Dehumanisasi Dalam Pendidikan

Wiyata

Ada beragam definisi mengenai pendidikan. Salah satu yang sering kita dengar bahwa pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia. Definisi ini tentu menimbulkan beragam penafsiran kalau tidak mau disebut problematis. Satu hal yang sering menjadi pertayaan adalah, Apa yang dimaksud dengan memanusiakan manusia? Lantas manusia seperti apakah yang diharapkan dari proses pendidikan? Berbagai pertanyaan tersebut tentu menarik untuk dikaji lebih lanjut terutama jika dikaitkan dengan perkembangan dunia pendidikan di zaman modern seperti saat ini.

Salah satu tokoh yang memberikan definisi tentang pendidikan adalah Driyarkara. Pendidikan menurut Driyarkara berkaitan erat dengan homonisasi dan humanisasi (Yohanes Sevi Dohut, Jurnal Driyarkara, No. 2, 2013: 30-31). Homonisasi adalah proses penjadian manusia yang terjadi pada setiap manusia sepanjang hayatnya. Homonisasi ini mengacu pada perkembangan biologis dan psikologis manusia. Homonisasi ini merupakan perkembangan dasar manusia menuju humanisasi. Humanisasi identik dengan proses pembudayaan.

Pembudayaan ini mencakup empat dimensi; pertama dimensi ekonomis agar manusia memiliki kemampuan mengolah barang yang berguna bagi dirinya; kedua dimensi teknik yang memungkinkan manusia memanfaatkan potensi yang ada pada barang tersebut; ketiga dimensi kebudayaan yaitu ekspresi diri, rasa, cinta, dan jiwa manusia saat mengolah dunia materi; keempat dimensi peradaban yaitu agar manusia mengenali segala yang baik dalam kehidupannya baik secara individu maupun kolektif. Keempat hal tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak boleh terpisahkan. Homonisasi dan humanisasi itulah yang memiliki kesamaan arti dengan memanusiakan manusia.

Paradigma pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia mengalami pergeseran di zaman modern. Zaman modern secara historis dimulai di Eropa sejak zaman renaissance antara abad ke 14 hingga 17yang diperkuat pada zaman aufklarung sekitar abad 18. Salah satu ciri yang melekat pada zaman modern adalah munculnya dominasi akal pikiran (rasio) manusia. Rasionalisasi ini menciptakan jarak antara manusia terhadap segala sesuatu diluar dirinya (F Budi Hardiman, 2003: 73). Paradigma manusia modern cenderung menggunakan rasionya sebagai alat untuk mendominasi alam dan bahkan manusia lain. (Max Horkheimer & Theodor W Adorno, 2014: 30). Manusia adalah subyek mutlak sementara sesuatu diluar dirinya, termasuk orang lain merupakan obyek yang dapat dimanipulasi sekaligus dieksploitasi sesuai dengan kehendak sang subjek. Tanggung jawab untuk mengutamakan kebaikan selama mengolah obyek praktis manghilang dalam paradigma manusia modern. Sebagai contoh, manusia saat ini cenderung mengeksploitasi alam untuk memperoleh keuntungan ekonomi sebanyak-banyaknya. Ironisnya, kerusakan alam yang diakibatkan oleh eksploitasi tersebut cenderung diabaikan.

Zaman modern juga ditandai dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan alam yang tumbuh sangat cepat. Perkembangan teknologi menawarkan pengandaian bahwa manusia mampu mengembangkan dirinya tanpa batas secara kuantitatif (A Setyo Wibowo, 2014: 255). Pengandaian seperti ini membuat manusia terjebak dalam hasrat untuk merangkul segala sesuatu yang dianggap mampu membantu pengembangan dirinya. Hal tersebut justru menanggalkan aspek pemanusiaan dirinya maupun tanggung jawab sosialnya karena terfokus pemenuhan hasrat dirinya sendiri. Inilah yang menjadi pangkal krisis kemanusiaan pada zaman modern.

Krisis kemanusiaan pada zaman modern ini berdampak pada pergeseran paradigma pendidikan khususnya pendidikan formal. Pola pikir teknis sebagai hasil perkembangan teknologi membuat peserta didik seringkali dianggap sebagai harddisk kosong. Sementara guru berperan sebagai operator yang mengunduh berbagai program agar harddisk tersebut terisi. (A Setyo Wibowo, 2014: 257). Analogi tersebut menggambarkan bahwa pembelajaran di sekolah selama ini masih berpusat pada guru (teacher center) dan belum berpusat pada siswa (student center). Akibatnya kemampuan berfikir kritis serta daya kreatif siswa sulit berkembang karena siswa terbiasa menerima ilmu dari guru dan tidak diberi kesempatan mengembangkan dirinya.

Peminggiran aspek kemanusiaan diperparah dengan semakin berkembangnya sektor pendidikan formal yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan tenaga kerja. Perkembangan Kapitalisme dan industri multinasional mengakibatkan peningkatan signifikan pula terhadap kebutuhan tenaga kerja. Sektor pendidikan formal terutama sekolah vokasi semakin berkembang untuk memenuhi besarnya kebutuhan tenaga kerja (A. Sudiarja, 2014: 70). Dampaknya kemudian perubahan orientasi pendidikan formal yang lebih bertujuan untuk membekali peserta didik dengan kemampuan teknis agar mampu bersaing dalam dunia kerja.  Sejalan dengan hal tersebut, porsi pendidikan moral untuk membentuk karakter peserta didik menjadi semakin terabaikan karena dianggap tidak relevam dengan kebutuhan pasar.

Berbagai macam persoalan tersebut menunjukkan pergeseran makna pendidikan di zaman modern seperti saat ini. Pendidikan bukan lagi bertujuan untuk menghasilkan manusia unggul yang memiliki kesadaran akan merawat hal-hal baik dalam dirinya maupun di lingkungannya. Orientasi pendidikan modern justru lebih mengutamakan kebutuhan untuk mencetak tenaga kerja agar mampu bersaing dalam dunia industri. Parahnya lagi, selama proses pendidikan peserta didik justru dijadikan obyek yang dapat dimanipulasi sesuai dengan kebutuhan pasar. Obyektivikasi peserta didik jelas berlawanan dengan aspek pemanusiaan yang seharusnya menjadi orientasi utama pendidikan. Inilah gejala dehumanisasi yang terjadi dalam dunia pendidikan saat ini.

Pertanyaannya kemudian apa langkah yang mungkin dilakukan untuk mengantisipasi dehumanisasi pendidikan saat ini? Saya mengajak untuk menengok kembali gagasan yang pernah dikemukakan filsuf Yunani, Plato. Menurut Plato pendidikan terdiri dari dua hal mendasar; pertama, pembentukan sensibilitas anak, kedua proses imitasi.

Pertama peserta didik diarahkan agar mampu mengasah sensibilitasnya. Hal ini dapat dilakukan sejak peserta didik masih menempuh tingkat taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Sensibilitas diasah melalui pendidikan mousike. Mousike merupakan istilah dalam bahasa Yunani kuno yang merujuk pada segala macam karya seni dan sastra (A Setyo Wibowo: 307). Pendidikan mousike dapat mencakup berbagai macam karya seperti dongeng, puisi, drama, dan musik. Berbagai macam karya tersebut dipilih mana yang mengandung nilai-nilai kebajikan untuk diajarkan kepada peserta didik. Melalui hal tersebut harapannya peserta didik mulai mencintai keelokan serta kebaikan sehingga mau mempraktekkan hal tersebut. Selain itu, peserta didik dapat dihindarkan dari hal-hal yang bersifat keburukan dan kejahatan.

Kedua peserta didik diberikan inspirasi bagaimana sosok manusia yang ideal melalui proses imitasi. Hal ini dapat dilakukan untuk peserta didik yang telah menempuh bangku sekolah menengah. Guru memiliki peran penting dalam proses ini. Pada langkah pertama, guru harus mampu mendekonstruksi materi pembelajaran agar dapat menentukan framing strategy dalam pembelajaran (Hermanu Joebagio, Makalah, 2013). Framing strategy adalah strategi yang digunakan untuk menggali wacana tertentu untuk diaplikasikan dalam pembelajaran. Guru harus mampu membimbing siswa menemukan nilai dan kebajikan dalam suatu materi pembelajaran. Hal tersebut kemudian diaplikasikan dalam proses pembelajaran yang inspiratif. Proses pembelajaran yang dirancang hendaknya berpusat pada siswa (student center) sehingga peserta didik mampu secara kreatif menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam suatu materi pembelajaran.

Langkah selanjutnya yang tidak kalah penting adalah guru harus memberi contoh kepada siswa bagaimana penerapan sikap tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini wajib dilakukan karena guru tidak hanya memiliki kewajiban memberikan pengetahuan kepada siswa saja namun juga perlu memberikan contoh bagaimana berperilaku yang baik kepada siswa. Dengan demikian perubahan materi pembelajaran serta contoh yang diberikan guru diharapkan mampu memberi inspirasi bagi siswa sehingga dapat mengasah perkembangan moralnya.

Pada akhirnya menjadi tanggung jawab kita semua untuk mengembalikan makna sesungguhnya pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia. Hal ini penting karena apabila tidak dilakukan secara serius maka dehumanisasi dalam pendidikan akan terus terjadi. Gagasan Plato diatas tentu masih jauh dari kata cukup untuk menyelesaikan persoalan ini sehingga perlu kajian dan diskusi lebih lanjut. Semoga kedepannya akan ada perhatian yang lebih serius dari berbagai pihak agar persoalan ini segera terselesaikan.

Sumber Gambar: link

Kepustakaan

A.Setyo Wibowo. (2014). Mendidik Pemimpin dan Negarawan, Yogyakarta: Lamalera

A.Sudiarja. (2014). Pendidikan dalam Tantangan Zaman, Yogyakarta: Kanisius.

F. Budi Hardiman. (2003). Melampaui Positivisme dan Modernitas, Yogyakarta: Kanisius.

Hermanu Joebagio, Tantangan Pembelajaran Sejarah di Era Global. disampaikan dalam seminar nasional Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah UNY dengan tema “Problematika Pendidikan Nasional dalam Menghadapi Tantangan di Era Global”, Yogyakarta, 25 September 2013.

Max Horkheimer & Theodor W Adorno. (2014). Dialektika Pencerahan. (Terj: Ahmad Sahidah), Yogyakarta: DIVA Press.