Kepergian Udin adalah Duka Masyarakat

Tokoh

“Ya gimana lagi, kenyataannya begitu. Yang saya tulis adalah kenyataan. Kalau memang saya harus mati, akan saya terima.”

Itu jawaban Fuad Muhammad Syarifudin ketika diminta Marsiyem, istrinya, untuk tidak terlalu berani dalam menulis berita. Udin, nama sapaannya, tetap berkeyakinan kalau kenyataan yang terjadi di Bantul, tempat dia bertugas mencari berita, harus ditulis apa adanya.

Setiap berita yang dia tulis di Harian Bernas, kerap menyindir Bupati Bantul, Kolonel Sriroso Sudarmo. Sebagai contoh, berita “Tugas Utama Kades Raih Suara 200 Persen untuk Golkar”, menuliskan penyelewengan jabatan oleh Sriroso.

Ketika Pemilihan Umum, Sriroso berniat maju kembali untuk periode kedua (1996-2001), untuk itu Sriroso memerintahkan Kepala Desa agar warganya memilih Golkar.

Berita lainnya yang diterbitkan Bernas adalah pemberian dana Inpres Desa Tertinggal (IDT) yang tidak secara penuh. Dalam berita yang berjudul “Dana IDT Hanya Diberikan Separo”, Udin mendapatkan fakta bahwa di Desa Karangtengah, Kecamatan Imogiri, Bantul ada pemotongan dana IDT. Kelompok Masyarakat (Pokmas) yang berhak mendapat dana Rp 18.000 hanya diberikan sebesar Rp 10.000 dengan alasan pemotongan biaya administrasi.

Akhirnya, malapetaka itu datang juga. Dalam Menagih Tanggung Jawab Polisi untuk (Alm.) Udin, Sumiardi menuliskan kronologi upaya pembunuhan Udin.

Pada Selasa malam hari 13 Agustus 1996 pukul 23.00, kediaman Udin didatangi tamu seorang pria yang tidak dikenal identitasnya. Tamu yang bermaksud ingin bertemu Udin, diterima oleh Marsiyem.

Udin menemui tamu tersebut di halaman rumah. Tanpa komando panjang, tamu itu langsung memukuli Udin hingga tidak sadarkan diri. Udin pingsan dalam keadaan suasana sekitar gelap dan tanpa adanya saksi mata. Mendengar adanya keributan, Marsiyem melihat ke luar dan menemukan Udin pingsan dalam keadaan berdarah. Marsiyem berteriak histeris.

Dalam rilis yang dikeluarkan Bernas pada Agustus 1996, “Wartawan Bernas Dianiaya hingga Luka Parah” dituliskan jika Udin dipukul dengan benda keras (diduga pukulan besi atau senjata tajam), di bagian perut dan kepala sebelah kiri. Udin dirawat di Ruang Unit Perawatan Intensif (UPI) Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Pada hari Rabu, tim dokter RS Bethesda mengoperasi bagian kepala Udin. Hasilnya sekitar 50 cc darah beku dikeluarkan. Selain itu, akibat kerasnya benturan benda, Udin mengalami pendarahan di luar otak.

Udin yang memiliki identitas penulis “saf”, meninggal dunia pada 16 Agustus 1996. Kronologi yang dituliskan Bernas “Detik-detik Akhir Menjelang Meninggalnya Udin” menjelaskan sampai hari Jumat pagi 16 Agustus, kondisi Udin masih dalam keadaan koma. Bahkan rencana operasi di perut untuk mengetahui luka di ususnya batal dilaksanakan. Pada pukul 07.30 Udin dioperasi di sekitar tenggorokan untuk memasukkan selang. Sejak saat tu, Udin dibantu dengan alat penyedot lendir untuk membantu pernafasannya. Pada pukul 16.20 keluarga Udin dipanggil dokter dan diberi tahu kalau keadaan korban dalam kondisi kritis. Untuk itu keluarga korban diberi kesempatan menunggu Udin.

Duka itu datang, pada pukul 16.58 Udin dinyatakan meninggal dunia oleh dokter. Udin meninggal di samping istrinya.

Udin dimakamkan di pemakaman tidak jauh dari rumahnya, pada tanggal 17 Agustus 1996, tepat diperayaan HUT RI ke 51. Dia meninggalkan seorang istri juga dua orang anak Dita Krisna dan Zulkarnaen Wikanjaya.

Dukungan Moral atas Meninggalnya Udin

Meninggalnya Udin menjadi kabar menyedihkan tidak hanya bagi keluarga tetapi juga rekan kerjanya sesama rekan wartawan. Harian Bernas menerima faksimili dari berbagai media, seperti Jawa Pos Surabaya, Wartawan Banyumas, Forum Keadilan, Majalah Detektif Romantika, Media Indonesia Minggu, Majalah Pertanian Agrobis, Liberty, The Jakarta Post, Tabloid Mingguan Target, Berita Yudha, juga dari pembaca-pembaca Bernas. Mereka satu suara mengecam tindaka yang menyebabkan Udin meninggal.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, seperti yang diberitakan Bernas dalam berita “Gubernur DIY: Siapapun di Belakangnya Tetap Di Proses” juga turut berbelasungkawa atas meninggalnya Udin. Sulatn juga mendukung pelacakan tersangka penganiayaan. Di berita yang sama, Kapolda Jateng Mayjen Pol Drs Harimas As memerintahkan agar kepolisian memburu pelaku. Menurutnya pelaku penganiayaan sudah melanggar hukum. Pelaku harus diusut dan ditindak tegas. Sayang, sampai saat ini perintah tersebut belum juga terwujud.

Pihak Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) juga turut memberikan dukungan moral atas musibah yang menimpa Udin. Dijelaskan di berita “Dukungan Moral untuk Udin” ketua PWI Cabang Yogyakarta, Oka Kusumayudha, akan membentuk tim pencari fakta. Jika kasus tersebut berkaitan dengan tugas jurnalistik Udin, pihak PWI akan membuat sikap. Tim pencari fakta yang bertugas terdiri dari Masduki Attamami (Biro Hukum, Nurhadi (Seksi Unit Polri), Asril AM dan Putut Wiryawan (Seksi Hankam), serta Sutirman Eka Ardana (anggota senior PWI Yogya).

Budayawan Emha Ainin Nadjib mengatakan bahwa Udin pergi dalam keadaan khusnul khotimah. Seperti dilansir dalam berita Bernas “Emha: Wartawab Bangkit!” ketegaran Udin dalam mengungkapkan kebenaran telah mengangkat citra wartawan Indonesia. Rekan wartawan lain harus meniru keberanian yang ditularkan Udin, “Wartawan adalah pelopor kebangkitan kelas menengah menuju Indonesia masa depan yang lebih baik,”tegas pria yang akrab dipanggil Cak Nun.

Dari kalangan masyarakat sipil wilayah Bantul, ucapan belasungkawa juga terus mengalir. Ucapan ini terlihat dalam lomba gerak jalan se-Kabupaten Bantul dalam rangka HUT RI. Momen yang diliput dalam berita Bernas “Warga Bantul Gelar Pawai Duka Cita”, salah satu regu lomba baris berbaris membawa foto Udin dalam ukuran besar serta spanduk bertuliskan Turut Berduka Cita atas Meninggalnya Wartawan Syarrifudin Pembela Kebenaran dan Keadilan. Selain itu, anggota regu juga mengenakan ikat kepala berwarna hitam sebagai simbol duka.

Kematian wartawan Udin (juga wartawan lain yang belum selesai kasusnya) adalah sejarah hitam bagi kebebasan pers Indonesia. Kasus Udin bukanlah kasus kriminal biasa, kasus ini adalah pelanggaran HAM, apalagi mendekati waktu meninggal, Udin sedang berupaya mencari fakta penyelewengan dana IDT.

Tenang di alam barzakh, Pak Udin!