KETIKA KELUAR FATWA LARANGAN MENYERUPAI ORANG BELANDA

Kondang

Bagi sebagian orang memelihara jenggot merupakan bagian dari menjalankan ajaran agama atau sunnah. Hal ini dapat dimaklumi jika dalam membaca hadis di atas tidak berdasarkan pada kajian konteks sosio-historisnya atau asbab al-wurud. Karena itu jika memperhatikan konteksnya maka akan ditemukan pengetahuan bahwa perintah memanjangkan jenggot yang disampaikan Rasulullah bagian dari bentuk perlawanan terhadap orang-orang musyrik yang saat itu memiliki identitas memanjangkan kumis dan memotong jenggot.

روى الإمام البخاري والإمام مسلم في صحيحيهما عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أنّ رسول الله صلّى الله عليه وسلّم قال: خالفوا المشركين. أحفوا الشوارب وأوفوا اللّحى

Hadis ini menegaskan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan orang-orang mukmin untuk membedakan dirinya dengan orang-orang musyrik, yaitu dengan cara mencukur kumis dan memelihara jenggot. Karena kalimat yang kedua ((أحفوا الشوارب وأوفوا اللحى)) sebagaimana dikutip dari Imam Ibnu Taimiyah merupakan badal dari kalimat yang pertama ((خالفوا المشركين)). Jika memang demikian, maka kalimat kedua tersebut merupakan badal al-Ba‘ḍl min Kull yang berarti bahwa Rasul Saw memerintahkan orang-orang mukmin untuk tidak menyamai orang-orang musyrik, salah satunya dengan cara mencukur kumis dan memelihara jenggot.

Sikap Rasulullah Saw dalam melakukan perlawanan melalui pembedaan “adat” atau “kebiasaan” pernah diteladani oleh ulama Nusantara ketika melawan kezaliman penjajah yang memiliki kebiasaan memakai jas dan dasi. Sebagai bentuk perlawanan, para kiai mengharamkan umat Islam menggunakan dasi dan atribut-atribut lain yang menyerupai penjajah. Ketetapan ini pada masanya diikuti, tapi seiring dengan lenyapnya penjajahan maka hukum pun berubah, karena tujuan sebenarnya bukan menggunakan dasinya, tapi sikap ketidaksetujuan terhadap tindak penjajahan.

Kiai Soleh Darat (lahir 1820 /1235 H) pernah memfatwakan warga pribumi haram mengenakan pakaian mirip yang dipakai orang Belanda, murid-muridnya pun mengikuti jejak tersebut. Di antaranya KH. Hasyim Asy’ari yang juga menyerukan larangan orang pribumi meniru pakaian penjajah.

KH. Raden Asnawi adalah sosok murid Kyai Soleh darat yang sangat tegas menentang Belanda. Prinsip-prinsip hidupnya sangat keras dan watak perjuangannya terkenal galak, sebab kala itu bangsa Indonesia sedang dirundung nestapa penjajahan.

Keyakinan inilah yang dipeganginya sangat kokoh sekali. Bagi KH. Raden Asnawi, segala hal yang dilaksanakan oleh Belanda tidak boleh ditiru. Bahkan tidak segan-segan KH. Raden Asnawi memfatwakan hukum agama dengan sangat tegas, anti-kolonialisme, seperti mengharamkan segala macam bentuk tasyabbuh (menyerupai) perilaku para penjajah dan antek-anteknya.

Dalam pertemuan Jong Java di Surabaya pada 1921, juga terjadi perbincangan mengenai penutup kepala. Sukarno melukiskan peristiwa itu dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia dengan cukup dramatis.

Dia bilang kaum cendekiawan yang hadir di sana mempertanyakan pemakaian kain penutup kepala ala Jawa, sarung, dan peci. Mereka menganggap pakaian itu digunakan “kaum” yang lebih rendah. Di tengah kegusarannya, Sukarno yang waktu itu berumur 20 berbicara lantang kepada mereka – semacam pidato peneguhan peci sebagai simbol Nasionalisme Indonesia.

Kembali soal ciri-ciri muslim, yang dilarang menyerupai seorang musyrik–dengan cara memanjangkan jenggot, dan mencukur kumis. Barangkali doktrin semacam ini telah merebak di kalangan umat muslim. Tentu ini adalah anjuran Rasul, bagaimanapun juga. Tapi yang menjadi perhatian kita adalah jika ternyata jenggot itu menjadi simbol yang kaku, dan lucunya akan timbul persepsi, “Barangsiapa yang tidak berjenggot, maka ia bukan muslim!”.

Dan terakhir yang juga penting adalah keluarnya hadis anjuran untuk tidak menyerupai (tasyabbuh) dengan kaum atau umat lain bisa dimaknai sebagai nilai perlawanan dan penguatan simbol kebersamaan.

Sumber Gambar: Link