Demokrasi Kita

Politik

Tahun 1960 Mohammad Hatta menulis sebuah artikel berjudul Demokrasi Kita. Tulisan tersebut berisi keprihatinan Hatta terhadap pelaksanaan demokrasi Indonesia pada masa itu. Bagi Hatta, pelaksanaan demokrasi Indonesia telah melenceng dari cita-cita luhur bangsa ini.

Hatta mengkritik era demokrasi Parlementer (1950-1959) sebagai suatu era dimana para pejabat pemerintahan banyak menyalahgunakan kekuasaanya untuk kepentingan golongan sehingga melupakan rakyat. Ia juga mengkritik tindakan Sukarno yang mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959. Baginya dekrit yang berisi keputusan mengembalikan konstitusi dasar ke UUD 1945 serta pembubaran Konstituante hasil Pemilu 1955 merupakan suatu bentuk kediktatoran.

Hatta tidak hanya pandai mengkritik. Hatta-yang telah mundur dari jabatan wakil presiden sejak 1956, dengan jelas menyerukan kepada para pemimpin negara pada saat itu untuk kembali kepada demokrasi Indonesia. Demokrasi Indonesia adalah demokrasi yang bertujuan untuk menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Demokrasi Indonesia menurut Hatta harus melingkupi tiga aspek. Pertama, demokrasi Indonesia harus sesuai dengan sosialisme Barat dimana dasar-dasar kemanusiaan menjadi sesuatu yang dijunjung tinggi. Kedua demokrasi Indonesia harus sesuai dengan nilai-nilai Islam dimana persaudaraan antar sesama makhluk Tuhan menjadi sesuatu yang diutamakan. Ketiga bahwa masyarakat Indonesia harus dibentuk berdasarkan asas kolektivisme dan bukan individualisme.

Perpaduan ketiga aspek tersebut yang kemudian menjadi konsep dasar demokrasi Indonesia. Melalui demokrasi Indonesia yang dilaksanakan secara gotong-royong inilah cita-cita luhur bangsa Indonesia seperti yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 dapat terwujud.

Tulisan Hatta memang telah berusia setengah abad lebih, namun tak ada salahnya jika kita merefleksikan jalanya demokrasi di era reformasi ini. Pasca runtuhnya rezim Orde Baru, rakyat Indonesia mengalami euforia yang luar biasa terutama dalam bidang politik. Rakyat seolah ingin berpartisipasi aktif dalam setiap proses politik, sesuatu yang sulit ditemukan pada masa Orde Baru.

Tak heran jika partai politik, sebagai satu-satunya sarana politik praktis tumbuh pesat bak jamur di musim hujan. Sebagai contoh, pemilu pertama pada masa reformasi yang diselenggarakan tahun 1999 bahkan diikuti oleh 48 partai. Sebuah rekor peserta pemilu di Indonesia.

Idealnya partisipasi politik rakyat yang diwakili oleh partai politik ini akan mampu mewujudkan kesejahteraan rakyat. Akan tetapi kenyataan yang terjadi justru kebalikanya. Kader partai politik yang duduk di DPR ataupun kabinet justru kerapkali mengingkari amanah rakyat yang dipegangnya.

Saat rakyat sedang sibuk bekerja berpeluh keringat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, kader-kader partai politik yang duduk di pemerintahan justru sibuk memikirkan bagaimana menutup tingginya biaya politik untuk mencapai kekuasaan.

Alih-alih menggunakan uang rakyat untuk meningkatkan kesejahteraan, mereka justru menyalahgunakan uang tersebut untuk kepentingan pribadi dan partai. Suatu kondisi yang sangat bertentangan dengan tujuan demokrasi itu sendiri. Parahnya hal tersebut terus berlangsung hingga saat ini.

Wajah buruk demokrasi kita tentu menciptakan iklim pemerintahan yang sama bobroknya. Tidak heran ketika para kader partai yang sekarang berada di pemerintahan justru lebih mementingkan diri serta partainya.

Rakyat selalu menjadi pertimbangan kesekian dalam pengambilan keputusan. Hatta sendiri dalam tulisannya menyebut kondisi seperti ini dengan ungkapan “masuk partai bukan karena keyakinan, akan tetapi masuk partai karena ingin jaminan”.

Bangsa Indonesia saat ini tengah memasuki tahun politik. Pilkada serentak 2018 serta Pemilu Legislatif dan Presiden 2019 sudah di depan mata. Rakyat tentu sudah bosan akan janji yang diobral politisi dan partai politik selama masa kampanye. Perubahan ke arah yang lebih baik hanya akan terwujud apabila kita kembali memahami dan mengamalkan kembali nilai-nilai demokrasi Indonesia seperti yang disampaikan Hatta.

Apabila nilai-nilai tersebut kembali diamalkan maka kita boleh berkeyakinan bahwa bangsa Indonesia akan semakin dekat dengan cita-cita luhur yang sedari dulu dicita-citakan founding father bangsa ini termasuk Hatta. Semoga ini tidak hanya akan menjadi mimpi di siang bolong.

 

Sumber Gambar