A.R. Baswedan: Pejuang Indo-Arab yang Moderat

Tokoh

Abdurrachman Rasyid Baswedan memiliki nama lengkap Abdul Rahman Awad Baswedan merupakan cucu dari Arab totok bernama Umar dari Syibam, Hadramaut. Ia lahir pada 9 September 1908 di Kampung Ampel Jawa Timur. Meskipun keluarganya merupakan pedagang, AR. Baswedan dididik dengan aturan Islam dan tradisi leluhurnya secara ketat. Jenjang Pendidikan formalnya dimulai pada usia 5 tahun di Madrasah Alkhairiyah di Surabaya.

Menurut Suratmin dalam Abdul Rahman Baswedan: Karya dan Pengabdiannya, AR. Baswedan sempat melanjutkan pendidikannya di Madrasal Al-Irsyad Jakarta, namun kemudian harus pindah ke Hadramaut School di Surabaya karena kondisi ayahnya yang sakit. Perbedaan perlakuan di sekolah yang diterima berdasarkan golongan dalam keturunan Arab sendiri, memunculkan sikap berontak dalam dirinya. Kelak hal ini sangat mempengaruhi sikapnya saat dewasa.

Meskipun berasal dari keturunan Arab dan terkena kebijakan Belanda berupa Wijkenstelsel dan Passenstelsel, AR. Baswedan tetap berhubungan baik dengan orang pribumi. Wijkenstelsel merupakan peraturan yang menginstruksikan bahwa orang-orang timur asing harus bertempat tinggal pada wilayah tertentu sesuai dengan ras dan komunitasnya. Sementara Passenstelsel merupakan peraturan surat jalan, maksudnya adalah jika orang-orang timur asing mau keluar dari kampung tempat tinggalnya maka harus izin dahulu untuk mendapat surat jalan.

Pemikirannya tentang Arab Peranakan dan Arab Totok, berangkat dari kondisi sosial keturunan Arab di Indonesia yang mengalami perselisihan. Perselisihan tersebut didasari perbedaan pandangan tentang pelestarian adat dan tradisi Hadramaut di Indonesia. Orang-orang Arab Totok cenderung ingin melestarikan adat dan tradisi Hadramaut semurni-murninya, sementara orang Arab Peranakan berpendapat sebaliknya.

Dalam rangka memberi pengertian kepada mereka mengenai pentingnya Indonesia sebagai tempat lahir mereka, AR. Baswedan mempublikasikan fotonya yang berpose dengan pakaian Jawa bersama dengan Soeljoadikusuma dan istrinya. Artikel dan foto tersebut kemudian dimuat dalam harian Mata Hari, Semarang tanggal 1 Agustus 1934. “Dimana saya lahir, disitulah tanah airku”, ungkapannya dalam harian tersebut. Agaknya, hal ini dimaksudkan sebagai wujud kesetiaan orang Arab peranakan kepada tanah air Indonesia.

A.R. Baswedan juga seorang organisatoris yang aktif. Ia tercatat sebagai pendakwah di Muhammadiyah pada usia 17 tahun. Selain itu, ia juga bergabung dalam Jong Islamitten Bond. Meskipun demikian, puncak karir organisasi A.R. Baswedan dicapai saat mendirikan Persatuan Arab Indonesia (PAI) pada tanggal 4 Oktober 1934. Ia lalu didapuk sebagai ketua pertama PAI.

Menurut Prilian Ari Pranowo dalam buku Tanah Air Bahasa, PAI merupakan upaya A.R. Baswedan merealisasikan gagasan Indonesia sebagai tanah air bagi keturunan Arab di Indonesia. Bertepatan dengan pembentukan PAI, dideklarasikan pula Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab. Sumpah tersebut berisi: 1) tanah air Peranakan arab adalah Indonesia (sebelum itu mereka berkeyakinan tanah airnya adalah negeri Arab dan serba berorientasi kesana), 2) karenanya mereka harus meninggalkan kehidupan menyendiri (isolasi), 3) memenuhi kewajibannya terhadap tanah air dan bangsa Indoesia.

PAI semakin berkembang dan kemudian bergabung dalam Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Sayangnya keanggotaan PAI bersifat tidak penuh, sebagaimana keanggotaan Partai Tionghoa Indonesia (PTI). Dalam buku The Idea of Indonesia: Sejarah Pemikiran dan Gagasan, R.E Elson mengungkapkan jika alasan perlakuan terhadap PAI dan PTI tersebut dilatarbelakangi oleh Nasionalisme Indonesia yang masih bersifat rasial pada masa itu.

Meskipun demikian, bergabungnya PAI ke dalam GAPI merupakan suatu langkah maju dalam rangka mewujudkan prinsip tanah air Indonesia bagi Arab peranakan. Harapannya kelak bangsa Indonesia dapat menghapus perbedaan rasial dan lebih menghargai keberagaman etnis yang menjadi kenyataan historis bangsa Indonesia. PAI bagaimanapun menunjukkan peran aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Selain berjuang lewat PAI, A.R. Baswedan juga berjuang melalui bidang jurnalistik. Ia pertama kali aktif sebagai jurnalis di surat kabar Al-Miskah yang berbahasa Arab. Ia kemudian bergabung dalam surat kabar Tionghoa, Sin Tit Po yang pro terhadap gerakan nasional. Bergabungnya A.R. Baswedan di Sin Tit Po tidak lepas dari kedekatannya dengan pendiri PTI, Liem Koen Hian. Selain itu Ia juga aktif dalam berbagai surat kabar seperti di Sadar, Mata Hari, Pemandangan, maupun Al-Haq.

Pada masa pendudukan Jepang, A.R. Baswedan justru dituduh oleh Jepang sebagai antek pemerintah kolonial Belanda. Ia sempat ditahan oleh pemerintah pendudukan Jepang. Setelah penahanannya ditangguhkan, ia ditawari menjadi ketua Arabujinkai. Tawaran tersebut ditolak oleh A.R. Baswedan.

A.R. Baswedan juga pernah menjabat sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) dan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Ia juga pernah ditunjuk sebagai menteri muda penerangan pada masa kabinet Sjahrir. Bahkan bersama Agus Salim, ia pernah menjadi delegasi pencari dukungan pengakuan kedaulatan Republik Indonesia ke Mesir

Menurut Muhammad Husnil dalam buku Melunasi Janji Kemerdekaan: Biografi Anies Rasyid Baswedan, rumah A.R. Baswedan di kompleks Taman Joewana no. 19, Yogyakarta merupakan rumah tempat diskusi lintas iman. Sejumlah tokoh seperti W.S. Rendra (sastrawan), Emha Ainun Najib (sastrawan), Mohammad Natsir (tokoh Masyumi dan pendiri DDII), Romo Dick Hartoko maupun Romo Mangunwijaya pernah berdiskusi di rumah tersebut. Hal tersebut menunjukkan pribadi A.R. Baswedan yang moderat sehingga dapat diterima tokoh dari berbagai kalangan.

Demikianlah kisah A.R. Baswedan, seorang Arab peranakan yang lebih memilih menjadi seorang nasionalis moderat sekaligus memperjuangkan peleburan identitas kearaban sebagai bagian keindonesiaan yang majemuk. A.R. Baswedan wafat di Jakarta tanggal 16 Maret 1986 pada usia 77 tahun.

 

Sumber Gambar: link