Bukti Sembilan Wali Bermahdzab Syafi’iyah

Klasik

Dalam interaksi Jawi dengan Islam, Ibnu Batuta dari Tangiers mengklaim pada sekitar 1345 bahwa penguasa Samudra Pasai menganut madzhab Syafi’i. dalam Hikayat Raja Pasai, Raja Merah Silu (yang kemudian menjadi Malik al-Shalih) menerima seorang Syekh dari Arab untuk mengesahkan perpindahan agamanya. Pengesahan ini mencerminkan perhatian istana terhadap kota tersebut sebagai kediaman keluarga Nabi.[1]

Membahas wacana keislaman di kawasan Jawi tidaklah terlepas dari telaah teks dan literatur tentang Islam. Teks yang penting di awal proses masuknya Islam di Jawi adalah kitab “al-Duur al-Mandzum”. Teks yang dibawa Maulana Abu Bakr yang diajarkan langsung kepada Sultan Mansur Shah (berkuasa 1456-1477). Kandungan risalah ini menjelaskan mengenai esensi (dzat) Tuhan dan berbagai atributnya (sifat-Nya), yang ditambahi satu bagian lain mengenai tindakan-tindakan-Nya (af’al).[2]

Sedangkan di Jawa, bandar-bandar seperti Gresik dan Tuban muncul di pesisir utara Jawa di bawah pengaruh orang-orang kuat yang sekarang dikenal dengan istilah “Wali”, berasal dari kata bahasa Arab yang menyiratkan kedekatan dengan Tuhan. Tak diragukan lagi diskusi tentang sejarah Islam di Nusantara tak akan lengkap tanpa menyebut “Sembilan Wali”, yang dihubungkan dengan Islamisasi di Jawa. Mereka meliputi Malik Ibrahim, Sunan Bonang, Sunan Ampel, Sunan Drajad, dan Sunan Kalijaga. Nama yang disebut pertama, juga dikenal sebagai Maulana Maghribi, merupakan orang Arab yang tiba sekitar tahun 1404 dari Champa (Vietnam) dan meninggal di Gresik pada tahun 1419.[3]

Dalam hubungannya dengan paham ahlussunnah wal jama’ah, Muhyiddin Abdussomad dalam “Hujjah al-Qoth’iyyah fi Sihhat al-Mu’takidat wa al-‘Amaliyyat al-Nahdliyyah” menukil pendapat dari Abdullah bin Nuh bahwa lafadz “Sunan” merupakan gelar kemuliaan yang dianugerahkan kepada raja-raja dan ulama besar yang menyebarkan Islam di Jawa.[4]

Bukti bahwa “Sembilan wali” merupakan ulama madzhab Syafi’i yaitu adanya nasab Malik Ibrahim yang merupakan garis keluarga ‘Alawiyyin (Malik Ibrahim bin Barkat Zain al-‘Alim bin Jamal al-Din al-Husaini bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qosim bin ‘Alawi bin Muhammad bin ‘Alawi).[5]

Bukti lain yaitu dari perilaku-perilaku dalam keagamaan yang sampai sekarang masih dilestarikan, seperti adzan dua kali saat shalat Jum’at, pembacaan “Tarhim” (pujian) sebelum shalat Subuh, shalat tarawih berjamaah di bulan Ramadhan yang berjumlah 20 rakaat, dan pembacaan nama 4 khalifah di setiap dua rakaat.[6]

[1] Michael Laffan, “Sejarah Islam di Nusantaraterj “The Making of Indonesian Islam”, (Yogyakarta: Bentang Pustaka), 2015, hlm 5.

[2] Ibid., hlm 7.

[3] Ibid., hlm 8.

[4] Muhyiddin Abdussomad. “Hujjah al-Qoth’iyyah fi Sihhat al-Mu’takidat wa al-‘Amaliyyat al-Nahdliyyah”, (Surabaya: Kalista), 2009, hlm 15-16.

[5] Ibid., hlm 16.

[6] Ibid., hlm 17.