Mengajarkan Sejarah Lokal Untuk Merawat Keberagaman Bangsa

Sosial Budaya

Keberagaman yang ada di Indonesia dapat dirawat apabila generasi muda Indonesia mau memahami sejarah lokal disamping sejarah nasional. Sejarah lokal dapat menuntun peserta didik untuk menyikapi perbedaan yang ada secara lebih bijak.

Indonesia adalah negara multikultural dangan keanekaragaman suku bangsa, agama, ras, serta budaya. Kenyataan historis ini seharusnya dipahami oleh seluruh warga negara Indonesia tanpa terkecuali. Sayangnya, beberapa pihak justru mengabaikan kenyataan historis tersebut.

Salah satu bukti yang cukup mencolok akhir-akhir ini adalah berkembangnya politik identitas berbasis etnisitas, ideologi, maupun agama. Kehadiran politik identitas ini secara tidak langsung mengancam keberadaan Indonesia sebagai sebuah negara multikultural. Konflik yang didasari pada politik identitas inilah yang seharusnya dicegah.

Pelajaran sejarah dapat menjadi solusi untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Fungsi pelajaran sejarah menurut Soedjatmoko dalam buku Historiografi Indonesia adalah “alat penting untuk membentuk warga negara yang baik maupun untuk mengembangkan rasa cinta dan kesetiaan terhadap negara”.

Sejarah memiliki peran penting untuk menumbuhkan kesadaran sejarah peserta didik untuk memahami kenyataan historis bangsanya. Oleh karena itu, materi dalam pelajaran sejarah banyak diisi dengan materi sejarah nasional Indonesia. Penekanan terhadap materi sejarah nasional Indonesia tersebut justru berdampak pada kurangnya kesempatan guru untuk mengajarkan materi sejarah lokal pada peserta didik.

Apa itu sejarah lokal? Dalam buku Sejarah Lokal di Indonesia, Taufik Abdullah mendefinisikan sejarah lokal sebagai “sejarah dari suatu tempat”. Batasan dari tempat atau locality tersebut bergantung pada penulis sejarah lokal itu sendiri. Batasan tersebut dapat berupa sejarah suatu daerah, sejarah suatu etnis, dan sebagainya. Sementara itu masih menurut Taufik Abdullah, batasan waktu dalam penulisan sejarah lokal bersifat elastis dan dapat mencakup dimensi waktu yang lama ataupun singkat.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berupaya untuk membahas lebih lanjut penulisan sejarah lokal di Indonesia. Pembahasan tersebut dilakukan melalui penyelenggaraan seminar sejarah lokal. Salah satu seminar sejarah lokal dilaksanakan pada tanggal 17-20 September 1984 di Medan.

Seminar tersebut menghasilkan lima tema pokok sebagai acuan dalam penulisan sejarah lokal sebagaimana yang dikutip dari buku Metodologi Sejarah karya Kuntowijoyo, yaitu: (1) Dinamika masyarakat pedesaan, (2) Pendidikan sebagai faktor dinamisasi dan interaksi sosial, (3) Interaksi antar suku bangsa dalam masyarakat majemuk, (4) Revolusi nasional di tingkat lokal, dan (5) Biografi tokoh lokal. Tema-tema tersebut tidak hanya dapat dijadikan sebagai acuan dalam penulisan sejarah lokal, tetapi juga harus dapat diajarkan kepada peserta didik sejak di bangku sekolah.

Sejarah lokal memiliki arti penting dalam menumbuhkan kesadaran sejarah generasi muda Indonesia. Sejarah lokal menurut Supardi dalam artikelnya yang berjudul Pendidikan Sejarah Lokal dalam Konteks Multikulturalisme diharapkan mampu “memberikan sumbangan berupa kesadaran sebagai bangsa yang multi budaya, ditunjukkan dengan pengakuan akan akan kelemahan masing-masing dengan membangun kesederajatan di antara kebihnekaan”. Inilah arti penting sejarah lokal yang harus ditanamkan kepada peserta didik di bangku sekolah.

Sayangnya, ruang bagu guru sejarah untuk mengajarkan sejarah lokal masih sangat terbatas. Sejak era Orde Baru, narasi yang ada dalam materi pelajaran sejarah disusun secara terpusat dan cenderung mematikan keberagaman kajian sejarah lokal. Apabila ada materi sejarah lokal yang disinggung dalam pelajaran sejarah bisa dipastikan materi yang disinggung tersebut memiliki relevansi dengan sejarah nasional.

Materi sejarah lokal yang diangkat harus memiliki keterkaitan dengan narasi besar sejarah nasional. Sebagai contoh, peristiwa Perang Diponegoro dilihat hanya semata-mata dari kacamata nasionalis sebagai upaya perlawanan terhadap penajajah Belanda namun justru meminggirkan aspek lokal seperti merosotnya kewibawaan keraton Yogyakarta di mata rakyat yang melatarbelakangi peristiwa tersebut.

Keberagaman yang ada di Indonesia dapat dirawat apabila generasi muda Indonesia mau memahami sejarah lokal disamping sejarah nasional. Sejarah lokal dapat menuntun peserta didik untuk menyikapi perbedaan yang ada secara lebih bijak. Perbedaan tersebut menurut Supardi, “hendaknya tidak perlu ditonjolkan tetapi juga jangan ditutup-tutupi, dengan lebih mengedepankan diferensiasi yang sifatnya menuju akomodasi”. Dengan demikian, mempelajari sejarah lokal berarti juga menjaga kenyataan historis bangsa Indonesia sebagai sebuah bangsa yang majemuk.

Bagaimana peluang mengajarkan sejarah lokal di Kurikulum 2013? Kurikulum 2013 memiliki semangat yang berbeda bila dibandingkan dengan kurikulum-kurikulum sebelumya. Kurikulum 2013 lebih menekankan pada porsi pendidikan karakter bagi peserta didik. Semangat untuk menumbuhkembangkan karakter peserta didik ini juga ditekankan pada mata pelajaran sejarah. Kesempatan inilah yang seharusnya dapat dimanfaatkan guru untuk menggali lebih jauh materi sejarah lokal agar dapat disampaikan kepada peserta didik.

Meskipun terdapat peluang untuk memberikan porsi lebih bagi materi sejarah lokal dalam mata pelajaran sejarah di Kurikulum 2013, hal tersebut tidak terlepas dari beberapa kendala. Pertama, pengajaran materi sejarah lokal sangat bergantung pada kreativitas dan penguasaan materi guru. Materi sejarah lokal tidak terdapat dalam kompetensi dasar mata pelajaran sejarah wajib ataupun peminatan sehingga menuntut guru mengembangkan sendiri kompetensi dasar yang ada. Bila guru sejarah tidak kreatif maka sulit untuk mengembangkan kompetensi dasar yang ada agar dapat menyisipkan materi sejarah lokal.

Kedua materi sejarah lokal hanya memungkinkan disisipkan dalam mata pelajaran sejarah peminatan karena ketersediaan jam mengajar yang cukup. Kondisi sebaliknya terjadi pada mata pelajaran sejarah wajib yang jam mengajarnya sangat terbatas sehingga sulit menyisipkan materi sejarah lokal dalam materi pembelajarannya. Hal inilah yang menyulitkan guru sejarah di SMK untuk menyisipkan materi sejarah lokal.

Meskipun terdapat sejumlah persoalan dalam mengajarkan sejarah lokal di sekolah, guru sejarah harus terus berupaya untuk melampaui persoalan tersebut. Hanya dengan cara tersebut maka cita-cita mulia untuk merawat keberagaman yang ada di Indonesia mungkin dilakukan.

 

Sumber Gambar