Jawasentris Pembelajaran Sejarah Nasional

Sosial Budaya

“Sejarah Nasional bukanlah Sejarah Jawa. Namun Sejarah yang mampu menyentuh batas-batas terluar di Indonesia. Tujuannya untuk membangun jiwa pluralisme, toleransi dan persatuan bangsa”

 

Belajar sejarah di sekolah masih dikesampingkan oleh siswa karena pelajaran sejarah tak masuk dalam mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional. Sehingga hal ini berdampak dalam membentuk karakter dan kepribadian siswa yang unggul. Lihatlah peristiwa akhir-akhir ini dimana siswa bisa menganiaya guru, orang tua, intoleransi, tawuran, dll. Peristiwa tersebut merupakan salah satu problem dimana siswa tidak mampu memegang tujuan belajar sejarah yaitu harus mampu mewariskan nilai-nilai kebinekaan, pluralisme, kemanusiaan, solidaritas, perdamaian, kemandirian, dan persatuan bangsa. Selain itu, seorang guru juga bisa menjadi aktor utama dalam mencapai tujuan tersebut disamping orang tua siswa itu sendiri.  Guru bukan hanya memikirkan bagaimana semua pokok bahasan bisa tercapai namun bagaimana tujuan dan berkemaknaan belajar sejarah yang sebenarnya itu bisa dihayati oleh siswa. Masalaah yang lain yaitu salah satunya terpakunya pengajaran sejarah nasional yang masih bersifat Jawasentris. Hal ini kemudian bisa mengakibatkan siswa mempunyai rasa intoleran terhadap sesama.

Dalam kurikulum sebelum dan hingga K13 saat ini, konsep pembelajaran sejarah nsional umumnya masih bersifat Jawasentris. Walaupun porsi jam bertambah dan ada revisi-revisi buku pegangan, nuansa Jawasentris juga masih terasa kental. Akhirnya, guru pun yang menjadi fasilitator juga masih terpaku dan terjebak bahwa sejarah nasional itu belajar pada peristiwa sejarah yang ada di Jawa. Padahal, konsep wilayah nasional Indonesia yang kita kenal bahwa Indonesia tidak hanya Jawa saja, tetapi dari wilayah Sabang sampai Merauke, Pulau Miangas sampai Pulau Rote, dari 17.500 pulau yang terbentang. Maka dari itu, pelajaran sejarah juga harus mengadopsi dan  mengangkat sejarah di tingkat lokal, sejarah daerah pinggiran, dan teritori terluar dari Indonesia. Harus diakui ada kesan selama ini sejarah ditulis dengan pendekatan nasional yang sentralistis dan terkesan Jawasentris. Buku “pembaharuan” dari “Sejarah Nasional Indonesia” (SNI) yaitu “Indonesia Dalam Arus Sejarah” juga masih bersifat Jawasentris, belum banyak mengangkat lokal yang berada di luar Jawa. Hal itu diungkapkan oleh sejarawan luar seperti Max Lane dan Adrian Vickers pada Seminar Internasional pada akhir tahun 2014 lalu di Universitas Negeri Yogyakarta. Buku yang berjumlah 9 jilid itu tak ubahnya seperti SNI yang digawangi Nugroho Notosusanto. Porsi untuk pembahasan di luar Jawa masih sangat minim dan peristiwa sejarah di Jawa masih menjadi sentral dalam penulisan sejarah Indonesia. Koreksi ini memang butuh komunikasi, dukungan, kerjasama antar sejarawan, pihak terkait  dan juga terutama dari pemerintah supaya apa yang diharapkan dari Keindonesiaan tidak hanya terfokus di Jawa.

Secara umum, guru sejarah yang mengajar di luar Jawa akhirnya juga tunduk terhadap buku yang menjadi pegangan selama ini. Maka dari itu, guru sejarah yang mengabdi di luar Jawa setidaknya bisa menyisipkan sejarah lokal yang relevan dengan penulisan sejarah nasional. Hal itu sebagian sudah dilakukan oleh teman-teman saya yang setahun mengajar di pedalaman yakni dari program pemerintah, Sarjana Mengajar di daerah Terdepan Terluar, Tertinggal (SM-3T). Misalnya, teman-teman saya ini sudah mengajar di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) seperti Alor dan Ngada. Wilayah NTT masih banyak menyimpan peninggalan-peninggalan Pra Sejarah yang bertahan dan dipakai sampai sekarang seperti nekara, moko, dll. Pada materi Pra Aksara inilah teman saya ini menyisipkannya. Guru tak harus berbicara Sangiran. Teman saya ini mengajak siswanya dilibatkan dengan diajak berkomunikasi dengan melihat langsung bahwa barang-barang tersebut mempunyai nilai sejarah yang sangat tinggi. Cerita lain yang ada di Sambas, Kalimantan Barat bahwa dulu ada sebuah Kerajaan Islam di sana. Teman saya ini mengajak siswanya untuk mencari tahu dengan menggali informasi dari orang tua ataupun menelusuri sumber-sumber sejarah. Hal ini bisa memunculkan keingintahuan atau lebih mengenal perjuangan di daerahnya sendiri. Hal ini bisa dijadikan contoh buat teman-teman guru sejarah yang mengabdi di luar Jawa bahwa sejarah nasional tak selalu membahas di Jawa namun bisa dijumpai dengan sejarah yang paling dekat dengan lingkungan siswa. Guru harus mampu mengatasi problem ini dan kretivitas dituntut seperti yang dibutuhkan K13.

Maka dari itu, sebagai guru sejarah kita harus merubah persepsi bahwa sejarah nasional tidak hanya bersifat Jawasentris akan tetapi sejarah nasional yakni sejarah yang mencakup seluruh wilayah Indonesia. Saudara-saudara kita di Indonesia timur yang merasa dimarginalkan selama ini harus dapat dirangkul kembali dengan mengangkat sejarah dan pahlawan lokal mereka dalam penulisan sejarah nasional. Pencantuman gambar pahlawan dari berbagai daerah dalam uang kertas baru yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia beberapa waktu lalu semoga bisa menjadi contoh atau titik awal dalam pengenalan sejarah nasional yang sebenarnya.