Melankoli, Keruntuhan, Kediktatoran

Rehal

Muhammad Iqbal

Sejarawan, IAIN Palangkaraya
Editor, Penerbit Indie Marjin Kiri
E-mail: muhammad.iqbalgtb@gmail.com


Selama lebih dari tiga dekade, alat-perekam dan buku catatan selalu setia di tangan Svetlana Alexievich. Peraih Hadiah Nobel Sastra 2015 ini telah mengobrak-abrik puing-puing sasmita Soviet, menangkap suara-suara dari orang-orang yang hidup, mereka yang menderita atau makmur di Uni Soviet, dan dalam halai-balai yang seturut di era perpecahan.

Alexievich lahir di Ukraina pada 1948 dari seorang ibu Ukraina dan seorang ayah Belarusia. Dia dididik di Minsk dan bekerja sebagai wartawan di Provinsi Belarus. Antara 2000 dan 2011, ia tinggal di pengasingan, terutama di Eropa Barat, namun dilanjutkan dengan perjalanannya untuk menangkap suara-suara dari orang-orang yang dilupakan oleh publik. Sebagai seorang anak zaman Uni Soviet saat itu–begitu ia menahbiskan dirinya–Alexievich menulis dalam bahasa Rusia, meskipun ia berdarah Ukraina-Belarusia.

Dari sudut pandangnya, seperti banyak orang lain di dalam dan di luar wilayah bekas Uni Soviet, kebangkitan Nasionalisme etnis di masa Stalin, telah menyebabkan kebrutalan barbarisme yang besar.

Buku-bukunya (dengan menggunakan metode sejarah lisan), adalah babad yang melukiskan pelbagai konflik internal mengerikan yang terjadi, khususnya di Kaukasus. Mereka mengisahkan ihwal sisi gelap Nasionalisme Rusia kontemporer, aliansi beracun antara gereja Ortodoks dan rezim Vladimir Putin, kebangkitan anti-Semitisme, penganiayaan terhadap minoritas, orang-orang yang tua dan kakek-nenek menganggap diri mereka sebagai warga negara penuh dari multi negara etnis. Dan, Alexievich juga mencatat tentang kejahatan dan kebiadaban dari tahun-tahun terburuk dari pemerintahan Stalin.

Karya-karya Alexievich, terdiri dari transkrip–sebuah karya seni literasi yang berkawin-mawin–ribuan wawancara yang ia telah dilakukan selama 30 tahun terakhir, dan masih banyak lagi. Suara sang penulis sendiri jarang bergema, namun secara paradoks, buku-bukunya telah meninju relung kemanusiaan sidang pembaca. Alexievich telah menulis tentang bencana penjajahan Uni Soviet ke Afghanistan, Zinky Boys: Soviet Voices from the Afganistan War.

Ia juga menulis laporan perihal penghancuran yang terjadi akibat bencana nuklir di Chernobyl, yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Voices from Chernobyl: the Oral History of a Nuclear Disaster (atau dikenal sebagai Chernobyl Prayer), dan sebuah buku ihwal pengalaman perempuan Soviet di masa perang.

Secondhand Time: The Last of the Soviets an Oral History (2016) adalah laporan jurnalistik yang kokoh. Awalnya, buku ini diterbitkan dalam bahasa Rusia pada 2013. Alexievich melakukan survei atas kehidupan di Rusia dan bekas Republik Uni Soviet dari teror Stalinis pada 1930-an, di hari-hari perestroika yang memabukkan, munculnya oligarki dan awal supremasi Putin. Ratusan suara dan kenangan itu dengan hati-hati ditempatkan oleh Alexievich dalam struktur buku ini, secara silih berganti, inspiratif, membuat bulu rona bergidik, dan sangat memilukan. Selain menjadi contoh yang indah dari kreativitas seorang sejarawan lisan, Secondhand Time merupakan karya sastra nan estetis dan spektakuler. Buku ini menjadi panorama memori yang luas, namun tetap terstruktur, adil dan proporsional. Secondhand Time laiknya War and Peace karya Leo Tolstoy bagi zaman kita.

Secondhand Time terdiri atas dua bagian. Bagian pertama, berisi wawancara-wawancara yang dilakukan Alexievich dan potongan percakapan yang ia dengar di antara tahun 1991 dan 2001. penawaran Bagian kedua, (kurun waktu 2002-2012), mendedahkan daftar kronologis yang berguna (dicetak pada awal terjemahan ini) tentang pelbagai peristiwa, dari kematian Stalin pada 1953, hingga aksi protes Maidan di Kiev pada 2014 (yang terjadi pasca buku ini pertama kali diterbitkan), mengungkapkan pentingnya pembagian ganda dari buku ini.

Pada 1991, Alexievich melihat proses pemilihan umum yang mengantarkan Boris Yeltsin sebagai presiden Federasi Rusia yang baru dan kudeta militer oleh para serdadu berpangkat tinggi. Pada 2002, di mana bagian kedua dimulai, ia menuturkan perihal tahun ketiga masa jabatan pertama Putin sebagai presiden, perang di Chechnya berada dalam ayunan penuh. Tahun 2012, Alexievich melihat kembalinya Putin ke kursi kepresidenan dan gelombang penolakan atasnya–yang ternyata berumur pendek–protes massa di Moskow, St Petersburg dan di tempat lainnya di Rusia.

Sebagian besar orang diwawancarai oleh Alexievich, merasa bingung dan canggung dengan Rusia baru yang muncul pada 1990-an–sebuah dunia kebebasan ambigu, di mana kepastian lama digantikan, dari satu hari ke hari berikutnya nampak, ibarat “anjing memakan anjing” dalam praktik pelanggaran hukum, eksploitasi dan korupsi.

Margarita Pogrebitskaya, dokter berusia 57 tahun, misalnya, memandang Moskow baru dengan mata masygul. Ia melihat kota itu begitu “aneh dan asing”, dengan angin bertiup “bungkusan plastik yang kotor dan potongan-potongan koran yang menyusuri trotoar … abu-abu dari orang menjajakan pakaian dan seprai, sepatu dan mainan, rokok yang diapit oleh jemari longgar”. Sementara itu, oligarki yang mengambil alih kekayaan besar Rusia, cadangan minyak, gas dan mineral, untuk mengumpulkan miliaran dan membeli perlengkapan mandi Italia berlapis emas, penthouse di Manhattan dan villa di Siprus.

Satu atau dua lawan bicara Alexievich, seperti manajer iklan (35), diidentifikasi di sini sebagai Alisa Z, turun ke dunia ini dengan tekad baja. “Aku bukan pemangsa, aku lenyap dalam diriku sendiri.” Tetapi, sebagian besar dari mereka merasa hilang dan dikhianati.

Bagi generasi yang hidup melalui Perang Dingin (Cold War), akan ingat bagaimana kehidupan di Uni Soviet yang jauh dari demokratis: massa diperbudak hidup dalam kemiskinan, terus dimata-matai oleh polisi rahasia, selalu dalam bahaya yang mengecam, bahkan oleh anak-anak atau orang tua mereka, dicuci otak oleh kebohongan dan slogan yang berongga tiga kata.

Alexievich mengingatkan kita akan gulag, teror Stalin, nasib seniman dan intelektual, serta kisah pembelotan yang menyimpang sekian milimeter dari garis partai resmi. Semua ini terdapat lebih dari sebutir kebenaran saja, namun mengabaikan sesuatu yang hidup dengan jelas dalam ingatan orang-orang yang diwawancarainya.

Salah satu tema bergulir melalui Secondhand Time. Meskipun terjadi praktik kebiadaban dalam rezim Soviet, walaupun ada kekurangan dan tindakan perampasan kepada sebagian besar penduduk yang bertahan, meskipun Cheka, Narodnyy Komissariat Vnutrennikh Del (NKVD) dan Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB) itu adalah tahun-tahun kebanggaan, iman dan bahkan harapan. Waktu dan waktu lagi yang kita jumpai dalam sentimentil yang senada: selama era Komunis, orang-orang ini bisa menahan dengan kepala mereka yang tegak berdiri, karena berbagai prestasi yang telah dicapai: kemenangan atas Jerman dalam perang patriotik besar; Yuri Gagarin, manusia pertama di ruang angkasa; prestasi sains Soviet; dan industri militer yang megah.

Sikap ini dinyatakan paling jelas oleh Vasily Petrovich, (87), anggota Partai Komunis sejak 1922. Dengan diselingi sesekali oleh cucunya yang menyela penuturan nostalgik pria sepuh itu dengan lelucon anti-komunis, anggota partai patriotik ingat: “Masa depan … itu seharusnya menjadi cantik … itu akan menjadi indah kemudian … saya percaya bahwa … Utopia … itu utopia …” Lantas beralih ke Alexievich, dia bertanya, “Dan bagaimana dengan anda miliki sekarang? utopia anda sendiri: pasar (surga) neoliberal..”

Mereka ingat penghinaan mereka untuk uang dan harta benda. Mereka sadar, tentu saja, atas praktik kejahatan dunia itu. Mereka ingat penganiayaan mengerikan yang dilakukan oleh kedua belah pihak selama Perang Dingin. Namun demikian, penilaian mereka kontras atas kekacauan dan eksploitasi di Rusia kontemporer, membawa mata mereka rabun dengan reformasi Gorbachev, dengan aroma lilac di sebuah taman “eden” Moskow nan damai.

Arkian, ada banyak lagi kisah-kisah sejarah menarik di buku Secondhand Time tinimbang yang aku tuliskan dalam esai pendek ini. Di atas semua, bagaimanapun, keberhasilan karya Alexievich ini patut kita apresiasi. Dalam proyek “sejarah ihwal emosi-emosi manusia”ini, ia meneroka dan tak terlupakan, dalam sebuah buku setebal 470 halaman yang mengaduk-aduk sanubari pembacanya dalam drama yang liris, menyayat hati dan berderai air mata.

 

Sumber Gambar: Link