AMIN DAN SEPETAK TANAH

Sastra

Di sebuah gubuk, Amin dan istrinya menatap sama-sama terdiam. Keduanya memandangi kuning dari hijaunya tanaman padi yang sudah siap panen. Hari itu matahari tak nampak garang, angin bersuka ria bermain bersama capung belalang dan capung. Adzan ashar terdengar, menandakan waktu sekira pukul 15:35. Sang istri yang sedari siang berada di sana sebab mengantar makan siang untuk suami tercintanya, pamit hendak pulang.

“aku pulang ya pak”,
“sudah!, kita yang sabar saja”, kata sang istri.
“ya”, jawab Amin lemah.

Sang istri merapikan kembali susunan rantang, kenakan caping tuanya kemudian meninggalkan Amin yang masih terpaku. Amin yang kini seorang diri, mencoba pergi dari alam lamunan. Tangan kanannya meraih sebuah batu yang dililiti oleh senar kemudian menarik-ulur senar. Menggoyang-goyangkan kaleng-kaleng yang berada di tengah dan di sisi seberang sawah. Ia mulai aktivitasnya, membuat bunyi-bunyi guna mengusir hama burung.

Perlahan, ia mendapati dirinya sekembali dari alam lamunan yang justru melemahkannya. Diambilnya sebatang dari sebuah bungkusan kertas. Sebatang itu diletakkan diantara kedua mulutnya, disulut dengan korek api gas dan hisapan dalamnya hembuskan kepulan asap beraroma khas. Suara goyangan kaleng-kaleng kembali ramai terdengar, bersaing dengan suara pepohonan bambu yang bergoyang, bersenggolan sesama bambu.

Kurang dari waktu satu minggu, hamparan tanaman padi yang sungguh menyejukkan mata dan juga menyejukkan hati si petani dan keluarganya ini akan tiada. Kurang dari waktu itu pula, Amin menarik-ulur senar hasil karyanya, berkompetisi dengan hama burung, berebut butir-butir padi. Hitungan mundur sang waktu itulah yang membuat Amin resah. Hitungan mundur sang waktu yang kini membuat Amin kerap diam, melamun.

Amin seorang yang rajin dan semangat dalam bekerja. Ia tak senang bermalas-malasan di rumah. Ia ke sawah lebih awal dari yang lainnya. Dan jika hari-hari sekolah, ia menuju sawah berbarengan dengan putri semata wayangnya. Berdua, berjalan beriringan bersama. Amin memanggul cangkul, menenteng sabit sedangkan sang putri menggendong ransel, menenteng bekal. Di perjalanan menuju sawah, Amin sering menjadi yang pertama dalam menyapa orang-orang, tak pandang ia kenal atau tidak. Keramahan dan kesopanannya membuat Amin mendapat perlakuan baik pula oleh warga satu kampung.

Langit mulai menampakkan semburat warna merah, pertanda hari mulai petang. Amin masih lemah membuat langkah. Dipanggulnya cangkul, dikenakannya caping tua yang entah sudah berapa tahun melindunginya dari terik matahari dan hujan. Ditengoknya lagi hamparan tanaman padi, buah hasil olahannya. Ia berjalan, pulang. Kembali ia terjebak tak sadar dalam lamunan. Terbayang olehnya wajah sang istri, sang buah hati dan hamparan tanaman padi. Teringat ia akan ucapan Pak Karta, sang pemilik tanah yang diolah olehnya.

“mas Amin, mohon maaf…”,
“setelah besok panen, tanah ini mau saya jual…”,
“anak pertama saya mau masuk kuliah jadi perlu biaya yang tidak sedikit.”, ucapan pak Karta yang seperti merasa bersalah.
Tubuh Amin gontai berjalan pulang.

Di halaman rumahnya, sang istri dan sang buah hati sudah menunggu teras depan rumah. Sang istri dan sang buah hati duduk di sebuah dipan kayu. Sang istri senyumnya merekah, bahagia. Amin seharusnya senang, menyaksikan sang istri dan sang buah hati menunggunya di depan rumah selepas seharian bekerja. Namun, raut wajah Amin datar-datar saja. Sesampainya di teras depan rumah, sang istri langsung berdiri dan menarik lengan Amin.
“pak, Alhamdulillah pak..”, kata sang istri
“Alhamdulillah apa?”, Amin menimpali
“pak Pardjo tadi kesini, pak!, dia nawarin kita tanahnya buat diolah sama kita”,
“pak Pardjo yang mau beli tanahnya pak Karta”,
“terus, pak Pardjo tadi kesini minta kita tetep yang ngolah tanah itu pak.”, kata sang istri bersemangat.
“serius?”, “ Amin belum percaya
“serius pak”, jawab sang istri
“Alhamdulillah…”, ucap Amin seraya memeluk istrinya.