Mengenal KNIL, Tentara Profesional Pemerintah Kolonial

Politik

Sejak ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal baru di Hindia Belanda pada Januari 1830, Johannes van den Bosch punya tugas berat. Ia harus mampu memulihkan kondisi negara kolonial terutama  Jawa yang porak-poranda akibat Perang Diponegoro. Perang yang berlangsung tahun 1825 hingga 1830 tersebut memberikan banyak kerugian bagi Hindia Belanda baik secara ekonomi maupun politik.

Untuk mengisi kembali kas negara kolonial yang kosong akibat perang, van den Bosch mencetuskan sistem cultuurstelsel atau yang lebih dikenal dengan tanam paksa. Sementara untuk mengantisipasi perlawanan dari penduduk bumiputra seperti yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro ia merancang pembentukan sebuah pasukan Hindia Belanda. Sebelumnya, Hinda Belanda belum memiliki tentara reguler yang khusus disiapkan menghadapi perlawanan orang bumiputra.

Menurut Petrik Matanasi dalam buku Sejarah Tentara, pasukan yang dirancang oleh van den Bosch tersebut secara resmi dibentuk pada 4 Desember 1830. Pasukan itu pada mulanya diberi nama Oost Indische Leger (Tentara Hindia Timur). Selanjutnya pada tahun 1836, Raja Willem I memberi status Koninklijk Leger (Tentara Kerajaan) kepada pasukan tersebut. Jadilah pasukan tersebut bernama Koninklijk Nederlandsche Indische Leger atau lebih sering disebut KNIL.

Komposisi tentara KNIL berasal dari dua kelompok yakni orang bumiputra dan orang Eropa. Orang Bumiputra yang direkrut oleh KNIL kebanyakan berasal dari Ambon, Minahasa, Manado dan terutama Jawa. Sementara itu secara umum orang-orang Eropa yang menjadi tentara KNIL berasal dari Belanda dan negara-negara lain seperti Perancis, Belgia, Jerman, dan Swiss. Komposisi prajurit bumiputra di KNIL kira-kira mencapai 75% dari keseluruhan prajurit. Pada akhir kekuasaan pemerintah kolonial, jumlah tentara KNIL mencapai 40.000 personel.

Meskipun sama-sama berstatus sebagai tentara KNIL, perlakuan terhadap orang bumiputra dan orang Eropa sangatlah berbeda. Selain mendapat bayaran yang jauh lebih rendah, orang-orang bumiputra juga hanya mendapat posisi yang rendah dan selalu berada dalam garis depan pertempuran. Orang-orang Eropa, meskipun sikap dan disiplin mereka buruk, tetap saja lebih mudah mendapatkan pangkat tinggi di KNIL. Jabatan perwira juga hanya dapat diisi oleh orang-orang Eropa saja.

Pada perkembangannya, pemerintah kolonial mengizinkan seorang bumiputra untuk menjadi perwira KNIL. Keputusan ini didasari pada minimnya orang Eropa yang bersedia menjadi perwira KNIL. Adapun pendidikan minimal untuk menjadi perwira KNIL bagi seorang bumiputra adalah MULO, AMS, dan HBS. Pemerintah kolonial lalu membuka Inlandsche Officieren School di Jatinegara untuk calon perwira bumiputra. Salah satu tokoh penting pendiri Tentara Nasional, Oerip Soemohardjo merupakan jebolan sekolah tersebut. Selain itu, para calon perwira bumiputra juga dapat menempuh pendidikan di Koninklijk Militaire Academie (KMA) Breda, Belanda.

Menurut Petrik, KNIL dibentuk bukan untuk menghadapi musuh dari luar. KNIL lebih berfungsi untuk menghadapi perlawanan lokal dari berbagai daerah di Hindia Belanda. Apabila ada perlawanan dari orang-orang Bumiputra terhadap pemerintah kolonial, maka KNIL bertugas untuk meredam perlawanan tersebut. KNIL pada mulanya dikonsentrasikan di Jawa dan hanya bertugas ke luar Jawa apabila terdapat pemberontakan.

Salah satu operasi militer yang dilakukan oleh KNIL adalah Perang Aceh yang berlangsung dari tahun 1873-1904. Selain itu, KNIL juga ditugaskan untuk meredam Pemberontakan PKI yang gagal di tahun 1926-1927. Dengan kekuatan militer yang lebih baik, KNIL mampu meredam perlawanan rakyat Aceh maupun orang-orang Komunis tersebut.

Oleh karena tugasnya yang hanya disiapkan untuk menghadapi pemberontakan orang-orang bumiputra, KNIL tentu saja mengalami kesulitan apabila menghadapi serbuan dari militer modern profesional luar Hindia Belanda. Saat tentara kerajaan Jepang menyerbu Hindia Belanda, KNIL tidak berdaya menghadapi serbuan itu.

Menurut Onghokham dalam buku Runtuhnya Hindia Belanda, KNIL dan tentara kerajaan Jepang terlibat lebih dari 100 pertempuran selama masa invasi Jepang ke Hindia Belanda pada akhir 1941 hingga awal 1942. Sial bagi KNIL, mereka kalah hampir di seluruh pertempuran tersebut terutama pada pertempuran laut dan udara. Walhasil, Hindia Belanda dengan mudah jatuh ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942.

Selama masa pendudukan Jepang, KNIL tidak eksis. Saat Jepang angkat kaki dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, secara perlahan KNIL menyusun kembali kekuatannya dibawah pimpinan Jenderal Simon Spoor.

Sebagaimana KNIL pada masa pemerintah kolonial yang berusaha meredam perlawanan rakyat Indonesia, KNIL pada masa revolusi juga melakukan tindakan serupa. KNIL dibawah pimpinan Jenderal Spoor bertanggung jawab atas dua operasi militer besar di Indonesia selama masa revolusi yakni “Operasi Produk” yang lebih dikenal dengan nama Agresi Militer I dan serta “Operasi Gagak” atau Agresi Militer II.

Meskipun Agresi Militer tersebut memberikan banyak kerugian bagi Indonesia, namun usaha pemerintah kolonial dan KNIL untuk berkuasa kembali di Indonesia dapat dihentikan melalui meja perundingan. Melalui Konferensi Meja Bundar (KMB), Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949.

Sebagai konsekuensi dari pengakuan kedaulatan tersebut, Belanda harus menarik seluruh pasukannya dari Indonesia. Beberapa bulan setelahnya, tepatnya tanggal 26 Juli 1950 KNIL resmi dibubarkan. Setelah sempat mati suri pada masa pendudukan Jepang, akhirnya KNIL benar-benar terkubur selamanya pada tanggal tersebut. Sebagian tentara bumiputra KNIL lalu dilebur untuk digabung dengan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). Dengan demikian, berakhirlah riwayat tentara kolonial yang telah berada di Indonesia selama 120 tahun.

Sumber Gambar: Link