Islamisasi Nusantara: Teori Sufi Lebih Masuk Akal Ini Alasannya

Klasik

Proses islamisasi di Indonesia menurut Ricklefs dalam buku Sejarah Indonesia Modern dikatakan bahwa terdapat kemungkinan antara penduduk pribumi yang melakukan hubungan langsung dengan islam kemudian menganutnya kembali ke Nusantara atau orang-orang Asing dari Arab, India, Cina, dan Persia yang telah memeluk agama islam datang dan tinggal di suatu wilayah Indonesia, lalu melakukan perkawinan campuran dengan mengikuti gaya hidup lokal.

Para sarjana dan peneliti proses kedatangan dan penyebaran islam di kepulauan Melayu -Indonesia hampir bersepakat dengan kenyataan bahwa islamisasi kawasan Nusantara terjadi melalui jalan damai. Penjelasan yang lebih menarik memperkuat sebuah argumen mengenai juru dakwah dalam bukunya Sidi Ibrahim Boechari Sedjarah Masuknja Islam dan Proses Islamisasi di Indonesia, bahwa Sosiolog Belanda Van Leur percaya bahwa motif ekonomi dan politik berperan penting dalam islamisasi orang-orang Melayu-Indonesia. Agaknya teori dagang bertentangan dengan historiografi tradisional lokal, teori ini memang menekankan motif politik dan ekonomi, artinya juru dakwah dagang islam pertama tidak terlihat jelas tujuan mereka untuk menyebarkan agama islam sebelum abad ke12 meskipun penduduk pribumi bersikap terbuka terhadap para pedagang muslim selama periode abad ke 7 dan 11.

Teori yang lebih masuk akal dan lebih bisa banyak dipakai kemudian dikemukakan oleh A. H. Johns bahwa  pada kenyataannya para sufi pengembaralah yang secara luas menjalankan dakwah islam. Bukanlah para pedagang yang secara murni menyebarkan agama islam di nusantara, namun para sufilah yang berhasil mengislamkan banyak penduduk di kepulauan Melayu-Indonesia paling tidak semenjak abad ke13. Keberhasilan dalam islamisasi terutama disebabkan oleh kemampuan kaum sufi menyajikan islam dalam bentuk yang menarik melalui penekanan kontinuitas islam dengan kepercayaan dan praktik tradisional daripada mengedepankan perubahan. Mereka berhasil membaur dengan penduduk nusantara.

A.H. Jhons menyimpulkan bahwa pedagang islam tidak pernah menanamkan akarnya di kalangan rakyat Nusantara atau mengambil taktik interaksi kepada penguasa kerajaan pada saat itu sampai kemudian didakwahi oleh kaum sufi. Teori sufi ini berhasil membuat korelasi antara peristiwa politik islamisasi dinasti Abbasiyah dalam hal mempengaruhi perkembangan masyarakat muslim terutama di bagian lain dunia Islam. Pernyataan ini didukung dalam bukunya Azyumardi Azra, Islam Nusantara, Jaringan Global dan Lokal dijelaskan islam nusantara pada masa awal sangat erat dengan pemikiran tasawuf. Banyak teori yang mengatakan bahwa ulama yang murni dakwah mengenalkan islam dengan tujuan bukan untuk berdagang sangat banyak jumlahnya. Para ulama inilah yang sejatinya banyak memberi pengaruh penyebaran islam di Nusantara. Jika dibandingkan para ulama yang datang untuk berdagang, tujuan mereka tentunya terbagi dua kepentingan antara ekonomi dan dakwah. Beberapa teori seperti teori dagang dan teori arus balik, maka teori sufi inilah dapat ditekankan tujuan para ulama datang ke Indonesia yang utama adalah untuk berdakwah.

Proses dan berkembangnya Islamisasi di Nusantara dibawa oleh para sufi dan guru tarekat.

Bukti-bukti islamisasi terdapat dalam pendidikan islam (pesantren) yang didirikan oleh beberapa nama seperti Syekh Abdur Rauf as-Singkili dan muridnya Abdul Malik al-Jawi al-Fansuri di Banda Aceh. Syekh Burhanudin Ulakan (Pariaman, Minangkabau) sebagai pendiri Surau yang pertama sekaligus penyebar Tarekat Syattariyah. Bahkan sampai saat ini ajaran Islam masih diliputi oleh sikap sufistik yang dekat dengan keramat. Tarekat juga telah menjadi bagian dari tradisi keberagamaan yang ada di Indonesia. Maka tidak dapat dipungkiri bahwa ajaran islam masih bertahan sampai sekarang menjadi agama mayoritas penduduk di Indonesia.

Selain sudah dekat dengan kultur masyarakat Indonesia ajaran islam juga membawa konsep ketuhanan dalam ajaran Hindu dan Budha maupun Kapitayang, artinya yang mendominasi sebelum kedatangan ajaran islam dalam ajaran kapitayang itu juga sudah mengenal Tuhan dari adanya konsep Sang Hyang. Bahwa Tuhan bersifat gaib. Sehingga tidak begitu lama kemudian mereka memahami dan mengikuti ajaran yang di bawa oleh para ulama sufi.

Para sufi juga telah menjelaskan masyarakat secara hafiah tentang adanya konsep tarekat yang berarti “jalan”. Secara teknis para sufi mengarahkan manusia menuju kedekatan dengan Tuhan, tarekat berarti suatu metode kerohanian dalam memberikan bimbingan spritual. Seorang salik harus menempuh jalan dan melewati maqammat (tingkatan) dan ahwal (keadaan) agar sampai pada tujuan akhir haqiqah (hakikat). Tujuan utama diciptakanya ritual-ritual itu adalah membawa kedekatan diri seseorang, bahkan perasaan bersatu ( ittihad) dengan sang khalik dan hubungan antara murid dan syekh. Setelah konsep ijazah sebagai ihwal wewenang mengajar konsep sisilah dimunculkan juga untuk menopang kukuhnya sistem baru.

Tidak berhenti pada penjelasan kedekatan dengan Tuhan, para sufi mengajarkan keterlibatan seseorang dalam kehidupan tarekat yang dimulai dengan pengambilan bai’at dari murid dihadapan syekh dengan sebelumnya melakukan taubat dari segala maksiat. Untuk itu mereka menerima tentang hal-hal yang terikat secara tidak langsung mengemban agama yang dianut. Dalam tarekat terdapat tiga ciri umum yang berperan yaitu syekh, murid, dan bai’at. Dapat dikatakan bahwa tarekat membentuk perkumpulan persaudaraan sufi guna menjalankan ritual sufinya dalam sebuah tempat tertentu dan dipimpin oleh seorang syekh atau mursyid. Kemudian mereka menjalankan misi berdakwah dengan pendekatan budaya masyarakat.

Beberapa ahli seperti Rinkes, Kraemer, Drewes, mengemukakan bahwa tarekat masuk ke nusantara sejak abad ke 16 atau awal abad ke 17. Martin van Bruinessen memastikan abad 18 dan 19 tarekat telah mempunyai pengikut yang banyak di kawasan Indonesia barat. Oleh karena itu dukungan teori arus balik masih relevan dikatakan bahwa tarekat yang berkembang dan memperoleh banyak pengikut pada saat di Mekah dan Madinah pada masa tertentu juga mempengaruhi, dan cepat menyebar di Nusantara.

Ulama besar pada abad 16 dan 17 seperti Hamzah al-Fansuri, Syamsudin al-Sumatrani, Nurudin ar-Raniri, Abdur Rauf as-Singkilli, dan Yusuf al-Makassari merupakan tokoh pertama yang menyebarkan tarekat-tarekat utama yaitu Qadiriyah, Rifaiyah, Syattariyah, dan Khalwatiyah. Sedangkan ulama pada masa 18 dan 19 diantaranya Abdus Samad al-Palimbani, Muhammad Nafis al-Banjari, dan Abdurrahman al-Battawi adalah beberapa tokoh yang menyebarkan tarekat Samawiyah. Kemudian Tarekat di Jawa abad 19-20 telah mengembangkan tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah dan Naqsyabandiyah Khalidiyah Indonesia. Nama-nama diatas dijabarkan dalam buku (Arus Sejarah Kedatangan dan Peradaban Islam jilid 3).

Istana memainkan peran penting bagi tersebarnya ajaran tasawuf dan tarekat. Tarekat berkembang di lingkungan istana baru kemudian di kalangan awam. Bahwa para guru sufi itu dekat dengan kekuasaan dan beberapa menduduki jabatan penting dalam kerajaan Islam. Seperti Hamzah al-Fansuri yang menduduki mufti atau syekh islam Kesultanan Islam Aceh Darusalam pada masa pemerintahan Sultan Alaudin Riayat Syah begitu juga Syamsudiin as-Sumatrani pada masa sultan Iskandar Muda.

Pada Abad ke-16 beberapa ulama Nusantara mulai berkenalan dengan tarekat Naqsyabandiyah dijelaskan dalam bukunya Fuad Said, Hakikat Tarikat Naqsyabandiah tentang tarekat-tarekat yang lain berkembang di Indonesia dibuktikan dengan karya Yusuf Al-Maqassari 1627-1699 M yang menulis tentang tarekat Naqsyabandiyah dengan judul ar-Risalah an-Naqsyabandiyah. Kemudian pada tahun-tahun 1880 dan 1890-an orang Indonesia sudah banyak yang menjadi pengikut tarekat Naqsyabandiyah dari Mekkah membawa pulang salinan-salinan dari karya  Ahmad Ghumusykhanawi berjudul Jami’ Al-Ushuf fi Al’Auliya atau kumpulan risalah Sulaiman Al-Zuhdi yang merupakan guru di Mekkah paling berhasil mendakwah dengan damai tertuang dalam bukunya Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat. Tarekat Naqsyabandiyah sudah dikenal di Indonesia atau sudah menyebar luas di Nusantara paling tidak sejak abad ke 17 dengan adanya teori sufi tetapi baru benar-benar menjadi populer pada akhir abad ke-19.

Sumber Gambar Link