Kyai Anwar: Ulama Nusantara Pengarang Kitab Fikih “Kehidupan Laut”

Sosial Budaya

Mengenai hukum memakan hewan-hewan laut di kalangan ulama bersifat khilafiyah (beda pendapat). Ada satu kitab yang menarik ditulis oleh ulama Indonesia bernama Kyai Muhammad Anwar al-Bataghi (Batang, Jawa Tengah). Kitab tersebut berjudul ‘Aisy al-Bahri atau “Kehidupan Hewan-hewan laut” yang membahas hukum mengonsumsi hewan-hewan yang ada laut.

Kitab tersebut dicetak pada tahun 1339 Hijriyah atau 1920 Masehi, yang berarti kitab ‘Aisy al-Bahri sudah berumur kira-kira 111 tahun. Di sampul atau halaman awal kitab tersebut tertulis bahwa pencetakan kitab telah mendapat izin dari Syeikh Kholil Bangkalan Madura. ‘Aisy al-Bahri ditulis dengan menggunakan Bahasa Arab. Menariknya lagi, Kyai Arwani menyebut hewan-hewan laut dalam kitabnya dengan istilah Bahasa Jawa yang diarabkan (mu’arrab), banyak istilah seperti Rubiyan (rebon), al-Bulus (labi-labi), dan al-Kafiti’ (kepiting).

Penulis menduga ada beberapa alasan kenapa Kyai Anwar menuliskan banyak istilah hewan laut yang ditulis dengan istilah mu’arrab. Pertama, Kyai Anwar lebih memilih istilah tersebut karena tujuan kedekatan dengan sasaran pembaca yang lebih banyak disebar di Jawa atau Indonesia. Kedua, ragam hayati laut Indonesia yang berbeda dengan Laut Arab sehingga menyulitkan Kyai Anwar dalam mencari padanan dalam Bahasa Arab. Ketiga, memang ada kekurangan pengetahuan kebahasaan dari pengarang kitab. Menurut hemat penulis, alasan pertama lebih mendekati kebenaran. Karena dalam pembukaan kitab, Kyai Anwar menulis kitab ‘Aisy al-Bahri diperuntukkan kepada masyarakat muslim umum.

Kiai Anwar adalah ulama dari Batang yang satu masa dengan Kiai Nawawi Banten dan Kiai Kholil Bangkalan. Diceritakan juga dari Kyai Dimyati Rois, Kyai Anwar pernah menjadi tuan rumah rapat 5 kyai yang dilakukan di Alas Roban (Batang), rapat tersebut dihadiri juga oleh Kyai Soleh Darat, Kyai Nawawi.

 

Sumber Gambar: link