Generasi Bentukan Lama

Cerpen Sastra

Hari ini aku bertemu generasi muda, generasinya orang milenial. Style gaya ngetrend menenteng smartphone model keluaran paling gres. Betapa bedanya denganku yang hanya mengenggam handphone jadul berhiaskan aksesoris ikatan gelang karet murahan di ujung atas dan bawahnya. Seketika kupalingkan wajah sembari tersenyum miris, ah betapa miskinnya aku. Mataku diam-diam menatap lagi tingkah generasi itu. Wajah mereka begitu mulus bak model majalah remaja. Di wajah itu terlukis indah hasil coretan bedak, pensil alis, maskara juga lipstick merah menggoda. Rasa minder inipun datang. Duh apalah aku yang masih saja mengenakan bedak tabur ala-ala produksi kemasan bayi senilai 10ribu. Sungguh tak sedap dipandang, tak sedap diperhatikan.

Kurapatkan kakiku duduk menghadap mereka barisan para generasi milenial. Salah seorang dari mereka berdiri melangkah menuju ke arahku.

“Bu guru, ini ada selembaran untuk ibu. Hari ini kita nonton film ya bu”, ucapnya sembari berlalu pergi begitu saja.

“Bu guru”, yah seperti itulah mereka memanggilku.

Guru pengampu pelajaran sejarah yang dianggap sebagai pelajaran tentang dongeng masa lalu. Dongeng yang membuat para generasi milenial tidak move on. Seperti itulah anggapan mereka.

Ku baca kata demi kata tulisan bertinta hitam tebal di secarik kertas itu. Tertuliskan sebuah instruksi yang terasa berat rasanya kulakoni. Terasa begitu beratnya hingga membuat sekujur tubuhku nyeri.

 

Instruksi

Dimohon kepada Bapak/Ibu guru pengampu mata pelajaran sejarah untuk menayangkan film Pengkhianatan Gerakan 30 September pada jam pelajaran di setiap kelas.

Sekian dan terimakasih.

 

Diam dan hanya diam terpaku pada kertas yang masih melekat erat ditanganku.

“Saatnya jam pertama dimulai. Its time to the first lesson

Bel penanda itu terdengar melengking di setiap sudut ruang yang langsung membuyarkan lamunanku.

“Ayo bu kita nonton film”

Sontak teriakan mereka mengagetkanku.

“Iya”, hanya itu jawaban yang kuucap. Jawaban yang begitu lirih hingga akupun tak yakin apa mereka dengar ataukah tidak. Lambat-lambat tangan ini memasang kabel proyektor. Sekilas kulihat para generasi itu begitu girang akan menonton film. Bagi mereka menonton film lebih menyenangkan karena mereka tak perlu lagi mendengar celotehan ceramah ‘masa lalu’ dariku.

Kuhidupkan laptop usangku yang tulisan huruf di keyboardnya saja sudah tak terlihat lagi. Jari-jari ini berusaha mencari file film yang diinstruksikan.

Satu dua menit, akhirnya ketemu juga. Kubuka file itu dan kutayangkan. Sorot cahaya film terpampang jelas pada layar proyektor. Adegan demi adegan dipertontonkan tanpa ulasan sensor adegan kekerasan bahkan tanpa sensor usia yang diperbolehkan. Backsound tajam yang menyayat mengusarkan hati terasa menyiksa.

Tatapan girang para generasi milenial itu seketika berubah menjadi nanar. Sebagian menutup mata, sebagian lagi menutup telinga, sedang lainnya berpaling ketakutan.

Kembali kulihat mereka para generasi milenial. Seseorang balik menatapku seraya berkata, “Ibu aku takut, medeni bu”.

Seketika aku terdiam teringat kembali akan kejadian beberapa tahun silam. Ketika itu umurku sangatlah belia tak jauh beda dari generasi di hadapanku ini. Saat itu di hari yang sama, aku diwajibkan menonton film yang sama pula. Rasa yang mereka rasakan maupun tatapan mereka sama denganku waktu itu.

Saat ini aku duduk di kursi penuh keagungan, kursi guru yang berarti haruslah digugu lan ditiru. Ragu. Gusar. Bingung. Batinku bergejolak.

Pertentangan itu muncul sudah. Akankah kuhentikan tayangan ini ataukah kubiarkan begitu saja?

Kulirik lagi kertas instruksi itu baik-baik. Helaan nafas panjang meyakinkan diri bahwa diriku tak berkutik. Kupaksakan tayangan itu terus memutar hingga akhir cerita. Tak peduli bagaimana generasi ini melihat dengan tatapan nanarnya.

Dalam hati akupun berkata, “Nak kita beda generasi. Tak peduli betapa terpaut jauhnya umur kita. Tapi lihatlah ternyata kita sama. Sama-sama generasi bentukan lama”.