Arifin C. Noer: Sutradara Dibalik Film Pengkhianatan G 30S/PKI

Tokoh

“Data yang didapat lebih banyak dari TNI dari pada data dari pihak PKI, baik keturunan maupun simpatisannya.”

 

Film Pengkhianatan G 30 S/PKI yang sedang ngehits di akhir bulan Sepetember telah memberikan beragam tanggapan bagi masyarakat Indonesia tentang ingatan dan pemahaman peristiwa 30 September 1965. Dibalik film yang kembali booming tidak terlepas siapa orang-orang yang terlibat di dalam pembuatan film ini.

Katherine McGregor dalam buku Ketika Sejarah Berseragam mengungkapkan bahwa dalam pembuatan film ini ada tokoh-tokoh penting di dalamnya yaitu Nugroho Notosusanto sebagai penyunting, dimana penelitian versinya tentang kudeta menjadi dasar utama untuk pembuatan naskah film; Brigadir Jenderal Gufron Dwipayana, seorang terpercaya staff kepresidenan yang menjabat sebagai Direktur Perusahaan Film Nasioanal; Arifin C. Noer sebagai sutradara film ini. McGregor menguatkan bahwa film ini diperiksa terlebih dahulu oleh mereka yang terlibat, seperti Presiden Soeharto, Jenderal Sarwo Edhie, dan oleh tokoh-tokoh militer senior yang lain sebelum diputar.

Arifin Chairin Noer atau lebih dikenal dengan Arifin C. Noer menjadi sosok yang terpenting dari ketiganya karena dialah yang menjalankan produksi film tersebut sebagai sutradara. Arifin lahir pada 10 Maret 1941 dan meninggal pada 28 Mei 1995 pada usia 54 tahun. Arifin sudah menulis cerpen dan puisi sejak SMP di SMP Muhammaidyah Cirebon.

Ketika SMA pindah ke SMA Jurnalistik Solo, di Solo ia bergabung dengan Lingkaran Drama Rendra dan menjadi anggota Himpunan Sastrawan Surakarta. Naskah karyanya, Lampu Neon atau Nenek Tercinta, memenangkan sayembara Teater Muslim. Saat melanjutkan kuliah di Universitas Cokroaminoto, dia bergabung dengan Teater Muslim pimpinan Mohammad Diponegoro. Kemudian pindah ke Jakarta dan mendirikan Teater Kecil tahun 1968.

Ketika berada di Teater Kecil inilah Arifin melalui karya-karyanya dianggap memberikan sumbangan besar bagi perkembangan seni peran di Indonesia dan menunjukan eksistensinya sebagai salah satu pencetus bentuk teater modern Indonesia. Arifin kemudian berkiprah di layar lebar sebagai sutradara, beragam penghargaan ia terima melalui karya-karyanya seperti film Serangan Fajar yang dinilai sebagai film terbaik 1982 di Festival Film Indonesia. Melalui film kontroversialnya Pengkhianatan G 30 S/PKI tahun 1984 Arifin meraih Piala Citra sebagai penulis skenario terbaik. Tampaknya kesuksesan Arifin di layar lebar dipengaruhi banyak oleh kemampuan dasarnya di dunia teater.

Keterlibatan Arifin dalam film in cukup menarik, Hidayat LPD seorang sahabat Arifin mengungkapkan dalam Republika (21/9) bahwa “Arifin sebagai seorang sutradara pada waktu itu menyanggupi untuk membuat film tersebut karena dia meyakini atas pembunuhan sadis yang terjadi. Hidayat menambahkan, Arifin selama dalam pementasannya bersama Teater Muslim di Yogyakarta tema pertunjukkannya selalu kontra dengan tema teater milik Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang mementaskan lakon Patine Gusti Allah, Gusti Allah Mantu, dll.

Teater Muslim memilih mementaskan karya bertema Islami seperti lakon Iblis karya Mohammad Diponegoro. Arifin sejak dahulu sudah berseberangan dengan kelompok seniman Lekra.”Sejak awal karirnya di dunia teater ternyata Arifin sudah berseberangan dengan kelompok Lekra. Salah satu alasan penunjukkan Arifin menjadi sutradara pada waktu itu karena Arifin dinilai tidak memiliki afiliasi ke organisasi manapun.

Arifin menyutradarai film ini ketika berusia 43 tahun. Jajang C. Noer istri dari Arifin menjelaskan dalam Tempo (23/9) Arifin mengerjakan film ini dengan sungguh-sungguh dan memperhatikan setiap detail adegan. Jajang menambahkan Arifin dan tim menghabiskan waktu kurang lebih dua tahun untuk riset dan produksi film. Pengambilan gambar cukup lama karena di setiap tempat memakan waktu yang tidak sebentar. “Di setiap rumah jenderal saja, menghabiskan waktu satu minggu,” jelasnya.

Jajang mengatakan Arifin membuat film Pengkhianatan G 30 S/PKI atas dasar kecintaan kepada bangsa. Pada saat itu membuat film bertema sejarah merupakan hal yang berat karena berhubungan dengan sulitnya riset dan data. Data yang digunakan adalah data yang ada pada saat itu. Lebih lanjut Jajang mejelaskan, salah satu riset yang dilakukan Arifin yakni menemui Sjam Kamaruzzaman, anggota PKI di penjara Salemba, Jakarta.

Pertemuan Arifin dengan Sjam untuk mengetahui karakter D.N. Aidit. Data yang didapat lebih banyak dari TNI dari pada data dari pihak PKI, baik keturunan maupun simpatisannya. Dalam acara Indonesia Lawyers Club yang disiarkan salah satu stasiun televisi swasta Selasa (19/9/2017). Jajang mengungkapkan bahwa pembuatan film ini tidak diawasi oleh pemerintah saat itu. Jajang tidak membantah jika film tersebut memang betul pesanan pemerintah. Namun, menjawab spekulasi yang beredar bahwa film itu diawasi dengan ketat, dirinya membantah hal tersebut. Jajang menambahkan Arifin tidak menyangka jika kemudian film tersebut dijadikan propaganda pemerintah saat itu.

Eros Djarot dalam Siapa Sebenarnya Soeharto: Fakta dan Kesaksian Para Pelaku Sejarah G-30-S/PKI, menjelaskan bahwa “Arifin mengungkapkan kekecewaan terhadap film Pengkhianatan G 30 S/PKI yang hanya ada satu versi sampai akhir kekuasaan Soeharto. Film hasil rekontruksi visual dari Soeharto.” Pengungkapan Jajang terhadap hasil riset yang digunakan pada waktu produksi film ini yang menyatakan bahwa“data yang didapat lebih banyak dari TNI daripada data dari pihak PKI” setidaknya menjawab pertanyaan kenapa film ini selalu kontroversi, dan wajar saja jika pada akhirnya Arifin pun merasa kecewa ketika film ini digunakan sebagai alat propaganda.

 

Sumber Gambar: link