Menerbitkan Keith, Membaca (Kembali) LEKRA

Politik Wawancara

Akhir September 2020 lalu, buku Keith Foulcher-seorang Indonesianis asal Australia- bertajuk Social Commitment in Literature and the Arts: The Indonesian “Institute of People’s Culture” 1950-1965 hadir dalam bahasa Indonesia. Buku ini diterbitkan oleh Pustaka PIAS, sebuah penerbitan independen di bawah payung Pengembangan Informasi Alternatif dan Seni (PIAS) yang terletak di kawasan Ciburial, Bandung.

Diterjemahkan dengan judul Komitmen Sosial dalam Sastra dan Seni: Sejarah Lekra 1950-1965 oleh Rima Febriani, hadirnya buku Keith menambah khazanah penelitian ihwal Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) di Indonesia. Lekra adalah salah satu lembaga yang turut diberangus karena dituduh terlibat dalam peristiwa 1 Oktober 1965. Penerjemahan ini penting dilakukan, selain mengingat jumlah penelitian soal Lekra di Indonesia yang belum banyak, Keith-seperti dinukil dalam pengantar buku ini- berkata, “…membuat karya saya dari masa lampau menjadi bagian dari sejumlah materi yang tersedia bagi generasi akademisi muda Lekra Indonesia dan sejarahnya.”

Sudah terlampau lama sejak edisi pertamanya terbit dalam bahasa Inggris pada 1986 silam, yang kata Keith lagi “…karya dari masa Orde Baru ini sekarang hadir di Indonesia, sebagai sebuah dokumen sejarah dan juga saya harap, sebagai sumber inspirasi bagi penulisan baru tentang bangsa Indonesia rakyatnya, dan tradisi sastra modernnya yang kaya dan beragam.”

Simak percakapan redaktur kami, Rimbawana, dengan Kelana Wisnu Sapta Nugraha, editor in chief Pustaka PIAS, tentang proses di dalam dapur penerbitan hingga alasan dibalik pemilihan buku Keith untuk diterbitkan.

Kenapa memilih karya Keith Foulcher untuk terbitan perdana PIAS?

Dari sekian naskah yang ada di meja redaksi, buku Keith Foulcher yang paling tepat untuk dirilis pertama karena bertepatan dengan ulang tahun Lekra [pada 17 Agustus lalu, genap 70 tahun usia Lekra ed]. Kebetulan PIAS didirikan pada Agustus awal.

Bagaimana PIAS menemukan naskah itu? Apakah memang direncanakan sejak awal?

Enggak, sih. Naskah itu selesai dikerjakan pada Mei 2018. Karena satu dan lain hal, penerbitannya tertunda. [Buku Komitmen Sosial dalam Sastra dan Seni] itu memang pilihanku secara personal, karena tim redaksi PIAS juga baru terbentuk kemarin.

Kenapa memilih buku itu? Apa harapan PIAS setelah terbitnya buku itu?

Sederhana, sih. Sudah lama sekali buku itu belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sementara versi bahasa Inggrisnya juga susah dicari, tidak banyak orang yang punya. Buku ini kami terbitkan agar orang-orang yang ingin menulis soal Lekra bisa menjadikannya bahan rujukan. Aku berharap setelah ini, tercetus inisiatif baru dari sesama kawan muda untuk meneliti Lekra. Kami berharap betul dari penelusuran itu muncul temuan-temuan baru. Banyak yang belum ditulis soal Lekra.

Bagaimana awal perkenalanmu dengan Lekra? Setahuku, tidak banyak mahasiswa yang kepincut soal topik ini?

Sejarah sastra global. Aku sedang mencoba melihat keterkaitan hubungan sastra Indonesia dengan prakondisi sejarahnya. Misalnya, masa kolonial sampai gerakan antiimperialisme global. Lekra adalah subjek yang tidak mungkin tidak disebut saat menelusuri ini. Ya, karena mereka [Lekra] memang peka terhadap sejarah dan politik…. Soal Lekra, aku mulai mendengarnya ketika di bangku SMA. Saat itu aku penasaran dengan Pramoedya Ananta Toer yang karyanya tengah kubaca. Di bangku kuliah, aku semakin tahu Lekra ternyata bukan sekadar lembaga kebudayaan, praktik yang mereka lakukan lebih dari itu, mencoba membayangkan dan merumuskan gagasan progresif melalui budaya yang melintasi batas-batas identitas atau bangsa. Kebetulan pula, saat SMA aku bersama tim paduan suara pernah menyanyikan lagu Lekra juga. Tapi, aku baru sadar ketika kuliah, karena lagu itu dulu anonim. Aku mencoba menelusuri dan menuliskannya, dari situlah aku mantap untuk terus meneliti Lekra.

Menurutmu, mengapa penelitian ihwal Lekra tidak berjalan lancar di Indonesia? Apa pula dampaknya pada pengetahuan masyarakat Indonesia?

Memang dikondisikan. Pembicaraan soal Lekra sengaja dibatasi di dunia akademik karena dicap sekadar sebagai organisasi kebudayaan yang jadi corong propaganda PKI. Dari situ orang-orang sudah keki, apalagi kalau pun mau berusaha menjadikannya bahan penelitian, khususnya untuk S1, mungkin akan kepentok alasan “karya Lekra tidak penting dan tidak memiliki nilai estetika.” Dampaknya fatal betul. Kajian sastra Indonesia pincang dalam melihat konteks yang jauh soal kelahiran sebuah karya. Singkatnya, pengetahuan soal sastra menjadi asosial dan ahistoris.

Dan tepat pada persoalan itu PIAS berupaya mendobraknya dengan, salah satunya, menerbitkan buku ini?

Betul, sudah jelas sekali itu. Hahaha….

Bagaimana penjualan buku ini? Data apa yang kemudian bisa kamu tafsir? Misalnya, data penjualan “setengah bulan lebih cepat dari target”, selain menunjukkan ada pemasukan lebih cepat, apa lagi yang bisa ditunjukkan data itu?

Bagus sekali. Lebih cepat setengah bulan dari target yang kami tetapkan. Yang menarik demografi pembeli tertinggi dari Jakarta dan Bandung. Sejauh pengamatanku, komunitas budaya perkotaan akhir-akhir ini sangat politis. Sepertinya, para pembeli tertarik untuk melihat ke belakang [tentang] kemungkinan keterlibatan seni dan sikap politik.

Soal strategi kemasan, mengapa kaver lebih menyerupai artwork ketimbang sampul buku? Apa yang ingin kau tuju?

Itu keputusan desainer grafis kami, Sidney Islam. Ia berusaha keras untuk memberi kekhasan kemasan dari terbitan Pustaka PIAS.

Hingga kini, bagaimana respon pembaca atas terbitnya buku ini melalui resensi? Atau malah belum ada resensi?

Beberapa sudah memampang di akun pribadi, tapi soal ulasan utuh sejauh ini aku belum mengamatinya.

Terakhir, bisa sebutkan tiga buku yang paling memengaruhimu hingga saat ini?

Kekerasan Budaya Pasca ’65-nya Wijaya Herlambang; Konferensi Asia—Afrika-nya Wildan Sena Utama; sama Heirs to World Culture yang dieditori Jennifer Lindsay dan Maya HT Liem.