Agama Kertanegara

Klasik

Vlekke dalam buku Nusantara menuliskan bahwa Kertanegara dikenal sebagai seorang yang mahir dalam ilmu yang paling gaib. Salah satu ritual keagamaan yang dilakukan hingga akhir hayatnya adalah meminum arak hingga mabuk.

 

 

Indonesia bukan negara agama dalam arti secara resmi menganut agama tertentu atau teks suci sebagai konstitusi. Namun demikian juga bukan negara sekuler yang sepenuhnya memisahkan agama dengan negara. Maka tidak mengherankan jika keagamaan seseorang yang menjadi pejabat negara dianggap sebagai sesuatu yang penting. Rakyat seringkali sangat memperhatikan agama para pejabat publik baik calon maupun yang sudah menjabat. Keagamaan calon pejabat publik seringkali menentukan kemenangannya dalam kontestasi pemilihan umum.

Ada pandangan bahwa keagamaan seorang pejabat publik akan mempengaruhi kebijakan yang diambilnya. Bahkan mungkin lebih luas lagi akan mempengaruhi keadaan sebuah wilayah atau negara yang dipimpinnya. Pandangan tersebut kemungkinan kita warisi dari masa-masa sebelum negara Indonesia ada. Masa ketika Nusantara masih berupa kerajaan-kerajaan. Setidaknya itu bisa kita tangkap dari teks-teks kuno seperti kakawin dan prasasti. Sering dituliskan tentang ritual ibadah seorang raja demi keselamatan negerinya atau demi menambah kekuasaan, kesaktian dan keagungan bagi diri sang raja sendiri. Secara tradisional memang  keagungan sebuah kerajaan dianggap sejalan dengan keagungan sang raja sendiri.

Kertanegara raja terakhir sekaligus yang pernah membawa Singhasari sampai ke batas keagungannya. Bertahta antara 1268 hingga 1292 ia tercatat sebagai raja Jawa pertama yang berani secara keras menolak tunduk kepada Kubilai Khan yang merupakan Penguasa Mongol yang berkedudukan di Tiongkok. Pada masa Kertanegara juga untuk pertama kalinya sebuah kerajaan di Pulau Jawa mengembangkan wawasan kemaritiman. Singhasari mampu melebarkan pengaruhnya hingga ke Sumatra dan Bali. Kertanegara sendiri bahkan kemudian menikahi seorang putri dari Champa.

Secara tradisional pencapaian Kertanegara tidak dilepaskan dari keagamaan atau laku spiritual yang dijalaninya. Vlekke dalam buku Nusantara menuliskan bahwa Kertanegara dikenal sebagai seorang yang mahir dalam ilmu yang paling gaib. Salah satu ritual keagamaan yang dilakukan hingga akhir hayatnya adalah meminum arak hingga mabuk. Vlekkke bersumber dari Pararaton mengisahkan bagaimana Kertanegara terbunuh oleh musuhnya saat sedang larut dalam ritual mabuk arak aren. George Codes dalam bukunya Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha  menyatakan serangan tersebut dilakukan oleh Jayakatwang dari Kediri dan terjadi antara 18 Mei dan 15 Juni 1292 masehi. Kita hari ini tentu sulit memahami ritual keagamaan macam apa yang memerintahkan penganutnya untuk larut dalam kemabukan.

Kita bisa mencoba memahami keagamaan Kertanegara dari temuan arkeologis dan tekstual. Ada temuan sebuah arca di Desa Watutulis, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo yang oleh masyarakat dijuluki sebagai Joko Dolog yang berarti Jejaka Gendut. Arca tersebut sekarang disimpan di Surabaya dan terdaftar dalam inventaris benda cagar budaya Kota Surabaya. Menurut George Coedes Arca Joko merupakan perwujudan Kertanegara sebagai Buddha Aksobhya. Coedes dalam pembacaannya terhadap Pararaton dan Negarakertagama menafsirkan bahwa Kertanegara adalah seorang raja penganut ajaran Buddhisme aliran Tantrisme, ajaran kalacakra yang taat. Ajaran ini tersebar dari Benggala India, ke Tibet, Nepal, hingga akhirnya sampai ke Nusantara khususnya Jawa. Sesampainya di Jawa mengalami sinkretisme dengan Siva-Bhairava menjadi kultus Siva-Buddha. Ketekunan Kertanegara dalam menjalankan ritual kepercayaannya kemungkinan dalam rangka meningkatkan kesaktian mengimbangi Kubilai Khan yang juga mendapatkan kesaktian melalui ritual Tantrayana.

Saat ini ajaran dan laku ritual Tantrisme tidak mudah untuk dipahami mengingat praktiknya yang sudah lenyap khususnya dari Nusantara. Sejarawan dan tokoh Nahdlatul Ulama Agus Sunyoto berusaha merekonstruksi ajaran Tantra khususnya ajaran mo-limo. Menurut ajaran tersebut penganut sekte Tantrayana untuk mendapatkan pembebasan setiap manusia harus melakukan lima tahapan ritual yang disebut dengan Pancamakara. Lima tahapan ritual dimaksud meliputi mamsha (daging), matsya (ikan), madya (minuman keras), maithuna (bersetubuh sepuaspuasnya), dan mudra (bersemedi). Tantrisme berpandangan bahwa pencerahan total dapat diraih justru setelah semua nafsu duniawi dipenuhi. Kemungkinan saat sedang melakukan ritual Pancamakara inilah Kertanegara diserang.

Sepeninggalan Kertanegara Tantrisme khususnya Tantra-Bhairawa terus berkembang bahkan hingga ke Sumatra. Adityawarman penguasa Melayu yang bertahta sekurangnya hingga 1375 menurut George Coedes adalah seorang penganut Tantra aliran kalacakra. Sebuah arca berukuran besar ditemukan pada 1935 dianggap sebagai perwujudan Adityawarman sebagai Bhairawa. Arca tersebut saat ini terdaftar dalam koleksi Museum Nasional.

Tantrisme surut seiring dengan surutnya kekuasaan kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Nusantara dan berkembangnya Islam. Zumrotul Mukaffa dalam tulisannya Sunan Ampel dan Nilai Etis Islam Nusantara: Dari Tantra Bhairawa Kepada Praktik Keagamaan Nir-Kekerasan menyatakan bahwa para pendakwah Islam terutama Sunan Ampel berperan besar dalam mentransformasikan ajaran dan praktik ritual Tantrayana kepada praktik yang selarah ajaran Islam. Mo-limo secara halus ditranformasikan menjadi moh-limo dari lima hal yang harus dilakukan menjadi lima hal yang harus dijauhi.