Mengenal Lebih Dekat Pemikiran Njoto

Rehal

Judul Buku                  : Njoto: Biografi Pemikiran 1951-1965

Nama Pengarang        : Fadrik Azis Firdausi

Nama Penerbi  t          : Marjin Kiri

Ketebalan Buku           : xii + 283 halaman

Tahun Terbit                : Februari 2017

ISBN                            : 9789791260664

 

Njoto dilahirkan di Jember, Jawa Timur dan berasal dari keluarga mapan pada zamannya. Ayahnya, Rustandar Sosrohartono dan ibunya, Masalmah mempunyai usaha busana dan jamu yang sukses. Usaha busana seperti batik tulis dari kedua orang tua Njoto ini berkembang sampai di wilayah Kauman, Solo. Bisnis yang moncer ini selain untuk memutar bisnis ekonomi keluarga juga turut menyokong aktivitas pergerakan. Perlu tahu bahwa ayah Njoto, Rustandar adalah seorang komunis, anggota PKI di Solo. Walaupun pindah tempat ke Jember, anggota PKI itu masih melekat pada diri Rustandar dan saat itu malah diberi kepercayaan untuk menjabat sekretaris agitasi dan propaganda (agiprop) di OsC PKI Bondowoso.

Rupanya, jiwa politik yang melekat di ayahanya menurun pada seorang  diri Njoto. Njoto yang sangat diperhatikan ayahnya dalam hal pendidikan, sangat gemar membaca buku dan belajar bahasa asing seperti Inggris, Jerman, Perancis, Rusia dan Belanda. Masa kecil Njoto sudah akrab dengan buku-buku Marx, Lenin, Stalin, dll. Semua itu dilakukan Njoto guna  cita-cita yang diidamkannya yaitu politikus dan jurnalis. Njoto ini seorang multitalent, dia juga tertarik dalam bidang seni. Dia pandai memetik gitar, suka mendengarkan musik klasik sampai mengarang beberapa lagu.

Beranjak remaja, Njoto kemudian merapat ke politik guna mematangkan diri dalam revolusi. KNIP, Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan PKI menjadi ladang bagi dirinya untuk menunjukkan kapasitas politiknya. Kemudian PKI-lah yang sangat andil dalam perkembangan karir poliik Njoto. Panggung Njoto menjadi kian meluas setelah dia mulai menulis di Bintang Merah yang saat itu pemimpin redaksinya M.H Lukman. Namun, cita-cita Njoto baru terealisasi saat dia masuk redaksi harian yang bersayap kiri, Suara Ibu Kota yang dipimpin oleh seorang Tionghoa, Siauw Giok Tjhan. Njoto benar-benaar mendalami dunia jurnalistik di redaksi tersebut dan Siauw Giok Tjhanlah yang berhasil menumbuhkan bakatnya. Saat pecah pemberontakan PKI di Madiun 1948, PKI mengalami kemunduran karena tokoh-tokoh seperti Musso, Amir tewas saat pemberontakan tersebut. Sedangkan Njoto sendiri berhasil meloloskan diri.

Setelah pemberontakan itu, beruntung pemerintah tak melarang partai yang beafiliasi komunis tersebut. Bersama angkatan muda seperti Aidit, Lukman, dan Sudisman, Njoto berusaha membangun kembali PKI. Kali ini, Njoto benar-benar naik ke panggung utama. Njoto menjabat wakil sekertaris jendral dua sedangkan sekertaris jendral dipegang oleh Aidit yang menggantikan Alimin. Njoto juga aktor utama yang mengelola redaksi Harian Rakjat yang sebelumnya adalah Suara Ibu Kota yang ia kelola bersama Siuw Giok Tjhan. Selain itu, Njoto bersama Aidit juga mendirikan organisasi di bidang kebudayaan, Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Penulis, Fadrik Azis Firdausi mengupas pemikiran Njoto ini lewat tulisan-tulisan yang dimuat di Harian Rakjat dan aktifitasnya di Lekra. Tak seperti tokoh-tokoh yang lain yang geraknya terbatas dalam politik, Njoto lebih leluasa lewat publikasi dan kebudayaan. Lewat publikasi ini, Njoto menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah dengan bekal yang ia punya dalam melakukan perjalanan politik. Tulisan-tulisan Njoto begitu tajam, kritis, sindiran terhadap pemerintah yang lalai dalam menjalankan roda pemerintahan. Pada saat memperingati hari buruh 1952, Njoto menulis sindiran kepada pemerintah, “Di Indonesia rakyat muak dengan janji-janji pembesar, karena diantara kata-kata dan perbuatannya menganga dalam (halaman 52).” Dalam perjalanan politik, ia selalu mendengar aspirasi dari rakyat kecil terutama buruh dan tani yang notabene merupakan landasan pokok PKI. Dia menulis demi kepentingan meraka yang sering kali menemukan ketidakadilan terutama kepada kaum feodal dan tuan tanah. Hal ini jelas mengusik kegelisahan yang dialami Njoto dan dibals dengan kritis lewat tulisan Harian Rakjat yang laris pada saat itu.

Njoto adalah orang yang anti-imperialisme dan anti-feodalisme. Ia mewanti-wanti bahwa kebudayaan asing bisa menjadi bentuk invasi bagi Indonesia. Maka dari itu, Njoto dengan tegas bahwa bahaya Imperialisme nyata dan harus bisa dicegah. Njoto menjelaskan bahwa kesadaran nasional itu perlu untuk tidak mudah kembali dijajah dalam bentuk apapun terutama tentang kebudayaan. Lewat Lekra inilah Njoto berkeinginan untuk menciptakan kebudayaan, seniman yang revolusioner. Perpaduan antara Harian Rakjat dan Lekra begitu romantis. Njoto melakukannya dengan memikat. Setiap seminggu sekali, Harian Rakjat menerbitkan edisi khusus untuk Kebudayaan. Kebanyakan anggota Lekra-lah yang mengisi rubrik tersebut. Njoto kembali menegaskan bahwa Seniman itu sesunggunya maskhluk sosial, maka dari itu mempunyai tugas sosial. Ya, bahkan tugas-tugas politik terhadap tanah airnya. Njoto menginginkan itu. Peristiwa 30 september 1965 menjadi pemusnahan cita-cita Njoto. Ladang pembantaian orang-orang PKI dilakukan karena dianggap terlibat pembunuhan jendral Angkatan Darat. Tak terkecuali Njoto yang tak bisa menghindar dari peristiwa naas tersebut. Buku ini penting bagi yang ingin mengkaji atau mengetahui Njoto tentang pemikirannya. Buku yang berawal dari skripsi memberikan data yang komprehensif yang disertai pula dengan lampiran tulisan-tulisan Njoto di Harian Rakjat.