Kereta Gerbong Delapan

Cerpen Sastra

Tatapan mata itu seakan kosong, sesekali mengunyah nasi yang mulai dingin. Aku terus saja mencuri pandang kepada Ayahku. Di meja ini sebenarnya cukup istimewa. Tiga ikan pindang dihidangkan kepadaku. Aku bergumam, mungkinkah apa yang sedang dalam pikiran Ayah sama denganku, “Ibu tentunya akan menyiapkan makan malam dengan lauk yang sama malam ini”. Sudah sejak dua tahun terakhir ini kami hidup bertiga. Ayah, Aku dan Anyer Adik perempuanku. Aku berharap pagi hari Ayah dapat tersenyum dengan lega sebelum aku berpamitan.

Barang-barang keperluan kutata rapi dalam koper, kupinjam dari tetangga subuh tadi. Tiket kereta ku masukan dalam saku dada, dengan angka gerbong delapan, kode kursi menandakan baris kedua. Pagi ini benar dugaan saya, Ayah tak seperti tadi malam. Lebih dari hanya sekedar senyum tampak jelas di wajahnya. Walapun begitu, aku masih melihat kelopak mata Ayah mengunang tak bisa ia sembunyikan.

Sementara Adik perempuanku masih menggandeng tanganku erat, didepan pintu.

Tangan kananya menenteng handuk. “Dik, kakak pergi. Main-main sama Ayah dulu, besok kalau kakak pulang janji bawakan satu boneka Doraemon. Adik minta apapun pasti ada saja di kantong ajaibnya ya?” tanyaku padanya. Benar kah, kak, Adik boleh minta apa saja di kantong ajaibnya? Termasuk pintu kemana saja? Apa aku bisa ketemu Ibu?” seru Adik padaku. Dia selalu bertanya, apakah ibu baik-baik saja. Kalimat yang akhir-akhir ini selalu kuucapkan padanya bahwa surga Ibu yang disana indah sekali.

Sejak beberapa dekade, hingga sekarang Jepang berhasil mengeksplorasi kartunya di Indonesia. Termasuk Adik perempuanku yang mengenal “Pintu kemana saja”. Tangis pecah dari Ayah tak kuasa ditahanya. Ayah menepuk pundaku. Aku terkaget “Segeralah bergegas nak, kereta mu berangkat pukul tujuh” kata ayah. Sementara Adik masih bertanya-tanya, pertanyaanya tak kunjung ku jawab. Dari kejauhan nampak Ayah kemudian menggendong Adiku masuk kedalam rumah.

Stasiun Ambarawa. Dari arah timur bercampur dengan silaunya matahari, kereta melaju pelan di jalur dua. Gerbong delapan yang kutuju berada ditengah. Kereta ekonomi ini tak sepenuh penumpang yang kubayangkan. Penjual asongan hanya sesekali saja menawarkan sarapan. Aku sadar hanyut dalam lamunan. Ini adalah rangkaian kuliahku di semester empat, tetapi baru kujalani di semester delapan. Dua tahun sejak kepergian Ibu, Adiku beranjak usia 6 tahun. Ia sudah mulai banyak bertanya, sedangkan SMS yang selalu Ayah kirimkan, tak kuasa lagi kubalas. Aku tak mampu lagi mengetik nasehat pada Ayah. Semua berjalan begitu saja ketika Adik selalu bertanya juga pada Ayah.

Hari kedepalan sejak Ibu meninggal, kuliahku terhenti. Jalan keluar yang kupilih hanya mengambil cuti. Begitu banyak waktu yang kubuang untuk bekerja. Sementara tahun-tahun terakhirku di kampus menghilang begitu juga dengan kawan-kawan. Dalam Gerbong Delapan, saksi perjalananku menempuh kembali kuliah.

Ayah sudah lagi bekerja. PHK besar-besaran saat itu menimpa perusahaan tekstil yang digeruduk ratusan masa, mereka adalah teman-teman Ayahku sendiri. Termasuk spanduk yang dibawanya pulang masih menempel didinding rumah. Bertuliskan “mesin gawe bubrah”. Empat tahun kuliah ternyata tak bisa kujalani tepat waktu. Saya teringat ketika Bapak Rektor dengan lantang mengatakan di koran; “4 tahun tak lulus sebaiknya DO” rasa sesak ini masih ada.