Petani Klaten Melawan: Gerakan Aksi Sefihak di Wonosari, Klaten

Memasuki wilayah Kabupaten Klaten, sudah jarang ditemukan hamparan sawah yang luas di kanan dan kiri sepanjang Jalan Jogja-Solo. Lahan-lahan produktif yang dulu sempat menjadi salah satu penyuplai beras terbesar di Indonesia sekarang sudah disulap menjadi bangunan-bangunan rumah ataupun area bisnis. Pemandangan berbeda dapat ditemukan ketika memasuki wilayah Kecamatan Delanggu, hamparan sawah yang luas masih ditemukan […]

Continue Reading

Demokrasi Kita

Tahun 1960 Mohammad Hatta menulis sebuah artikel berjudul Demokrasi Kita. Tulisan tersebut berisi keprihatinan Hatta terhadap pelaksanaan demokrasi Indonesia pada masa itu. Bagi Hatta, pelaksanaan demokrasi Indonesia telah melenceng dari cita-cita luhur bangsa ini. Hatta mengkritik era demokrasi Parlementer (1950-1959) sebagai suatu era dimana para pejabat pemerintahan banyak menyalahgunakan kekuasaanya untuk kepentingan golongan sehingga melupakan […]

Continue Reading
Romusha

Orang Eropa di Bawah Tirani Fasis

Ketika Jepang mulai memasuki Indonesia 8 Maret tahun 1942, sebenarnya pihak Belanda sudah bersiap untuk berperang melawan guna mempertahankan kekuasaan sampai titik darah penghabisan. Namun, kebulatan tekad dari Belanda itu sirna ketika melihat keganasan militer Jepang saat menyerang mereka secara terus menerus. Ya, Belanda kalah dan takluk ke Jepang. Ada yang tertawan, ada juga yang […]

Continue Reading

PKI: Merawat Ideologi Dengan Kaderisasi Melek Huruf

Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan bagian dari sejarah Indonesia yang tidak dapat dilupakan atau bahkan dihilangkan. Kiprah PKI mulai dari berdirinya sampai dengan runtuhnya selalu menarik untuk dicermati lebih dalam. John Rossa mengatakan, “PKI akan selalu berbeda karena ia adalah Komunisme di luar Eropa, di sebuah masyarakat agraria yang besar dengan banyak tradisi-tradisi pra-modernnya.” Banyak […]

Continue Reading

Sejarawan dan Kekuasaan

Menulis sejarah, terutama sejarah nasional, bukan sekedar kegiatan intelektual atau akademis, tetapi juga kegiatan yang bermakna politis Penyusunan narasi sejarah memiliki hubungan yang sangat erat dengan kekuasaan. “Menulis sejarah, terutama sejarah nasional, bukan sekedar kegiatan intelektual atau akademis, tetapi juga kegiatan yang bermakna politis” demikian menurut Henk Schulte Nordholt, dkk dalam buku Perspektif Baru Penulisan […]

Continue Reading

Fasisme: Benci Tapi RIndu Jua

Belakangan kita cukup sering mendengar bahwa Indonesia tengah menghadapi ancaman dari isme-isme tertentu. Tidak jarang aparat pemerintah angkat bicara memaparkan apa saja isme itu. Secara umum, kita lalu mengenalnya sebagai paham radikal. Isme yang mencolok masuk dalam daftar hitam ini setidaknya dapat kita kelompokkan menjadi dua jenis. Pertama Fundamentalisme agama yang mendorong Terorisme dan hancurnya […]

Continue Reading

Memikir Ulang Pergerakan

“Pergerakan tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Seseorang atau kelompok yang ingin mewujudkan cita-citanya melalui sebuah gerakan harus memiliki landasan serta pedoman yang kuat. . .” Pergerakan merupakan kata yang sering muncul dalam ruang publik kita. Kata pergerakan seringkali dimunculkan dalam wacana sosial-politik bangsa ini. Tetapi apa yang sebenarnya dimaksud dengan pergerakan? Apakah ia merupakan suatu […]

Continue Reading

Sukarno Termakan Hoaks!

Tulisan-tulisan Sukarno dan Hatta yang sangat hangat dalam berdiskusi terdapat dalam koran-koran fikiran ra’jat dan Utusan Indonesia. Agar lebih mudahnya pembaca dapat menemukan tulisan tersebut dalam buku Dibawah Bendera Revolusi Jilid I dan buku Otobiografi Mohammad Hatta: Untuk Negeriku. Kedua buku tersebut menjelaskan perbedaan pendapat dan diskusi hangat antara Sukarno dan Hatta. Perdebatan tersebut diawali […]

Continue Reading

Sejarah Kaum Terpelajar

Sudah rahasia umum bahwa kemajuan pendidikan bangsa Indonesia dimulai sejak munculnya kebijakan politik etis. Kebijakan politik etis memang memberikan ruang pendidikan bagi bangsa Indonesia, meskipun penuh dengan ciri khas diskriminasi yang kental. Pendidikan barat yang kemudian memiliki tujuan memperadabkan bangsa Indonesia kemudian menjadi buah simalakama bagi pemerintah jajahan. Tokoh-tokoh besar lahir dan menuntut keadilan yang […]

Continue Reading

Kedatangan Jepang dan Tonggak Awal Fasisme di Indonesia

Kalijati, 8 Maret 1942, atas nama pemerintah Kolonial Belanda, Jenderal Hein Ter Porten, Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda untuk Wilayah Jawa menyerahkan kekuasaan Hindia-Belanda kepada Jenderal Hitoshi Imamura, Panglima Tentara ke-16 Kekaisaran Jepang untuk wilayah Jawa. Selepas kapitulasi mendadak ini, Indonesia jatuh ke tangan Militer Jepang yang kemudian membagi Indonesia menjadi 3 wilayah. Wilayah pertama […]

Continue Reading