunan seluas 1500 m2 tersebut dibeli dan dibangun sedemikian rupa oleh pengusaha Tionghoa terkenal yang bernama Sie Dhian Ho. Heri Priyatmoko (2011), pernah menyoroti pengusaha top ini berkaitan dengan Pabrik Es Saripetojo, meskipun menurut beberapa koleksi foto lawas, pendapat ini perlu dikaji ulang.

Menurutnya, Sie Dhian Ho yang menempati rumah mewah yang kini disebut Omah Lawa merupakan seseorang yang sangat mencintai bisnis. Beraneka ragam bisnis digelutinya, dari perkebunan sampai barang impor seperti brankas, mesin ketik dan sepeda. Wajar saja, pengusaha bermata sipit tersebut mampu membangun gedung nan megah di tengah kota sebagai tempat tinggal. Walaupun bangunan itu kini tak terurus dan menjadi sarang kelelawar.

Pengusaha Multi-usaha

Nama Sie Dhian Ho sebagai pengusaha sangat termasyur tidak hanya di lingkungan Vorstenlanden saja, melainkan hingga Batavia. Fakta yang tertulis dalam Bataviasch Nieuwsblad tertanggal 26 Djuni 1905, Sie Dhian Ho merupakan pengusaha asal Solo yang kaya-raya. Bersama koleganya Sie Tjing Hwat dan Tjia Kiem Nio mendirikan agen-agen perusahaan percetakaan yang dinamai N.V. Solosche Sneelpersdrukkerij. Dengan modal sebesar f. 120.000 (120.000 gulden), Sie Dhian Ho mencatatkan dirinya sebagai pengusaha asal Solo yang tidak bisa dianggap remeh.

Usaha yang dimilikinya juga melayani berbagai macam hal yang berbau cetak-mencetak. Seperti buku, koran, commercial printing, kertas, biro perdagangan. Di akhir iklannya yang tertulis di koran De Locomotief tanggal 27 Februari 1903, ia menyelipkan kata, Kleine winst groote omzet. Artinya bahwa meraup untung sedikit tak mengapa, asalkan penjualannya laku keras. Pemikiran seperti ini layak dimiliki oleh para pengusaha, demi kestabilan usaha. Dengan demikian membuktikan bahwa di Kota Solo awal abad ke-20 telah lahir pengusaha jempolan. Sekaligus menyatakan secara tidak langsung, pada masa itu Kota Solo merupakan wilayah kerajaan yang secara ekonomi sudah mumpuni.

Penjualan alat-alat percetakan Sie Dhian Ho juga tak bisa dipandang dengan sebelah mata. Market Area-nya bahkan sampai di Kota Surabaya. Terbukti iklan penjualannya dimuat dalam Soerabaijasch Handelsblad tertanggal 22 Desember 1906. Alat alat yang dijual Sie Dhian Ho beraneka ragam, dari yang harga murah seharga f. 7.5 hingga kualitas impor seharga f. 300.

Terkait cetak-mencetak, Sie Dhian Ho turut berkontribusi dalam masa pergerakan nasional. Selain berdagang pedagang buku dan keperluan alat tulis menulis hal yang terpenting adalah ia menerbitkan surat kabar Melayu dan Jawa. Surat kabar tersebut dinamai Taman Pewarta yang terbit di Surakarta (1902-1915) tiga kali dalam seminggu. Menurut Benny G. Setiono, dalam bukunya Tionghoa Dalam Pusaran Politik (2003), surat kabar Taman Pewarta turut mewarnai khazanah penerbitan media massa di Solo. Beberapa surat kabar yang eksis di kota Solo era kolonial, seperti Bromartani (1855), Djoeroemartani (1865), Browijoto (1903), Ik Po (1904-1909), Djawi Hisworo (1906-1919), Boedi Oetomo (1910), Darmo Kondo (1911-1933), Sarotomo (1912-1915), De Nieuwe Vorstenladen, Djawi Kondo dan beberapa surat kabar lainnya.

Fakta lain yang mengejutkan bahwa Sie Dhian Ho memiliki kedekatan dengan Samanhudi, walaupun akhirnya terlibat konflik. Tersiar kabar bahwa eksistensi Taman Pewarta yang diterbitkan oleh Sie Dhian Ho adalah berkat campur tangan secara finansial Samanhudi. Kala itu, dijelaskan bahwa hadirnya Sarekat Dagang Islam pada tahun 1905 turut mengokohkan keberadaan Taman Pewarta, begitupun sebaliknya. Telisik fakta ini dihadirkan dalam buku garapan Ahmat B. Adam berjudul The Vernacular Press and The Emergence of Modern Indonesian Consciousness : 1855-1913 (1995).

Pandangan lain tentang Taman Pewarta yang diterbitkan Sie Dhian Ho diungkapkan oleh James M. Hagen. Artikel ciamik yang ditulisnya, “Read All About It”: The Press and the Rise of National Consciousness in Early Twentieth-Century Dutch East Indies Society (1997), menjelaskan bahwa Taman Pewarta merupakan corong warga Tionghoa di Solo dalam hal pendidikan. Sebuah institusi pendidikan yang memanfaatkan eksistensi Taman Pewarta adalah Tiong Hwa Hwee Koan, mengabarkan pentingnya edukasi demi kesejahteraan masyarakat Tionghoa di tengah kuatnya segregasi sosial.

Dalam bidang perkembangan sastra, terutama sastra Jawa, Sie Dhian Ho ikut ambil peran. Dengan tinggal di Solo, ia memiliki tanggung jawab terhadap perkembangan literasi daerah. Pada tahun 1903, penerbitannya melahirkan sebuah karya dari Ng. Wirapustaka berjudul Serat Bausastra Jawa Kawi. Bahkan cerita-cerita kedaerahan ikut diproduksi, seperti Tjerita Njai Alimah satoe  Tjerita di Djawa Timoer (1904) yang ditulis oleh Oei Soei-tong. Selain mencari keuntungan dari penjualan buku tersebut, Sie Dhian Ho turut melestarikan kebudayaan Jawa lewat jalur melek literasi.

Roda selalu berputar, nasib memang tak selalu mujur. Sie Dhian Ho dikabarkan mengalami kebangkrutan. Walaupun tahun 1922, ia sudah berusaha untuk meregenerasikan usahanya ke anaknya yang kemudian perusahaan berganti nama Sie Dhian Ho & Sons, kesulitan tak dapat dihindarkan. Belum jelas apa penyebabnya, namun berita yang dimuat dalam kolom Faillissementen (kabar kebangkrutan) mengumumkan bahwa pada 14 Januari 1938, Sie Dhian Ho bangkrut. Berita tersebut bahkan tersiar hingga ke Batavia, buktinya Bataviasch Nieuwsblad mengabarkannya.

Sie Dhian Ho dan Omah Lawa adalah kesatuan utuh sejarah kota Solo yang tidak bisa dipisahkan. Apalagi jika mengutip Eugene Ruskin, yang berujar bahwa “Membongkar bangunan kuno, apalagi bernilai sejarah, bukanlah dosa kecil”. Perusakan benda bernilai sejarah dianggap sebagai perbuatan durhaka, dosa besar, khususnya dosa terhadap generasi penerus baik anak ataupun cucu. Kisah-kisah sejarah yang sarat akan nilai akan pupus dan hilang begitu saja. Pujangga kenamaan, Ronggowarsito, juga berpesan yen wes kliwat separo abad, jwa kongsi binabad. Artinya, kalau sudah melewati separuh abad atau 50 tahun, jangan sampai dihancurkan. Harus dijaga dan tentu dirawat. Dimanfaatkan sesuai kodratnya. Semoga Omah Lawa dimanfaatkan sesuai perkembangan jaman tanpa meninggalkan nilai historis yang melekat kuat. Semoga.