KETIKA KELUAR FATWA LARANGAN MENYERUPAI ORANG BELANDA

Bagi sebagian orang memelihara jenggot merupakan bagian dari menjalankan ajaran agama atau sunnah. Hal ini dapat dimaklumi jika dalam membaca hadis di atas tidak berdasarkan pada kajian konteks sosio-historisnya atau asbab al-wurud. Karena itu jika memperhatikan konteksnya maka akan ditemukan pengetahuan bahwa perintah memanjangkan jenggot yang disampaikan Rasulullah bagian dari bentuk perlawanan terhadap orang-orang musyrik […]

Continue Reading

POLEMIK GERAKAN WAHABIYAH

Pada penghujung abad kedelapan belas, para cendekiawan Jawi terkemuka menjalin hubungan dengan wacana “Mekah” yang tengah bangkit dan menegaskan kembali norma-norma Ghazalian yang memisahkan hukum dan mistisisme. Menurut Michael Laffan dalam buku Sejarah Islam di Nusantara, sebagiannya kemudian memungkinkan bentuk-bentuk Islam ortodoks, yang mewujud dalam madrasah, bagi kaum beriman yang terdidik, dan tarekat bagi yang […]

Continue Reading

NAHDLATUL ULAMA DAN KONSENSUS PAHAM AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

Hingga akhir abad kesembilan belas dan awal abad dua puluh, banyak ulama Indonesia yang berangkat haji dan memperdalam ilmu keagamaan mereka. Oleh karena itu, karekteristik keilmuan dan pemahaman keagamaan ulama di Indonesia banyak dipengaruhi oleh guru-guru mereka ketika mukim di Mekah, termasuk bentuk penolakan pada suatu paham tertentu. Dalam keterangan lebih lanjut, Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari […]

Continue Reading

BUKTI SEMBILAN WALI BERMAHDZAB SYAFI’IYAH

Dalam interaksi Jawi dengan Islam, Ibnu Batuta dari Tangiers mengklaim pada sekitar 1345 bahwa penguasa Samudra Pasai menganut madzhab Syafi’i. dalam Hikayat Raja Pasai, Raja Merah Silu (yang kemudian menjadi Malik al-Shalih) menerima seorang Syekh dari Arab untuk mengesahkan perpindahan agamanya. Pengesahan ini mencerminkan perhatian istana terhadap kota tersebut sebagai kediaman keluarga Nabi.[1] Membahas wacana […]

Continue Reading