Janur Kuning dan Doktrinasi Orde Baru

Sosial Budaya

Orde Baru dikenal sebagai rezim yang sangat totaliter. Segala aspek kehidupan masyarakat diatur dan diarahkan. Media massa pengkritik pemerintah dicabut izin terbitnya. Orang-orang yang dianggap membangkang, dihilangkan. Bahkan tayangan-tayangan yang dianggap mengancam stabilitas nasional tidak jarang diberhentikan. Masyarakat diarahkan untuk menikmati segala sajian pemerintah. Salah satunya yaitu film perang dengan judul Janur Kuning.

Janur Kuning dirilis pertama kali pada tahun 1979. Dikerjakan oleh sutradara kondang Alam Rengga Surawidjaja serta aktor kawakan macam Dedi Sutomo, Kaharudin Syah, dan Dicky Zulkarnain, Janur Kuning sukses menghabiskan dana sekitar Rp. 350 juta. Jumlah yang sangat besar untuk ukuran biaya produksi film di akhir dekade 70-an.

Seperti halnya film Pengkhianatan G30S/PKI, Janur kuning sebenarnya merupakan salah satu film propaganda rezim Orde Baru atau lebih tepatnya bisa disebut film pencitraan Soeharto. Film ini mengambil latar keadaan Yogyakarta pada masa Agresi Militer Belanda ke-2 yang dimulai pada tanggal 19 Desember 1948. Digambarkan bahwa kondisi Yogyakarta sangat carut marut, rakyat panik, pemerintah sipil ditawan, hingga akhirnya tentara harus keluar jauh dari kota Yogyakarta. Jenderal Sudirman sebagai panglima tertinggi tentara juga terpaksa harus bergerilya ke luar kota Yogyakarta dan memimpin perlawanan secara berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain. Padahal pada saat itu Sudirman dalam keadaan sakit parah.

Dalam kondisi yang carut marut ini munculah tokoh Soeharto sebagai seorang yang bisa mengatasi keadaan. Soeharto digambarkan sebagai orang yang tetap tenang dan dengan cekatan berusaha mengumpulkan para prajurit yang tercerai-berai. Dia dengan gagahnya berjalan tanpa letih selama tujuh hari tujuh malam guna mengkordinir seluruh pasukan yang ada di barat, utara, dan timur Kota Yogyakarta. Lalu dengan kejeniusannya mencetuskan ide serangan besar-besaran terhadap Kota Yogyakarta agar kepercayaan rakyat terhadap tentara bisa pulih kembali. Serangan tersebut kemudian hari dikenal sebagai Serangan Umum 1 Maret 1949 dan digambarkan aktor utamanya adalah Soeharto sendiri yang ketika itu berpangkat Letnan Kolonel.

Janur Kuning juga menggambarkan Soeharto sebagai sosok yang sangat dicintai oleh prajurit dan masyarakat. Hal ini terlihat di salah satu adegan dimana para prajurit bawahannya sangat terpukul tatkala mengira Soeharto telah gugur dalam aksi tembak menembak sehingga menyebabkan satu diantara mereka histeris. Kemudian setelah itu, ketika Soeharto muncul dalam keadaan sehat tanpa terluka, masyarakat dan para bawahannya menyambut dengan suka ria. Bahkan ada salah satu prajurit yang langsung memeluk Soeharto dengan menangis. Adegan ini secara tidak langsung berusaha menggiring para penonton untuk meyakini bahwa Soeharto memang sejak dahulu sangat dicintai oleh semua kalangan sehingga layak menjadi presiden Republik Indonesia di masa aman.

Penonjolan tokoh Soeharto secara bertubi-tubi dalam film Janur Kuning ternyata menuai kritik dari para akademisi. Kritik yang muncul kebanyakan mengenai keotentikan dan keobyektian film ini. Salah satunya yaitu dari Asvi Warman Adam, seorang Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).  Dalam sebuah wawancara dengan merdeka.com, Asvi mengatakan bahwa film Janur Kuning tidak obyektif. Peran Soeharto terlalu ditonjolkan. Film itu hanya berisi bagaimana sosok Soeharto yang begitu teguh, berjuang sekuat tenaga, dan sebagainya. Sosok lain sangat dikecilkan.

Asvi juga menambahkan bahwa seharusnya ketika membuat film tentang Serangan 1 Maret 1949 tidak boleh melupakan sosok Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Namun kenyataanya, peran Hamengkubuwono IX hampir tidak terlihat dalam film Janur Kuning. Padahal saat itu Sultan punya empat fungsi. Sebagai Gubernur, Sultan Yogya, Menteri Pertahanan dan diplomat yang dipercaya melakukan perundingan. Sangat tidak mungkin Sri Sultan Hamengkubuwono IX tidak memiliki peran yang mencolok.

Ketidak obyektifan film Janur Kuning sebenarnya harus dipertanggung jawabkan terutama oleh pencetus ide pembuatan film tersebut. Namun, sama halnya dengan mencari profil Marwati Djonoed sang pendamping Nugroho Notosusanto dalam menyusun buku Sejarah Nasional Indonesia, sampai sekarang tidak diketahui siapa aktor intelektual penggagas ide film Janur Kuning. Ada yang berpikir Nugroho Notosusanto sebagai sang penggagas. Namun sampai sekarang sangat sedikit literatur yang mengarah kepada Nugroho Notosusnto sebagai pencetus ide film Janur Kuning.

Terlepas dari itu, kita harus mengakui bahwa pencetus film Janur Kuning merupakan seorang yang sangat cerdas. Pemahamannya terhadap masyarakat dan pemilihan media doktrinasi sangatlah pas. Masyarakat yang pada saat itu masih sangat sedikit bisa mengakses hiburan modern kemudian disuguhi tontonan film yang heroik seperti Janur Kuning. Hal ini pastinya membuat masyarakat sangat tertarik dan cermat dalam menonton. Akhirnya ketertarikan dan kecermatan tersebut berubah menjadi sebuah keyakinan. Keyakinan bahwa si pahlawan dalam film Janur Kuning adalah figur bapak yang layak untuk menjadi pemimpin dan penyelamat bangsa karena merupakan orang yang sudah terbukti banyak memiliki jasa pada bangsa Indonesia di masa perang kemerdekaan.